Home Opini Belajar Memaknai Karya Sastra Mustofa W Hasyim

Belajar Memaknai Karya Sastra Mustofa W Hasyim

0
0 views

KENDALMU.COM | KENDAL. Bagi warga Muhammadiyah yang berlangganan majalah Suara Muhammadiyah (SM), nama Mustofa W Hasyim sudah tidak asing lagi di telinga. Beliau adalah salah satu redaktur pelaksana Majalah Suara Muhammadiyah, penyair, dan novelis. Di Suara Muhammadiyah sendiri beliau menjabat sebagai sekretaris dewan redaksi SM, disamping pengasuh di halaman humaniora dan sering menulis di rublik ibroh pada majalah kebanggan warga Muhammadiyah tersebut.

Beliau mengawali dunia kepenulisan di bidang sastra dan teater di Persada Studi Klub (PSK) Yogjakarta, Kelompok Insani Harian Masa Kini Yogyakarta, Kelompok Poci, Bulungan Jakarta, Sanggar Enam Dua Jakarta, Kelompok Sembilan Jakarta. Mustofa berkecimpung dalam bidang kesenain sejak tahun 1970-an semasa masih sekolah menengah, terutama bidang sastra dan teater yang disenangi.

Beliau juga pernah mengikuti workshop penulisan puisi di Gelanggang Remaja Senen dan workshop teater dengan instruktur Roedjito, Arifien C.Noer dan Putu Widjaya. Sesudah merasa ukup bekal pengetahuannya, ia pun mengembangkan diri diberbagai komunitas seni, seperti mempelopori berdirinya Teater Melati Kota Gede, aktif di sanggar sastra dan Teater (SST) Sila.

Mustofa, begitu panggilan keseharian, beberapa waktu lalu bersama wakil ketua LSBO PP Muhammadiyah, Jabrohim, dan seniman murni Muhammadiyah, Sigit Baskoro mengunjungi PDM Kendal. Kehadiran mereka dalam rangka sosialisasi program LSBO PP Muhammadiyah.

Ketika Mustofa W Hasyim tampil sebagai pembicara tentang sastra, puisi dan literasi, hampir semua yang hadir dan kebanyakan guru Muhammadiyah tidak percaya kalau laki-laki tambun kelahiran Yogjakarta 17 November 1954 itu adalah seorang seniman tulen. Pasalnya kalau bicara lirih, cepat dan agak sulit diikuti ke mana alur ending yang dihendaki. Tetapi hadirin tidak lama dibuat tersenyum ketika Mustofa menyanyi jawa dengan syair “kanjeng nabi wes ngendiko urip ojo sembrono, urip ojo sembrono.Srawung ano kanti apik marang kabeh manungso.

BACA JUGA :  INFAQ DENGAN IKHLAS

Setelah menyanyi lagu jawa, Mustofa membaca puisi dengan judul Cinta yang Mendidik, “cinta yang mendidik mematangkan jiwaku, cinta yang mendidik memantangkan pikiranku, cinta yang mendidik mematangkan hati nuraniku, cinta yang mendidik menemani pembalasanku, cinta yang mendidik membuka cakrawalaku………………..’

Sastra merupakan hasil cipta rasa dan karya manusia, sedangkan puisi adalah bagian dari karya sastra, maka seorang pengarang menggunakan bahasa secara kreatif, artinya dia menggunakan aspek kebahasaan yang difungsikan dan diberi makna untuk memperoleh aspek estetis dalam kesatuan teks yang utuh.

Karya-karya sastra Mustofa sudah banyak jumlahnya. Untuk puisi saja jumlahnya sudah ratusan, adapun yang sudah dalam bentuk buku diterbitkan berjudul : Reportase Yang Menakutkan dan Ki Ageng Miskin. Selain puisi karya Mustofa yaitu cerita pendek (cerpen) yang jumlahnya sudah puluhan. Karya sastra Mustofa yang sangat menakjubkan adalah karya sastra yang berbentuk novel. Proses penciptaan novelnya dimulai sejak tahun 1980-an .Pada dekade ini lahir dua novel berjudul, Sepanjang Garis Mimpi dan Pergulatan.

Mustofa sampai kini terus aktif melahirkan karya, bahkan ia masih aktif pula bersama LSM melakukan pendampingan pengembangan kesenian di banyak pondok pesantren, komunitas seni, sekolahan, dan kampus-kampus.

Ada ciri khas sastra karya Mustofa yang jarang dimiliki oleh sastrawan lain, yaitu menghadirkan humor dalam puisinya, seperti dalam Buku  ‘Pidato yang Masuk Surga’ merupakan antologi puisi teranyar karya Mustofa W. Hasyim yang diterbitkan oleh NM Press. Puisi-puisi yang terhimpun dalam buku ini sebelumnya telah dibacakannya dalam forum Maiyah bersama Emha Ainun Nadjib “Macapat Syafaat”

Bagi Pak Mustofa, humor menjadi satu cara ampuh untuk merefleksi kesehatan jiwa manusia. Humor adalah kecerdasan umat manusia dalam menggapai keseimbangan hidup. Humor akan muncul di tengah situasi-situasi yang chaos bukan sekadar sebagai lelucon. Karena humor sejatinya akan mengajak orang untuk berpikir, bukan tertawa. Maka sebagai penyair, kekhasan yang dihadirkan musdtofa W Hasyim (MWH) adalah ketika ia mengolah humor sebagai kekuatan pembangun puisi. Dengan humor MWH lebih berhasil  menyuarakan puisi. Dengan puisi-puisi humornya MWH menegaskan posisinya  sebagai wong cilik yang tertindas dan dengan itu ia bersuara. (Gofur)

BACA JUGA :  Menakar Kepedulian Muhammadiyah Terhadap Seni dan Budaya (Refleksi Sillaturrahmi LSBO PP Muhammadiyah di Kendal)

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here