Dekan FE Unimus : Mental Bos Itu Optimis dan Semangat Bisa

0
29 views
OPTIMIS. Mental bos itu optimis dan suka memberi untuk mengembangkan usahanya, sedangkan mental miskin, kere itu sukanya meminta, kata Dekan FE Unimus, Haerudin (foto dok. fur)

KENDALMU.COM | SUKOREJO. Seorang pengusaha dalam mengelola perusahaan memiliki karakter optimis dan semangat tinggi supaya mampu menyelesaikan persoalan yang dihadapi sebagai upaya mengembangkan perusahaan yang dipimpinnya.

Demikian bagian dari kuliah umum Sekolah Bisnis Muslim (SBM) angkatan ke 4, disampaikan oleh Dekan Fakultas Ekonomi (FE) Unimis, Haerudin yang diselenggarakan oleh Majelis Ekonomi dan Kewirausahaan (MEK) Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kendal pada Ahad (20/6) di SMP Muhammadiyah 4 Sukorejo.

Dihadapan 50 peserta SBM, Haerudin menjelaskan mental seorang bos adalah memberi, sedangkan orang miskin, kere suka meminta.

“Karakter bos juga optimis, dan berusaha keras untuk bisa menyelesaikan persoalan. Orang kere minder, pesimis, dan cenderung pasrah, merasa tidak mampu menyelesaikan persoalan” ungkapnya.

Seorang bos, lanjut Haer sunatullahnya adalah khalifah fil ardhi, penguasa di atas bumi.

“Karena sunnatullah-nya khalifah, menjadi bos maka orang muslim mestinya tidak menjadi budak” tegasnya.

Menurutnya, manusia itu banyak bisanya dibanding dengan tidak bisa. Namun faktanya kebanyakan manusia merasa tidak bisa.

Dia juga menyampaikan sikap seorang pengusaha ketika hadir di sebuah forum.

“Seorang bos ketika hadir di suatu forum menciptakan pemikiran yang kreatif dan mencari jalan baru untuk memajukan perusahaan yang dipimpinnya” ucapnya.

Mengembangkan dan memajukan perusahaan, kata Haer lagi tidak ketika berada di atas sajadah, berdzikir lama, sholat malam, doa yang lama.

“Allah tidak mungkin menyelesaikan persoalan seseorang di atas sajadah, sholat yang lama. Tetapi di luar setelah itu berikhtiar, bekerja keras sejauh mana melakukan ikhtiar untuk mencapai sukses” tegas Herudin.

Orang yang ibadahnya tekun, khusuk, tetapi ikhtiarnya dalam mencari rizki malas, kata dia, mereka adalah orang bodoh.

“Kalau berdoanya minta rizki, maka ikhtiar, usahanya ya mencari rizki, dengan bekerja” ujarnya, dengan mengibaratkan pergi ke Jakarta naik kereta jurusan Jakarta pasti sampai.

BACA JUGA :  Pertama di Kendal, LPB Gelar Seminar dan Lokakarya SPAB. Antisipasi Hadapi Bencana

Bos muslim, kata Haerudin ketika menemui permasalahan dalam menjalankan bisnisnya, selalu percaya kepada janji Allah, tidak yang lain, dan kepercayaan kepada Allah dibangun melalui sifat optimis, bahwa Allah pasti membukakan jalan.

“Bos muslim ketika menemui jalan buntu, mentok itu artinya belum sungguh-sungguh, maka ia masih merasa yakin ada jalan keluar, karena Allah memberi banyak jalan bisnis” katanya.

Menurut Haerudin, berbisnis dikatakannya sebagai jalan Allah dan dinilai bersih dan tidaknya tergantung cara mereka melakukannya. (fur)