Beranda Dinamika Ketua PDM Kota Semarang Ajari Ilmu Kaidah Fiqhiyah

Ketua PDM Kota Semarang Ajari Ilmu Kaidah Fiqhiyah

0
207 views
NGAJARI. Ketua PDM Kota Semarang, Drs H. Fachrurrozi, M.Ag mengajari ilmu kaidah fiqih lewat pebgajian Ahad pagi di Boja (foto dok. agung)

KENDALMU.COM | BOJA. Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Semarang, H. Fachrurrozi mengajari tentang ilmu kaidah fiqih kepada anggota jamaah pengajian Ahad pagi (13/12) di halaman PAY Muhammadiyah Shalahudin Al Ayyubi Boja. Pengajian tersebut sebagai kelanjutan dari pengajian beberapa pekan lalu di tempat yang sama.

Sebagaimana diketahui bahwa ilmu kaidah fiqhiyah merupakan istilah yang digunakan ulama fiqih untuk pengembangan cakupan suatu hukum.  Kaidah fiqih merupakan ketentuan yang bisa dipakai untuk mengetahui hukum tentang kasus-kasus yang tidak ada aturan pastinya di dalam Al-Qur’an, Sunnah maupun ijmak sehingga lahirlah fiqih baru.

Ustadz Fachrurrozi, mengatakan, terdapat kaidah fiqih yang berbunyi ‘Al-Umuru Bi Maqasidiha‘ merupakan salah satu dari kaidah yang digunakan oleh para fukaha’ (orang ahli fiqih, hukum-hukum peribadatan)

“Al-ummur bimaqashidha ini adalah menegaskan bahwa setiap amal perbuatan baik yang menyangkut hubugan manusia dengan Allah maupun hubungan dengan sesama manusia” kata Ustadz Fachrurrozi.

Dalam penerapannya, beliau mengatakan, bahwa Rasulullah bersabda sesungguhnya segala hal amal itu ditentukan oleh niat dan Allah SWT akan membalas sebagaimana yang dia niatkan.

“Akad itu penentunya adalah maksudnya bukan hanya yang tampak saja maka ucapan seseorang bisa bermakna apa itu tergantung maksudnya” jelasnya.

Beliau menganalogikan, kalau kita berburu binatag ditengah hutan kemudian melepaskan anak panah dan tiba-tiba ada orang lewat dan anak panah itu mengenai orang lewat tersebut dan tidak kena binatangnya.

“Dalam kondisi peserti itu dia tidak bisa dianggap pembunuhan sengaja, meskipun membuat orang meninggal dunia”

Kaidah Fikih yang kedua adalah ‘al yakin laliyal bil syak’, keyakinan tidak bisa digugurkan/dihilangkan dengan adanya keragu-raguan.

“Seorang suami istri kemudian suami pergi dua tahun, saat nikah tidak membaca sighot taklid kemudian istri tertarik sama tetangganya lalu menganggap suaminya dianggap sudah meninggal saja maka itu tidak boleh” jelasnya.

BACA JUGA :  Kendalmu Award Digelar, Berikut Daftar Lengkap Pemenangnya
DI TERAS. Walaupun kondisi hujan, pengajian tetap berlangsung, anggota jamaah menempati teras PAY Shalahudin Al Ayyubi Boja (foto dok. agung)

Kaidah fiqih ketiga ‘abdororu rizal, setiap yang merusak/membahayakan harus dihilangkan/disingkirkan.

“Maka kalau sakit harus berobat, kalau ada wabah di kampong, kita jangan masuk. Kalau ada dua bahaya bersamaan maka kita ambil yang paling kecil resikonya”.

Kaidah fiqih keempat adalah ‘al masokoh tajlibut taisir’, kesulitan mendatangkan kemudahan. Beliau memaparkan, dalam beragama hendaknya dipermudah dam jangan dipersulit. Karena sesungguhnya Allah menghendaki kemudahan, Allah tidak menghaendaki kesulitan.

“Agama itu gampang, ojo digawe angel ning ojo nggampangke. Sholat itu wajib menghadap kiblat, namun kalau tidak kuasa menghadap kiblat maka sebisanya”

Seperti saat pulang dari umroh kita naik pesawat yang menghadap kearah timur.  Sholat itu wajib wudhu, wudhu tidak ada air bisa diganti tayamum. Tayamum sebagai pengganti mandi wajib bila tidak ada air.

Sholat itu wajib berdiri bila tidak sanggup bisa duduk. Puasa bagi ibu hamil bila untuk menjaga janin supaya sehat sesuai petunjuk medis maka boleh tidak puasa. Kewajiban berhaji itu ada syarat istitoah, dimana tidak hanya kemempuan uang tetapi kesehatan, perjalanannya juga yang lainnya. Kalau itu tidak terpenuhi maka tidak ada kewajiban untuk kita.

Dalam islam yang sulit melahirkan kemudahan-kemudahan, ketika terjadi darurat maka bisa membolehkan yang dilarang. Babi haram tidak ada makanan yang lain maka menjadi halal sepanjang tidak berlebihan, tidak menambah-nambah maka tidak ada dosa.

Kelima al adatu muhakamah, adat bisa menjadi hukum. Zakat fitrah kita memakai beras, di timur tengah kurma gandum. Disini kita adanya beras. Budaya makan diwarung kita membayar setelah habis, hukum asalnya tidak boleh namun karena sudah menjadi budaya kita maka menjadi boleh. Kalau mau disebut lebih islami maka lebih islami rumah makan cepat saji yang membayar dahulu baru dimakan, Karena budaya kita seperti itu ya tidak masalah, tidak harus diganti.(agung)

BACA JUGA :  LPB MDMC Kendal Terjunkan Sejumlah Relawan, Semprotkan Desinfektan, Bunuh Virus Corona