Ketum DPP PAN : Politik Jalan Tengah, Rasional yang Waras, Tidak Ikut Kampret dan Cebong

0
52 views

KENDALMU.COM | KENDAL. Kalau Rakernas PAN yang pidato Ketua Umum, Pak Haedar, yang menutup Sekum. Kami dua Minggu sekali konsultasi, diskusi politik berbagai kebijakan-kebijakan, dan kita menjalankan apa yang diarahkan oleh Ketua Umum, yaitu politik jalan tengah, rasional yang waras. Oleh karena itu kita tidak ikut cebong atau kampret. Kalau sekali berMuhammadiyah sudah ikut cebong atau kampret gawat Republik ini.

Demikian kata Ketua Umum Partai Amanat Nasional (PAN), Zulkifli Hasan dalam acara sillaturrahmi dengan keluarga besar Muhammadiyah Daerah Kendal pada Ahad (7/11) di aula gedung Muhammadiyah Kendal.

Menurutnya, PAN dan Muhammadiyah memilih jalan tengah, berperan sebagai jembatan diantara keduanya. Kita kembalikan ke tengah yang rasional.

Bang Zul, begitu panggilan akrab, Zulkifli Hasan mengaku diskusi lama dengan Ketua Umum dan Sekreataris Umum, bagaimana ini, karena merasa ada  sebagian kelompok yang masih marah-marah tentang hasil Pilpres 2019.

“Bang Zul, mereka ikut marah-marah itu membela siapa ?” katanya menirukan ucapan Ketua Umum PP Muhammadiyah.

“Membela Capres ? Dia kan sudah jadi Menteri Pertahanan. Membela Wapres, juga sudah jadi Menteri Pariwisata. Terus mau membela siapa ? Hizbut Tahrir, nggak mungkin dukung kita” imbuhnya.

Pilihan rasional yang waras, bagi Bang Zul adalah pilihan. Kalau di luar (pemerintahan) bergabung dengan siapa, dan orang sudah mengatur.

“Koalisi besar sudah mengatur, bagaimana  2024 besok, dan kalau masih di luar kita menderita” ujarnya.

Pada Pemilu 2024, lanjutnya, kita tidak bisa memilih karena sudah ada dua koalisi besar yang belum tentu suka dengan kita.

“Karena sistem, undang-undang, kita akan memilih dua yang sudah ada. Kalau sudah begitu kita tidak ikut apa – apa” lanjut dia.

BACA JUGA :  Film PKO 1920 Karya PCPM Weleri Banjir Pujian

Sekali lagi, peran yang harus dilakukan adalah bersama – sama adalah dengan argumentasi yang kuat dan kokoh, rasional waras untuk menyampaikan pikiran-pikiran kita kepada pemerintah.

“Pikiran-pikiran rasional dan waras kita sampaikan kepada pemerintah, kita tidak memukul tapi merangkul” tegas Bang Zul.

“Pemerintah tidak kiri kanan, tapi tengah adil” imbuhnya.

Dia mengingatkan, bahwa negara kita sepakat adalah negara demokrasi, ‘one man one vote’, dan itu tidak bisa dihindari.

“Dalam teori demokrasi menghasilkan keadilan, kesetaraan dan harmoni, tapi itu demokrasi yang punya nilai” kata Bang Zul.

“Kunci demokrasi seperti di Eropa mempunyai value, maka akan menghasilkan undang-undang dan sistem yang  baik, karena demokrasi itu perbincangan orang banyak, bukan benar atau salah. Oleh karenanya sistemnya mesti baik. Tanpa itu bisa jadi anarki, transaksional yang itu kita alami” bebernya memberi contoh dua calon yang maju dalam Pilkada, satu calon dari akademisi dan satunya bandar togel.

“Ternyata dalam pertarungan, akademisi kalah, karena bandar togel itu punya sembako, nasi kotak, maka transaksional”.

Di bagian akhir dikatakan, karena Indonesia negara demokrasi maka kuncinya partai politik.

“Suka tidak suka partai politik itu penting. Presiden, Gubernur, Wali Kota atau Bupati kuncinya politik” ujarnya.

Terkait dengan Muhammadiyah, Bang Zul mengatakan, Muhammadiyah lahir untuk seluruh rakyat Indonesia, terbukti dalam sejarah masa-masa genting 22 Juni 1945 protes dari rakyat bagian timur supaya coret 7 kata dalam piagam Jakarta, Ki Bagus Hadikusuma akhirnya juga mencoret.

“Ini bukti Indonesia untuk semua” tegasnya.

Hadir dalam acara jajaran PDM Kendal, Bupati Kendal, Dico M. Ganinduto, Plt Ketua DPW PAN Jateng, Zaenudin Maliki, Sigit Purnomo Syamsuddin Said (Pasha Ungu), Ketua DPD PAN Kab. Kendal, Nashri, dan para Ketua PCM se Kab. Kendal. (fur)

BACA JUGA :  PC IPM Kangkung Gelar Musycab, Rizki Figo Lubis Terpilih Sebagai Ketum