Capt. Mahrus Supriyadi M. Mar, Hasil Berlayarnya Untuk Mendirikan Beberapa Toko dan Sedang Membangun Masjid

0
402 views
AKTIFITAS. Ketika di darat, off, tidak melaut kesibukan membantu istrinya, menjaga dan melayani pembeli di toko bangunan MS yang dimilikinya. (foto dok dyah)

KENDALMU.COM | KOTA KENDAL. Berlayar bisa menjadi salah satu pilihan pekerjaan, seperti yang dialami oleh Wakil Ketua Lembaga Pengembangan Pesantren Muhammadiyah (LPPM) PDM Kendal, Captain H.M. Mahrus Supriyadi M.Mar

Pria kelahiran Magelang (57) itu selepas lulus dari Sekolah Pelayaran Menengah (SPM) Makassar 1982 memilih melaut, berlayar sebagai panggilan jiwanya.

Sebelum berlayar, Mahrus Supriyadi kecil berangkat dari keluarga sangat sederhana, tetapi bapaknya, H Charis Misbah seorang ustadz di Desa Payaman, Kec. Secang, Magelang. Beliau gigih berdakwah ke desa-desa sekeliling walau dengan berjalan kaki. Karena saat itu belum ada sepeda motor.

“Karena ibu saya ingin memajukan pendidikan di desanya, khususnya untuk warga sekeliling maka diwakafkan sebidang tanah untuk didirikan TK ABA” kenang Mahrus.

Menurutnya, tindakan sang ibu mewakafkan sebidang tanahnya dipandang sebelah mata oleh sebagian saudara-saudaranya dan beberapa tetangganya.

“Ibu saya sering di bully, punya sejengkal tanah dan anaknya banyak, tapi kenapa tanahnya malah diwaqafkan” ujarnya.

“Alhamdulillah, keimanan Ibu tidak tergoyahkan dengan cibiran itu, anak-anaknya diserahkan kepada Allah” kenangnya lagi.

Mahrus bersama 9 saudara diasuh dan dididik oleh ibunya, Hj. Siti Zaeriyah dengan agama yang kuat. Pengasuhan yang dilakukan sang ibu mampu menjadikan Mahrus berkepribadian tegas, ulet dan percaya diri sebagai bekal dalam menghadapi tantangan kehidupan, termasuk selama bekerja di laut lepas yang penuh resiko.

Merasa cocok dengan pekerjaan di tengah laut, di berbagai jenis kapal. Mahrus muda melanjutkan pendidikan di Akademi Pelayaran Semarang lulus 1990 kemudian ke jenjang S1 di Balai Pendidikan dan Latihan Perhubungan (BPLP) Semarang dan lulus 2006 dan dilanjutkan dengan S2 di  Balai Besar Pendidikan Penyegaran dan Peningkatan Ilmu Pelayaran (BP3IP) Jakarta dan lulus 2011.

BACA JUGA :  Mumtazi, Si Anak Penjual Kapur Dapat Beasiswa Kedokteran

Bagi Mahrus, bekerja di pengeboran minyak lepas pantai memiliki pengalaman tersendiri. Mahrus bersama seluruh staf dituntut bekerja keras untuk melayani para clien dan crew dengan sepenuh hati, karena jika tidak bisa, kita tidak akan di pakai lagi, sebab sewa rig pengeboran minyak itu berkisan antara USD 100 k sd 500 k per hari. Tergantung besar kecil nya dan kecanggihan rig tersebut.

Mereka para clien dan crew berasal dari berbagai negara, tidak terkecuali Indonesia.

“Sebenarnya tidak sulit untuk mengenali mereka. Meski diwajibkan untuk berbahasa Inggris, tapi pekerja juga diperbolehkan bicara bahasa negara asal ketika bertemu crew  atau clien yang berbahasa sama” kata Mahrus mengawali perbincangan dengan kontributor kendalmu.com beberapa waktu lalu di kediamannya, Kelurahan Sukodono, Kota Kendal.

Pengalaman bekerja di tengah laut lepas membuat Bapak dari 2 anak laki-laki itu bergabung di Perusahaan Pengeboran Minyak lepas pantai di berbagai negara. Saudi Arabia, Qatar, Bahrain, Dubai, Abu Dhabi untuk TimTeng. Iran dan Kazakhstan untuk Asia tengah. Korea, Taiwan, Vietnam, Burma, Thailand, Malaysia dan Singapore untuk Asia Timur Tenggara.

“Selama bekerja di pengeboran minyak saya ditengah laut 35 hari, dan off di darat 35 hari. Dan ada juga yang 4 minggu on dan 4 minggu off. Selama off harus pulang ke rumah.

Cerita menarik sewaktu kerja di Saudi Arabia. Pada waktu pulang off. Sering saya sempatkan untuk mampir ke Masjidil Haram untuk Umroh. Jadi selama kerja di Saudi Arabia saya beberapa kali Umroh dan 3 kali umroh di bulan Ramadhan. Sangat luar biasa jika umroh di bulan Ramadhan ” bebernya.

Mahrus Supriyadi tidak memungkiri bekerja di pengeboran minyak gaji yang diterima cukup dan selama bekerja di anjungan pengeboran, gaji yang diterima digunakan untuk mendirikan usaha toko bangunan.

BACA JUGA :  Mukamimah ; Dengan Bismillah, Abon Ayamnya Mengalir Berkah

“Selama 35 hari di darat bersama istri mendirikan toko bangunan, dan Alhamdulillah sampai saat ini sudah ada tiga toko yang kami kelola” ucapnya.

Bagi Mahrus Supriyadi, Muhammadiyah sebagai salah satu pilihan dalam berdakwah dan berikhtiar memajukan agama Islam melalui berbagai kegiatan keagamaan, ekonomi dan sosial, meskipun diakuinya jarang aktif, namun ia sedang berusaha membangun sebuah masjid.

PELETAKAN BATU PERTAMA. Ketua PDM Kendal, H. Ikhsan Intizam berdo’a sebelum melakukan peletakan batu pertama pembangunan musholla As Shofiyah. (foto dok dyah)

“Saya wakafkan kepada Muhammadiyah sebidang tanah ex gudang (MS 3) samping SPBU Sukodono untuk segera dibangun sebuah masjid” kata Mahrus penuh ikhlas.

Menurutnya, kemauan wakaf itu salah satunya karena teringat pesan dan janji Mahrus kepada sang ibu apabila memiliki tanah untuk diwakafkan dan didirikan masjid.

“Selanjutnya saya kumpulkan istri dan anak-anak untuk meminta persetujuan, dan alhamdulillah mereka semua mengamini saya untuk mewujudkan niat mulia itu” ungkapnya, teringat air matanya waktu itu menetes deras seraya bersyukur.

“Kemudian hari saya temui Ketua PCM Kota Kendal, Pak Ismaini Hatta di Masjid Mujahidin Kendal. Saat itu usai pengajian Ahad pagi saya ikrar wakaf” ungkapnya lagi.

“Kami berharap ikrar wakaf itu segera diproses dan sertifikat wakaf atas nama persyarikatan bisa segera terbit” harapnya.

Mahrus berharap setelah pembangunan masjid  terwujud bisa dikelola sebaik mungkin agar masjid dan jamaahnya sama-sama makmur. Dan saat ini alhamdulillah sertifikat waqaf dan IMBnya telah keluar.

“Konsep pengelolaan masjid bisa berkiblat ke Masjid Jogokariyan yang salah satunya memperlakukan jamaah seperti raja, yaitu memberi fasilitas yang cukup sehingga merasa makmur” harapnya.

Let’s DoA with Doa, don’t Do B, C, D or Z. But must be Do A. And make sure you do Doa before start Do A” pungkasnya. (dyah)

BACA JUGA :  Mbak Dah Pemilik Rizda Snack, Keciputnya Masih Bertahan Meskipun Dihajar Corona