Guru Besar Muhammadiyah Harus Mampu Mengawal Misi Tajdid

0
79

KENDALMU.COM | KENDAL.  Bagi Perguruan Tinggi Muhammadiyah (PTM) guru besar merupakan kekuatan yang penting untuk meningkatkan kualitas PTM dan menciptakan pusat keunggulan. Kekuatan akademisi menjadi kekuatan dan kemajuan bangsa, dari mereka lah akan lahir riset penelitian dan menentukan nadi kemajuan suatu bangsa. Keberadaan Forum Guru Besar Muhammadiyah sangat penting dalam mendukung kemajuan sekaligus mengawal misi tajdid (pembaharuan) Muhammadiyah sehingga membawa Muhammadiyah menjadi kekuatan Islam modern terbesar diabad keduanya.

Demikian dikatakan Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Haedar Nashir, ketika memberikan sambutan dalam acara Silaturahim bersama Guru Besar Muhammadiyah Jawa Barat, pada Rabu(26/8).

Dilansir dari muhammadiyah.id, Haedar menegaskan, Guru Besar Muhammadiyah dengan keilmuan yang mumpuni diberbagai bidangnya perlu terus membawa dan mengawal peran baru persyarikatan Muhammadiyah menjadi organisasi Islam dakwah dan tajdid.

Haedar megatakan, sejumlah gagasan dan pondasi besar sudah diletakkan oleh Muhammadiyah melalui para pendiri dan tokohnya.

“Diantaranya pondasi kuat itu diajarkan Kiai Dahlan yang mendirikan Muhammadiyah sebagai suatu lompatan besar. Biarpun Kiai Dahlan lahir dalam kultur Islam tradisional yang awalnya melekat dengan Kraton, lalu Ia bermukim ke Makkah dua kali, disaat itu Saudi Arabia sedang dalam suasana dimana rezimnya Wahabiah, tetapi Kiai Dahlan kemudian pulang menjadi seorang mujadid, menjadi seorang reformis, seorang pembaharu” kata Haedar.

Beliau menuturkan, Diusianya yang masih relatif muda di usia 20 tahun, Ahmad Dahlan menggagas pembaharuannya sejak 1889 sudah meluruskan arah kiblat, menggagas pendidikan Islam modern lalu membuat gerakan Al-Maun lahirlah institusi rumah sakit, balai kesehatan dan pengorganisasian zakat hingga mendirikan gerakan literasi lewat Suara Muhammadiyah pada tahun 1915. Bahkan bersama istrinya Nyai Walidah, Ahmad Dahlan melahirkan gerakan perempuan ‘Aisyiyah pada tahun 1917.

BACA JUGA :  Manfaatkan Momen Akhir Tahun, PC IPM Kota Kendal Adakan PKTM 1

“Hal ini merupakan fenomena baru, dimana Muhammadiyah menghadirkan gerakan Islam perempuan tanpa harus belajar dari emansipasi barat tetapi lahir dari Islam mampu menghadirkan kaum perempuan yang setara dengan kaum lelaki untuk cerdas, maju  dan menjadi kekuatan Indonesia merdeka” lanjutnya.

“Kiai Dahlan bersama tokoh pergerakan lain seperti HOS Tjokroaminoto juga telah menyebarkan pikiran-pikiran maju yang membuat Soekarno tertarik pada Muhammadiyah dan Kiai Dahlan, hingga Soekarno pada tahun 1930 resmi menjadi anggota Muhammadiyah.

Apa yang dilakukan Muhammadiyah melalui pendiri dan para tokohnya ini kata Haedar menjadi menyemai benih-benih pemikir dan penggerak. Bahkan  pendiri Indonesia yang lahir dari pemikiran dan pemahaan Islam yang berkemajuan” beber Haedar.

“Lewat rentetan perjalanan ini Muhammadiyah hadir selain menjadi gerakan dakwah yang menyebarluaskan Islam hingga Islam menjadi agama yang modern dalam alam pikiran masyarakat dan diterima menjadi state of mind (alam pikiran),”

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here