Gegara Menjadi Mualaf dan Dirundung, Kepala SMP Muhammadiyah 7 Pegandon Hafidz Qur’an

0
87 views
SUMPAH JANJI. Arif Ari Wibowo mengucapkan sumpah janji usai dilantik sebagai Kepala SMP Muhammadiyah 7 Pegandon. (foto dok fur)

KENDALMU.COM | PEGANDON.  Islam sebagai agama yang membawa kedamaian diamini oleh banyak orang. Buktinya dari mereka yang semula mengimani agama lain kini memutuskan untuk memeluk Islam atau menjadi mualaf. Mereka menjadi mualaf karena berbagai alasan. Ada yang mengikuti keyakinan pasangan hidup, ada pula yang mendapat hikmah di tengah perjalanan hidup.

Namun ketika berstatus mualaf belum tentu perjalanan hidup berlanjut menjadi mulus sebelum menerima ujian dari Allah.

Hal tersebut dialami oleh Arif Ari Wibowo (45) yang kemarin Sabtu (18/9) dilantik sebagai Kepala SMP Muhammadiyah 7 Pegandon menggantikan Farida Amalia yang habis masa jabatannya.

Arif mengungkapkan, di desanya hanya ada dua keluarga yang beragama non muslim.

“Kami sekeluarga hidup di kampung, Desa Bojongbata, Sirandu, Pemalang. Di desa itu hanya ada dua keluarga yang Nasrani, termasuk keluarga saya. Kami masuk Islam bulan September 1990. Keislaman sekeluarga berlangsung di Kantor Kemenag Pemalang” tulis Arif via WhatsApp kepada kendalmu.com Ahad (19/9).

Arif adalah anak dari Sudarmadi dan Sri Murni. Ia anak ke enam dari delapan saudara nama aslinya Markus Ari Wibowo.

“Pemberian nama itu sebetulnya tidak dari kedua orang tua, tetapi dari pendeta setelah saya dibaptis. Setelah masuk Islam nama saya diganti Arif Ari Wibowo” ungkapnya.

Kepindahan Arif ke agama Islam berawal karena selama sekolah dan di kampung si Markus malu dengan teman-temannya, lantaran keluarganya Nasrani, tetapi kebutuhan sehari-hari dirinya dan keluarga dijamin oleh gereja.

“Waktu itu saya sangat senang, karena di openi banget oleh keluarga gereja, tetapi saya tidak nyaman. Di kampung seolah kayak ndak punya teman, justru jadi bahan olokan” tulisnya.

Kemualafan Arif dan saudara-saudaranya waktu itu masih dipandang sebelah mata oleh warga dan para tetangganya, menganggap keIslaman sekeluarga sebagai lelucon sehingga sering dirundung dan tidak diperhitungkan.

BACA JUGA :  Capt. Mahrus Supriyadi M. Mar, Hasil Berlayarnya Untuk Mendirikan Beberapa Toko dan Sedang Membangun Masjid

“Kalau saya sholat di musholla tidak diperbolehkan berada di shaff depan, tetapi paling belakang dan sering jadi korban, sarung saya diplorotkan oleh teman-teman” kenangnya.

Perundungan warga tidak sampai di situ, dalam pergaulan sehari-hari dikucilkan dan dianggap tidak punya keahlian dan prestasi, termasuk dalam sepak bola.

“Saya dalam klub sepak bola di kampung tidak pernah masuk susunan pemain inti, selalu di bangku cadangan” kenangnya lagi.

Lebih lanjut Arif menuturkan, ketika lulus SMP Arif tidak segera melanjutkan jenjang pendidikannya ke SMA, tetapi melanjutkan pendidikan di pondok pesantren.

“Saya nyantri untuk ngaji selama setahun di Boja, kemudian melanjutkan nyantri di PP Al Falah yang diasuh oleh KH. Zuhri dan sekolah di MAN Salatiga”.

Lulus dari MAN, Arif tidak langsung melanjutkan kuliah, tetapi mondok di PP Al Islam Al Mubarok Gresik Jawa Timur pengasuhnya KH. Ali Imanuddin, alumni santri Mbah Dimyati Banten. Selepas dari Kota Semen ia melanjutkan pendidikan khusus mendalami Al qur’an di pondok Quran Metode Huffaadhil Qur’an (MHQ) Kudus dengan pengasuh KH. Abdul Wahib Al Hafidz.

Keinginan mendalami Al qur’an dilanjutkan oleh Arif dengan mendampingi kegiatan pengajian yang diasuh oleh KH. Abdullah Munif Marzuqi bin Afnan, Langitan Tuban, kerabat dekat KH. Asrori Al Iskhaqi.

“Selama mengikuti para Kyai, kami merintis majelis taklim di beberapa tempat, mulai dari Musholla Al Fikri Dieng, Banjarnegara, majelis taklim Gandaria, Tangerang sampai ke Kota Bumi, Lampung” tuturnya, ‘dan sekarang kami merintis dan mengelola majelis taklim Al Muhajirin di Dukuh Tordjo, Kutosari, Gringsing, Batang’ imbuhnya.

Sehabis merintis, di tahun 2000 si Arif mengawali kuliah di Iniversitas Nahdhatul Ulama (UNU) Surakarta program beasiswa mengambil jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI).

BACA JUGA :  Mbak Dah Pemilik Rizda Snack, Keciputnya Masih Bertahan Meskipun Dihajar Corona

“Saya tidak hanya kuliah, tapi juga mondok di PP Al Quraniyah dan Al Muayyad yang kebetulan bersebelahan dengan UNU. Alhamdulillah S1 PAI saya selesaikan 3 tahun lebih 6 bulan dan dikukuhkan sebagai mahasiswa tercepat” katanya.

Ketika kuliah, Arif mengaku aktif di Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), organisasi kemahasiswaan di bawah naungan NU, namun pergaulan dengan anak-anak muda Muhammadiyah, termasuk Ikatan Remaja Muhammadiyah (IRM) waktu itu cukup dekat dan ilmu pesantren yang disampaikan Arif bisa diterima di kalangan warga Muhammadiyah.

“Sewaktu kuliah di UNU saya sering mengisi kajian di tempat pengajian ibu-ibu dan remaja. Kebetulan IRM meminta saya mengisi kajian di kampus UMS. Karena sangking sering mengisi kajian di IRM maka saya kenal Titik Mukti Ariyanti, aktifis IRM yang kuliah di UMS dan sekarang menjadi istri saya” ujarnya tersenyum.

Sekarang Arif Ari Wibowo dan istrinya sama-sama berprofesi guru, namun dalam perjalanannya justru sang istri yang diangkat PNS dengan nota tugas di MTs Negeri Subah diperbantukan di MTs NU Sawangan, Batang. Sedangkan sang suami sebagai guru di MA NU Sawangan sampai 2008.

“Selama mengajar di MA NU Sawangan saya merangkap guru di SMP PGRI 7 Gemuh dengan Pak H. Al Badru (Ketua PCM Gemuh) sebagai Kepala Sekolah”

Dikatakan, mengajar PAI di SMP PGRI jumlah jam pendidikan agama Islam relatif sedikit dan untuk memenuhi persyaratan sertifikasi harus ditambah jam mengajar di sekolah lain.

“Mulai 2015 sampai 2020 saya mengajar di dua tempat, SMP PGRI Gemuh dan SMP Negeri 2 Pegandon, tetapi karena di SMP Negeri 2 Pegandon ada guru ASN, saya harus meninggalkan SMP Negeri 2 dan bergabung di SMP Muhammadiyah 7 Pegandon, di SMP PGRI 7 Gemuh saya lepas karena mendapat amanah sebagai Kepala Sekolah di SMP Muhammadiyah 7 Pegandon” ungkapnya.

BACA JUGA :  Mumtazi, Si Anak Penjual Kapur Dapat Beasiswa Kedokteran
HARMONIS. Bersama istri dan ke tiga buah hati dalam suasana kebahagiaan. (fofodok keluarga)

Terkait dengan kehidupan keluarga, termasuk harmonis, suami istri itu dikaruniai 3 anak.

“Alhamdulillah kami diamanati anak 3, yaitu Afifah Ari Rahmawati kelas XI program Tahfidz di MAN Kendal, Muhammad Iqbal Ari Rahmatullah kelas 6 di SDIT Lukman Hakim Kendal, dan Ahmad Irfan Ari Maulana kelas 2 di MI 1 Plelen Gringsing” ujarnya.

Menyinggung tentang organisasi Muhammadiyah, Arif mengaku masih awam dan tidak perlu dibuat fanatik.

“Saya ndak mempermasalahkan tentang aliran apapun, karena saya lama dididik oleh guru untuk tidak fanatik akan aliran tapi saya fanatik dengan Allah dan Rasulullah. Saya orang Qur’an maka akan terapkan kaidah Qur’aniyyah baik berupa adab, sikap, ubudiyah, perilaku dan norma susila sesuai dengan ajaran Al Qur’an bukan ajaran aliran, karena setelah saya mengenal Islam dan ketemu dengan orang-orang alim, ternyata mereka tidak fanantik dengan aliran tapi fanatik dengan Allah dan Rasulullah” tegasnya.

Arif Ari Wibowo yang diamanahi sebagai Kepala SMP Muhammadiyah 7 Pegandon tentu akan melaksanakan tugas-tugas manajemen sesuai dengan kebijakan yang berlaku dan ditetapkan oleh persyarikatan melalui Majelis Dikdasmen. (fur)