Membedah Lirik Lagu ‘Mendung Tanpo Udan’ Dalam Acara ASBO Njadum PC IPM Kangkung

0
116 views

KENDALMU.COM | KANGKUNG. Dalam beberapa waktu lalu terdapat sebuah aliran umat Islam yang memunculkan pertentangan antara pelaku budaya dan penganut agama. Mereka menganggap bahwa budaya dan Islam itu sesuatu yang bertentangan, seperti kubu kiri dan kanan yang tidak bisa saling bertemu, ibarat lagu yang dipopulerkan Ndarboy Genk, Mendung Tanpo Udan.

Demikian awal diskusi yang disampaikan pembicara tunggal oleh Ketua Bidang Lingkungan Hidup DPD IMM Jawa Tengah, Rifqi Khoirul Anam pada Sabtu (11/9) di Bourjuis Cafe, Jalan  Tentara Pelajar Kendal dengan pemantik diskusi Sekretaris PC IMM Kangkung, Surya Setiawan.

Rifqi Khoirul Anam menyebut lyrik lagu : ‘Awak dewe tau duwe bayangan, Besok yen wis wayah omah-omahan, Aku moco koran sarungan, Kowe belonjo dasteran’ memiliki makna antara membaca koran dan belanja memakai daster adalah sebuah fenomena sosial yang tidak bisa dipertemuan.

“Membaca koran menunjukan kubu yang memiliki literasi dan ilustrasi pemikir sedangkan kedua adalah orang belanja yang melambangkan kubu yang berprinsip konsumtif, jelas tidak bisa bersatu” terangnya.

Lirik selanjutnya ‘nanging saiki wes dadi kenangan aku karo kowe wes pisahan, aku kiri kowe kanan wes bedo dalan’ yang di ibaratkan bagaikan dua golongan ideologi dunia yang bertentangan, yakni ideologi kiri yang berarti sosialis yang menggunakan literasi dan budaya sebagai alat meraih masa, dan kubu kanan yang berideologi fundamentalis yang memiliki keteraturan yang bertolak belakang dengan seni budaya yang bersifat abstrak.

Kiki, panggilan akrab Rifqi Khoirul Anam, mengilustrasikan bahwa pandangan dan perspektif yang bertentangan menjadi penyebab perpecahan antara dua kubu, sehingga menjadikan hal tersebut adalah dua pilihan bagi pemuda untuk mengambil sikap.

“Namun jika disikapi dari prespektif yang moderat yaitu mengambil jalan tengah dimana kita dapat memanfaatkan media seni sebagai alat dakwah yang moderat namun tanpa mengurangi dari nilai keIslaman itu sendiri.” Imbuh alumni UMY.

BACA JUGA :  Jaga Alam Sekitar, KOKAM Kendal Tanam 500 Bibit Tanaman dalam Gerakan KOKAM Kendal Menanam

Kiki juga mengungkap, bahwa sejarah ulama’ juga menggunakan metode penyampaian dakwah menggunakan seni seperti sunan Kalijaga yang memperkenalkan agama Islam dengan kesenian wayang dan hal tersebut sudah menjadi budaya yang turun-temurun hingga sekarang.

Diskusi itu diselenggarakan oleh Bidang Apresiasi Seni Budaya dan Olahraga (ASBO) PC IPM Kangkung yang dihadiri oleh Bidang ASBO PW IPM Jawa Tengah, dan segenap anggota IPM Kangkung.

Ketua PC IPM Kangkung, Riski Figo Lubis menyampaikan, salah satu kecenderungan anak-anak muda adalah nongkong santai, dan kebiasaan itu perlu dikemas dalam nuasa ilmiah melalui diskusi yang cukup berbobot. (tria)