Ketua MPI PP Muhammadiyah : Dakwah dan Pendidikan di Era Disrupsi Teknologi

0
16
Ketua Majelis Pustaka dan Informasi (MPI) PP Muhammadiyah, DR. Muchlas, MT

KENDALMU.COM | YOGYAKARTA. Menurut KBBI disrupsi adalah hal yang tercabut dari akarnya. Apabila diartikan dalam bahasa sehari-hari maka dapat berarti perubahan yang mendasar atau fundamental.

Era disrupsi ini merupakan fenomena ketika masyarakat menggeser aktivitas-aktivitas yang awalnya dilakukan di dunia nyata, ke dunia maya.

Berkenaan dengan adanya wabah Covid-19 di era generasi Z, maka teknologi merupakan sebuah media yang tidak boleh tertinggal dalam aspek dakwah dan pendidikan di Muhammadiyah.

Dalam hal ini Muhammadiyah kerap menggunakan pendekatan science technology dan agama sebagai suatu acuan dan ikhtiar untuk menentukan sebuah kebijakan.

Ketua Majelis Pustaka dan Informasi (MPI) PP Muhammadiyah, Dr. Muchlas, MT, mengatakan, bahwa adanya disrupsi teknologi di dalam kehidupan manusia yang tidak bisa dipungkiri. Muhammadiyah tentu harus mampu mengejar peralihan ini agar dapat berjalan beriringan dengan perubahan yang ada di dalam dunia dakwah dan pendidikan

“Dulu kita terbiasa dengan komunikasi komunal face to face, tetapi kini berubah menjadi komunikasi virtual. Perlu diketahui bahwa segmen dakwah kita ini adalah digital native” ujarnya.

Bagi Muchlas yang menjadi tugas utama Muhammadiyah saat ini adalah mengejar ketertinggalan dan menghadapi disrupsi teknologi melalui 4 prinsip dasar diantaranya pengembangan teknologi, pengembangan konten, pengembangan infrastruktur dan pengembangan pribadi

“Maka ini adalah dasar kita untuk mengubah respon kita untuk menjadi lebih adaptif dan literasi teknologi harus digencarkan. Kita harus mendeteksi kecenderungan mereka itu apa,” ungkapnya

Sedangkan Ketua PP Muhammadiyah, Prof. Hadang Kahmad, M.Si, menyampaikan bahwa berdasarkan hasil penelitian PTMI UIN Jakarta menunjukkan 54,2% generasi Z selalu mencari informasi terkait agama dan lainnya melalui internet. Selain itu yang menjadi tren saat ini dalam menganut ilmu agama, generasi Z tidak lagi mengenal organisasi Islam baik Muhammadiyah maupun NU, namun mereka lebih merujuk kepada pribadi seseorang yang diantaranya adalah tokoh – tokoh da’i di masa kini. Hal ini menunjukkan bahwa peran teknologi sangat berpengaruh pada eksitensi Muhammadiyah dalam melebarkan sayap dakwah dan pendidikan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here