Menakar Kepedulian Muhammadiyah Terhadap Seni dan Budaya (Refleksi Sillaturrahmi LSBO PP Muhammadiyah di Kendal)

0
3 views

Oleh : Abdul Ghofur

BEBERAPA waktu lalu, tepatnya 24 Oktober Lembaga Seni Budaya dan Olahraga (LSBO) PP Muhammadiyah menyambangi PDM Kendal. Kehadiran tiga personil jajaran LSBO tersebut selain bersillaturrahmi dengan pimpinan Muhammadiyah Kendal, juga ada missi mulia, menanamkan jiwa seni bagi para guru kesenian di Kendal yang selama ini dinilai masih sebatas rutinitas mengajar berbasis selesai materi pelajaran.

Sebelum tulisan ini kita lanjut, pembaca kami ajak untuk belok arah, melihat Muhammadiyah dalam memandang seni dan budaya sebagai upaya dakwah Islam

Ada pandangan bahwa gerakan dakwah Muhammadiyah jauh dari kesenian dan kebudayaan. Jika itu shohih, Muhammadiyah bisa kehilngan jiwa seni dan budaya dalam menyampaikan dakwahnya di tengah-tengah masyarakat. Ada pandangan lagi yang lebih shameingism, bahwa Muhammadiyah dinilai terlalu kaku dalam mensikapi kesenian. Jika itu diiyakan, pengikut Muhammadiyah akan berkurang.

Dalam putusan Munas Tarjih ke 23 di Denpasar 2002 terdapat 12 point terkait pandangan Muhammadiyah terhadap kesenian dan kebudayaan, salah satunya adalah point ke 9 yang menyatakan, bahwa menciptakan dan menikmati karya seni hukumnya mubah (boleh) selama tidak mengarah dan mengakibatkan fasad (kerusakan), darar (bahaya), ‘isyan (kedurhakaan), dan ba’id’anillah (keterjauhan dari Allah), yang merupakan rambu proses penciptaan dan menikmatinya. Dalam hal menciptakan dan menikmati kesenian dan kebudayaan jangan ragu untuk berkreatifitas, karena berkesenian dan berkebudayaan adalah urusan dunia.

Islam dihadirkan untuk manusia karena memiliki kandungan seni dan budaya yang unggul agar dalam menjalani kehidupan sampai akhir hayat memiliki estetika. “Bahkan sampai kiamat tidak ada yang bisa menandingi buah sastra sang maha penyair, Dia yang indah dan menyukai keindahan” kata wakil ketua PDM Kendal, KH. Moh.Farchan Tontowi saat menyampaikan kata sambutan pada sillaturrahmi dengan LSBO PP Muhammadiyah di Kendal beberapa waktu lalu. Beliau bahkan menegaskan, apabila warga Muhammadiyah mampu menempatkan nilai seni dan olahraga dalam konteks dakwah Islam, Allah tidak ragu untuk memberi predikat sebagai ummat yang terbaik.

BACA JUGA :  [KABAR MUKTAMAR] Kemegahan Gedung Edutorium UMS Sebagai Perhelatan Muktamar 48, Siapa Perancangnya ?

Tetapi keprihatinan muncul di akar rumput, ketika lahir para seniman-siniman Muhammadiyah di tingkat bawah tidak terurus. “Kami mengakui anak-anak pelajar Muhammadiyah setelah lulus banyak yang memiliki jiwa seni, tetapi mereka tidak terurus dan mengikuti kelompok-kelompok pemain film yang diurusi oleh orang yang bukan berlatar belakang agama” kata wakil ketua LSBO PP Muhammadiyah, Jabrodin. Mereka para seniman yang kita miliki lantaran tidak terurus, kata Jabrodin menjadi tidak benar dalam berkesenian.

Beliau juga mengakui, film-film yang diproduksi oleh rumah produksi-rumah produksi di Jakarta di bawah cinemart atau kelompok Rambujabi Sha banyak anak-anak Muhammadiyah. “Tetapi untuk menjaga stamina mereka harus dopping dengan obat-obat yang dilarang oleh pemerintah, dan itu kita tidak mengurusi” ungkapnya.

“Inul Daratista, ratu goyang ngebor adalah alumni SD dan SMP Muhammadiyah” ungkapnya memberikan contoh kepada penyanyi yang punya nama asli Ainur Rokhimah. Tetapi ketika goyangannya dikritik oleh Muhammadiyah, apa jawab Inul ? “Tidak ngurusi kok ngritik.”

Kita punya film Sang Pencerah, Laskar Pelangi, yang semua pimpinan Muhammadiyah membuat instruksi untuk nonton film tersebut.”Apa yang diperoleh oleh Muhammadiyah dengan kedua film tersebut ?. Kita tidak dapat pengalaman jadi artis, produser, teknisi film dan duit juga tidak dapat. “Maka kita ingin membuat film yang berangkat dari Muhammadiyah oleh Muhammadiyah dan untuk Muhammadiyah” tegasnya dan berharap film yang sedang proses syuting ‘Jejak Langkah 2 Ulama’ dapat sukses.

Menarik benang merah dari uraian di atas, Muhammadiyah belum memiliki kompetensi untuk melahirkan para seniman yang berlatar belakang program studi pendidikan seni peran (film), tari dan musik  dari PTM. Para seniman yang telah lahir, besar, dan beraroma Muhammadiyah bukan karena hasil pendidikan seni di PTM, tetapi gesekan, asah dan asuh mereka sendiri dengan dunia seni yang mereka geluti secara total. Maka pendirian PTM dengan program seni  masih menjadi tantangan sekaligus peluang bagi pengembangan model dakwah amar ma’ruf nahi mungkar.

BACA JUGA :  Ustadz Khaerul Anwar ; Soal Wabah, Mari Belajar Dari Nabi Ayyub

Kompetisi, lomba film pendek dewasa ini semakin marak menjadi salah peluang bagi anak-anak muda Muhammadiyah untuk bisa tampil di ajang tersebut sebagai pembelajaran dan pengalaman yang sangat berharga untuk menghasilkan insan-insan film yang bermoral Muhammadiyah, maka gelaran sillaturrahmi LSBO PP Muhammadiyah di Kendal diharapkan ada tindak lanjut kongkrit untuk menumbuhkembangkan jiwa seni dan budaya warga Muhammadiyah Kendal sebagai upaya menciptakan seniman-seniman Muhammadiyah sebagai piranti dakwah. Wallahu ‘alam.

(Abdul Ghofur adalah sekretaris Majelis Pustaka dan Informasi PDM Kendal, dan pecinta seni)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here