Cinta Yang Dirahmati #Episode 02

0
1 views

APAKAH Halimah punya pacar? Jujur saja, kami tidak tahu, siapa lelaki pujaan hatinya, karena selama ini setahu kami dia tidak punya lelaki yang ia suka. Kami tidak pernah melihat Halimah jalan bareng dengan laki-laki, karena mereka merasa enggan dekat dengannya. Kalau ada yang berani dekat dengannya, itu hanya sebatas urusan sembako yang sudah sepuluh tahun ini digeluti Halimah, profesi pedagang yang membuat dirinya lupa kawin.

Seperti biasa pada setiap akhir pekan kami sekeluarga ke rumah bapak mertua, kakek dari dua anakku, dan kakek dari anak-anak kakak iparku, untuk silaturrahmi.

“Imah, apa kamu tidak ingin berumah tangga?“ tanya Mas Purketika suasana cukup mendukung, setelah adik-adiknya pulang.

“Maksud Mas Pur, menikah?“ Halimah malah bertanya.

“Iya,“ jawab Mas Pur sambil menggeser kursi tempat duduknya.

“Pengen sih, pengen. Tapi apa ada cowok yang mau sama saya?“ kata Imah pesimis akan jodohnya.

“Kalau dik Imah punya niat nikah, kapan-kapan saya kenalkan dengan teman kantor.“

Wajah Imah sedikit sumringah atas tawaran Mas Pur, ia akan dikenalkan dengan teman kantor, tempat kakaknya bekerja.

Untuk kesekian kalinya Halimah kembali berdandan, hampir satu jam mematut di depan cermin, mempercantik diri, tetapi hasilnya nihil. Imah tetap tidak cantik. Ia mencoba menipu cermin, agar bisa sedikit cantik, tetap gagal, karena cermin terlalu jujur.

Berbekal selembar foto dan profil Imah, kakak-kakak iparku mulai menjelajahi tempat kerjanya masing-masing. Mereka mendatangi tetangga dan mendekati beberapa teman di tempat mereka bekerja, menawarkan adiknya Imah, perawan tua agar segera dinikahinya.

Mas Purtersenyum lebar, merasa puas atas pekerjaannya. Hanya jeda satu bulan, ia mampu mengalahkan adik-adiknya dalam memburu laki-laki untuk Imah. Saya dan ketiga kakak iparku gagal menangkap buruannya, laki-laki yang akan kami jodohkan dengan Imah menolak dengan berbagai macam alasan. Berbeda dengan Mas Pur begitu cekatan, lihai menaklukkan buruannya, tiga laki-laki sekaligus. Mahmud, jejaka tua dan dua duda cerai, Arifin dan Ahmadi. Mereka siap menikahi Imah, melindungi dan membimbingnya. Apalagi si Mahmud kelihatannya terlalu bersemangat untuk mempersunting Halimah.

BACA JUGA :  Berhaji Karena Menunda Haji

Tetapi sepekan kemudian, Arifin dan Ahmadi urung mempersunting Halimah. Kini satu-satunya harapan kami ada pada Mahmud yang masih konsisten ingin melamar Halimah.

Perhelatan silaturahmi yang melibatkan dua keluarga siap digelar. Ahad pukul sepuluh pagi keluarga Mahmud akan bertandang ke rumah bapak mertuaku. Ada harapan besar yang melintas di benak kami terhadap keluarga Mahmud. Ta’aruf kedua belah pihak akan membuahkan hasil, jenjang khitbah terhadap Imah segera dilewati dengan baik yang akhirnya pernikahan antara Mahmud dan adik iparku, Halimah, dapat berjalan dengan lancar. Itulah tahapan pernikahan yang kami harapkan. Namun, apabila khitbah tidak terlaksana, kami bisa menerima, tidak begitu masalah tentang lamaran. Kami justru mementingkan prosesi pernikahannya dapat terwujud, karena hal itu bisa membebaskan kami, terutama Mas Puryang telah menerima amanah dari bapak mencarikan jodoh untuk Halimah. (bersambung)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here