Hikmah Pandemi Covid-19 Menurut Prof. Suyono

0
96 views
Prof DR. H. Yusuf Suyono, MA. Mensikapi Pandemi Covid-19 harus dengan berikhtiar segala upaya dan berdo'a (fofo dok tri)

KENDALMU.COM | BOJA. Dimasa pendemi Covid-19, semua masyarakat dibuat sedih, aktifitasnya terbatas, dan menimbulkan kepanikan. Sebetulnya Allah mendatangkan musibah Covid-19 itu sebagai bentuk ujian, dan mestinya disikapi dengan berikhtiar agar cobaan itu cepat berlalu, bersikap sabar dalam mengahapi ujian, dan berserah diri kepadanya.

Demikian kata Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Tengah, Prof. Dr. H. Yusuf Suyono, M.A dalam ceramah pengajian Ahad pagi (29/11) di Boja.
Dikatakan, bahwa bagi seorang muslim dalam menyikapi musibah terdapat beberapa hal yang harus dilakukan.

“Ketika musibah datang hendaknya orang muslim menyadari bahwa musibah itu datangnya dari Allah, maka kita kembalikan kepadaNya” kata Prof Suyono.

“Kita tidak berhenti sampai di situ, tetap berikhtiar agar musibah tersebut bisa berlalu” imbuhnya.

Ikhtiar yang dilakukan adalah berusaha dengan segala upaya yang diperintahkan oleh pemerintah maupun Muhammadiyah.

“Muhammadiyah menegaskan komitmennya untuk terus mengerahkan segala sumber dayanya untuk membantu penanganan pandemi Covid-19” tegasnya.

Beliau melarang kepada kaum muslim agar dalam mensikapi musibah corona seperti orang-orang agnostik.

“Orang agnostik adalah orang yang memiliki pandangan bahwa ada atau tidaknya Tuhan tidak dapat diketahui” jelasnya.

Secara etimologi, agnostik berasal dari bahasa Yunani, yakni gnostik yang berarti mengetahui atau pengetahuan dan a yang berarti tidak. Jadi secara harafiah, agnostik memiliki arti tidak mengetahui. Namun secara definisi, agnostik adalah suatu pandangan atau kepercayaan bahwa ada atau tidaknya Tuhan merupakan sesuatu yang tidak diketahui.

Pemikiran agnostik, menurutnya sangat bertentangan dengan ajaran Islam.

Di bagian akhir Prof. Yusuf Suyono, mengajak kepada kaum muslimin untuk tetap berikhtiar sekuat tenaga agar pandemi Covid-19 dapat segera hilang.

manusia, di antara tabiatnya bahwa jika Rabbnya mengujinya dan memuliakannya, memberikan kenikmatan kepadanya berupa harta, anak-anak dan kedudukan, ia mengira bahwa hal itu karena kemuliaannya di sisi Allah, maka ia berkata, ‘Rabbku telah memuliakanku karena aku berhak mendapatkan kemuliaan dari-Nya. (tri)

BACA JUGA :  Ketua PDNA Kendal Ikuti Tanwir di Kota Pempek, Kenalkan Produk Buana