Home Artikel MEMAKNAI MAULID, MENTAULADANI NABI

MEMAKNAI MAULID, MENTAULADANI NABI

0
58 views

Memaknai Maulid, Mentauladani Nabi[i]

Oleh : Rifqi Khoirul Anam

Tentang Kehidupan Rasulullah Muhammad SAW

RASULULLAH Muhammad SAW adalah satu-satunya rasul yang diutus untuk semua ras dan golongan. Ajaran yang dibawa olehnya merupakan ajaran yang universal, tidak hanya cara ibadah dan keyakinan keakhiratan, namun juga urusan duniawi yang mencakup semua sisi kehidupan manusia, mulai dari urusan makan sampai kepada ketata-negaraan.

Bulan Rabiulawal merupakan bulan agung, bulan kelahiran baginda Rasulullah saw. Rasulullah dilahirkan oleh seorang ibu bernama siti Aminah pada Isnin/Senin 12 Rabiulawal tahun Gajah, dalam keadaan yatim, karena ayahnya bernama Abdullah bin Abdul Muthalib telah meninggal dunia saat Muhammad masih didalam kandungan.

Ketika Muhammad tumbuh dewasa, beliau menjadi orang yang sangat dihormati oleh kaum Quraisy Makkah. Karena sifat beliau yang jujur dan cerdas, sehingga beliau diberi gelar “Al-Amin”.

Pada usia ke-40, beliau mengemban amanat ke-Rasulan dengan turunnya wahyu yang pertama kali (QS Al-Alaq : 1-5). Pada masa awal, beliau berdakwah menyebarkan ajaran Islam secara sembunyi-sembunyi, sebelum akhirnya terang-terangan hingga beliau dan pengikutnya harus terusir dari Makkah dan Hijrah ke Madinah. Pada usia 63 tahun, beliau wafat, setelah merubah peradaban kegelapan menjadi peradaban yang tercerahkan oleh cahaya yang terang benderang.

Maulid Nabi dan Perkembangannya

Pada awal mulanya, Rasulullah saw semasa hidupnya tidak pernah memperingati ataupun merayakan hari kelahirannya. Bahkan ke-Khalifahan setelah beliau pun tidak pernah ada perayaan maulid nabi.

Menurut sebagian sejarawan, peringatan kelahiran Nabi ada sejak zaman dinasti Fatimiyah, sedangkan sebagian yang lain menerangkan sejak zaman Salahudin Al-Ayyubi[iii]. Memang belum ada referensi yang benar-benar tepat untuk menjelaskan awal mula Peringatan Maulid Nabi.

Sebagian sejarawan berpendapat bahwa peringatan maulid nabi pada zaman Shalahudin Al-Ayyubi, dimaksudkan untuk membangkitkan semangat jihad kaum Muslimin menghadapi tentara salib. Sehingga pada masa itu diadakan kompetisi dalam mempersiapkan peperangan.

Sebagian kaum Muslimin yang menentang maulid, begitu pula sejarawan Barat menyebutkan bahwa perayaan maulid bersumber dari dinasti Fatimiyah (909-1171 M) yang berfaham Syi’ah Isma’iliyah. Selain maulid nabi, dinasti Fatimiyah juga mengadakan maulid Ali dan beberapa maulid keluarga nabi lainnya. Bahkan disebutkan maksud diadakan perayaan maulid nabi adalah sebagai syiar kaum salib, karena memiliki dasar-dasar aqidah yang mirip dengan Majusi dan Yahudi.

BACA JUGA :  Menyelesaikan Masalah dengan Percentage bar*

Terlepas dari perbedaan dengan Ahlussunah, dinasti Fatimiyah pada masa itu juga berperang menghadapi kaum salib. Sehingga pendapat sebagian Muslimin dan sejarawan barat merupakan tuduhan yang terlalu mengada-ada.

Al-Qalqashandi dalam kitab Subh al-Asya jilid III menyebutkan bahwa perayaan maulid pada dinasti Fatimiyah hanya dihadiri oleh pembesar kerajaan. Setelah para pembesar berkumpul, hidangan disajikan kemudian acara dimulai dengan pembacaan ayat Al-Qur’an, kemudian dilanjutkan dengan khutbah selama III kali berturut-turut dengan khotib yang berbeda.

Memperingati Maulid Nabi

Secara bahasa maulid Nabi bermakna ‘waktu kelahiran’, atau ‘tempat kelahiran’ Nabi saw. Setiap tanggal 12 Rabiulawal, perayaan maulid dilakukan di hampir seluruh negara Islam. Sampai dengan saat ini, masih banyak pro-kontra menyelimuti perayaan maulid Nabi.

Dalam sejarah penyebaran Islam di Nusantara, perayaan maulid Nabi (Muludan) dilakukan oleh Wali Songo untuk sarana dakwah dengan berbagai kegiatan menarik masyarakat agar mengucapkan Syahadatain sebagai tanda memeluk Islam. Oleh karena itu, awal mula tersebar luaskannya Islam di bumi nusantara ini, salah satunya adalah dengan cara perayaan maulid nabi.

Para Wali menyusun strategi agar agama Islam bisa diterima oleh masyarakat, karena Islam merupakan agama yang damai dan mudah diterima. Pada dasarnya ajaran wali tersebut adalah makna Syahadatain-nya yang sakral dan diutamakan, bukan prosesi-prosesi dalam perayaannya.

Allah SWT menyerukan kepada seluruh manusia beriman untuk memuliakan Rasulullah, menolong dan mengikuti ajarannya. Maka Allah SWT menjanjikan pada orang yang memuliakan dan mengikuti Rasulullah, bahwa Dia akan melimpahkan rahmat-Nya kepada orang yang bertaqwa, menunaikan zakat dan beriman kepada Ayat-ayat-Nyatersebut.

“ (Yaitu) orang-orang yang mengikuti Rasul, Nabi yang Ummi (tidak bisa baca tulis) yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada pada mereka, yang menyuruh mereka berbuat yang makruf dan mencegah dari yang mungkar, dan menghalalkan segala yang baik bagi mereka dan mengharamkan segala yang buruk bagi mereka, dan membebaskan beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka. Adapun orang-orang yang beriman kepadanya, memuliakannya, menolongnya, dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (Al-Qur’an), mereka itulah orang-orang yang beruntung.”

(QS Al-A’raf : 157)

Perayaan Maulid Nabi Sekarang

Di Yogyakarta dan Surakarta (dahulu wilayah kerajaan Mataram), perayaan maulid nabi dikenal dengan nama “sekaten”. Nama sekaten merupakan pengucapan jawa dari lafadz sebenarnya “syahadatain”. Tradisi sekaten diawali oleh Wali Songo dalam masa penyebaran Islam di Jawa.

BACA JUGA :  Warna Warni Apel Milad Muhammadiyah ke 107 Di Kendal, Mulai Dari Mengarak Bendera Muhammadiyah Sampai Dengan Pencekalan Peserta Apel Milad

Dalam perayaan maulid Nabi, 7 hari sebelum tanggal 12 Rabiulawal, dibunyikan suara gamelan untuk mengundang masyarakat untuk berkumpul. Setelah masyarakat berkumpul, kemudian dijelaskanlah riwayat hidup Nabi Muhammad dan ajaran Islam yang dibawanya. Masyarakat selanjutnya dibimbing untuk masuk Islam dengan mengucapkan dua kalimat Syahadat.

Sampai sekarang tradisi sekaten masih dirayakan di kesultanan Yogyakarta dan Surakarta. Bahkan, sejak sekitar 10 tahun lalu tradisi sekaten menjadi ajang komersil, yakni dengan adanya pasar malam dan hiburan-hiburan lainnya.

Dalam perayaan maulid Nabi yang digelar, setidaknya dapat mengingatkan kita pada perjuangan para Wali Songo dalam menyebarkan Islam. Maulid Nabi juga dapat mengingatkan kembali umat Islam tentang kelahiran Rasulullah saw, manusia terbaik yang pernah ada, dan perjuangan-perjuangan beliau. Namun, seringkali kita melihat perayaan maulid Nabi tidak sesuai dengan esensinya.

Zaman dahulu, momen maulid digunakan sebagai penguatan Islam baik secara Aqidah maupun ukhuwah dan semangat Jihad. Sekarang maulid hanya dimaknai sebagai ritual-ritual yang disakralkan bahkan menjadi ajang komersil. Ada juga yang merayakan maulid nabi dengan cara-cara sesat, yang merusak aqidah, dengan sesaji-sejaji yang pada umumnya hasil bumi, yang dipersembahkan untuk ruh, dan kemudian diperebutkan beramai-ramai oleh masyarakat. Itu adalah hal kurang cerdas masyarakat kita, dengan mengatasnamakan cinta kepada Rasul.

Berdasar cinta dan memuliakan Rasul, sehingga mereka mengharap syafaat dari Rasulullah saw. Allah SWT telah menjelaskan dalam firman-Nya :

“Katakanlah (Muhammad),”Aku tidak kuasa mendatangkan manfaat maupun menolak mudarat bagi diriku kecuali apa yang dikehendaki Allah. Sekiranya aku mengetahui yang ghaib, niscaya aku membuat kebajikan sebanyak-banyaknya dan tidak akan ditimpa bahaya. Aku hanyalah pemberi peringatan, dan pembawa berita gembira bagi orang-orang yang beriman.”

(QS Al-A’raf : 188)

Sikap Mentauladani Rasul

Semestinya momen maulid Nabi, dapat kita maknai sebagai kesempatan kita untuk introspeksi diri. Menyadari bahwa diri kita masih jauh dari ajaran dan sifat-sifat Rasul. Meluruskan Aqidah kita jangan sampai ternodai dengan kesyirikan.

Membenarkan praktek ibadah kita yang masih kurang, salah dan belum sesuai dengan apa yang dituntunkan Nabi. Memperbaiki akhlaq kita dengan mencontoh akhlaqul-karimah yang dicontohkan Nabi, karena tidaklah Rasulullah saw diutus, kecuali untuk menyempurnakan akhlaq.

BACA JUGA :  Renungan Syawwal : Tingkatkan Kepedulian Kepada Yang Terdampak Covid-19

Rasulullah dikenal dengan julukan “Al-Amin”, jujur dan dapat dipercaya, untuk itu, kita sebagai umatnya harus bisa mencontoh kejujuran beliau. Rasul memiliki sikap lemah lembut, tidak bersikap keras dan berhati kasar, pemaaf dan memohonkan maaf untuk orang lain, oleh karenanya kita harus dapat menjadikan Rasulullah benar-benar menjadi suri tauladan dan acuan dalam segala tindakan kita. Sikap-sikap Rasul, Allah terangkan dalam firman-Nya sebagai berikut :

“Maka berkat rahmat Allah engkau (Muhammad) berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya engkau bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekitarmu. Karena itu maafkanlah mereka dan mohonkanlah ampunan untuk mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian, apabila engkau telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sungguh, Allah mencintai orang-orang yang bertawakal.”

(QS Ali Imran :159)

Masih banyak sifat-sifat terpuji Rasulullah yang semestinya kita contoh. Baik dalam segi kepribadian dan keseharian beliau hingga segi kepemimpinan dalam mengelola negara.

Untuk itu, dalam tulisan ini kami hanya mengingatkan kepada diri kita sendiri serta pembaca sekalian untuk memaknai momentum Maulid Nabi dengan cara-cara yang benar, yaitu sebagai ajang mengingat ajaran dan sifat-sifat Rasul dan selalu mencontohnya. Karena beliau-lah suri tauladan yang baik bagi kita semua. Allah berfirman :

 “Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat dan yang banyak mengingat Allah.”

 (QS Al-Ahzab : 21)

Kemudian yang kedua, mari kita gunakan momen Maulid, untuk memperkuat ukhuwah Islam, Allah SWT menyuruh kita untuk saling mengingatkan dan saling menasehati dan kebaikan dan sabar (QS Al-Ashr :3), bukan malah saling menyalahkan dan membuat agama Islam menjadi terpecah belah. Perpecahan itulah yang dilarang oleh Allah SWT (QS Ali-Imran : 103).

“Dan berpegang-teguhlah padatali (agama) Allah, dan Janganlah bercerai-berai….”

(QS Ali-Imran : 103)

Wallahu a’lam bi ash-shawaab.

Billahi fii sabililhaq-Fastabiqul Khairaat

[i] Artikel ini ditulis saat Penulis menyaksikan fenomena peringatan maulid nabi dibeberapa daerah, dalam sebuah perjalanan yang ditemani kesunyian. Pernah diterbitkan dalam buletin Nurul Huda, Masjid Al-Hidayah, Bangil, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur, tahun 2014. Diterbitkan kembali untuk tujuan pendidikan. (Catatatan : Sebagian sumber pustaka tidak terdokumentasikan)

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here