Beranda Artikel Meneladani Perjuangan Kyai Dahlan

Meneladani Perjuangan Kyai Dahlan

0
94 views
Naufal Abdul Afif (Ketua Umum PK IMM Universitas Ibn Khaldun Bogor)

Oleh : Naufal Abdul Afif (Ketua Umum PK IMM Universitas Ibn Khaldun Bogor)

KYAI Haji Ahmad Dahlan (Lahir di Kauman, Yogyakarta, tahun 1868), adalah putra dari KH. Abu Bakar bin Kyai Sulaiman, seorang khatib tetap di Masjid Agung Yogyakarta. Ketika lahir, Abu Bakar memberi nama si anak dengan Muhammad Darwis.

Di usia balita, oleh kedua orangtuanya, Darwis sudah diperkenalkan dengan pendidikan agama. Yang Pertama kali menggemblengnya adalah ayahnya sendiri, lalu para kiai di sekitar Yogyakarta. Sebagaimana umumnya anak-anak kiai, Darwis belajar ilmu-ilmu agama dan bahasa Arab.

Dengan bekal bahasa Arab dan ilmu-ilmu agama yang diperolehnya di Yogyakarta itu, pada tahun 1888, Darwis menunaikan ibadah haji, sekaligus bermukim di Mekah guna menuntut ilmu selama 4 tahun. Di bumi Mekah inilah Darwis memperdalam ilmu-ilmu keIslamannya, seperti, antara lain, ilmu qiraat, fikih, tasawuf, ilmu mantik, ilmu falak, akidah, dan tafsir. Pada tahun 1902, Darwis kembali kekampung halamannya. Kali ini, ia tampil dengan nama baru, “Ahmad Dahlan”. (Heri Muhammad, 2006: 7-8)

Dengan ilmu yang ia dapatkan selama masa belajar, Rupanya Ahmad Dahlan ingin berjuang dalam dunia dakwah. Akhirnya ia memutuskan untuk masuk ke Budi Utomo, Jami’at Khair, dan Sarekat Islam, dakwah yang dilakukan Ahmad Dahlan meluas, dan mendapat dukungan dari banyak pihak. Ide-ide pambaruannya juga didukung oleh kalangan modernis dan perkotaan.

Namun di balik semua itu penindasan dari sistem tanam paksa, (1830-1919 M) begitu mengetuk nilai-nilai kemanusiaan dalam hatinya. kemiskinan, kebodohan, rendahnya nilai kesehatan, rusaknya aqidah, membengkaknya jumlah yatim piatu, kesengsaraan umat.

Tantangan zaman yang demikian dijawab oleh KH Ahmad Dahlan dengan gerakan reformasi sistem dakwah agama, dan pendidikan, serta sosial, membangun sekolah, panti yatim piatu dan penolong kesengsaraan umat. Maka, setelah mendapat masukan dan dukungan dari berbagai pihak, pada 18 November 1912 Ahmad Dahlan mendirikan Muhammadiyah. (Ahmad Mansur, 4: 424).

BACA JUGA :  Menakar Kepedulian Muhammadiyah Terhadap Seni dan Budaya (Refleksi Sillaturrahmi LSBO PP Muhammadiyah di Kendal)

Pada 20 Desember I912 Kyai Haji Ahmad Dahlan mengajukan rechtpersoon surat permohonan kepada pemerintah agar Muhammadiyah diakui sebagai organisasi berbadan hukum yang diakui oleh pemerintah. Permohonan itu disetujui oleh pemerintah pada 22 Agustus I914, izin lersebut hanya berlaku untuk daerah Yogyakana. (Djoko marihandono, 2015:196)

Adapun misi dakwah pertama yang diusung Muhammadiyah adalah kembali ke Al-Qur‘ an dan Sunnah Nabi Muhammad saw. Ia melihat, bahwa umat Islam telah jauh melenceng dari apa yang digariskan oleh Nabi Muhammad saw.

Pada saat yang bersamaan, sistem pendidikan yang membuat mereka kembali ke ajaran yang benar, masih minim jumlahnya. Karena itu, tugas Muhamamdiyah, selain memperbaiki keimanan melalui pendidikan, ia juga berdakwah dengan karya nyata.

Muhammadiyah didirikan Sebagai jawaban terhadap keruntuhan nilai-nilai kemanusiaan, dampak lanjut penindasan sistem Tanam Paksa, 1245- 1337H/1830- 1919 M, melahirkan, kemiskinan, kebodohan, rendahnya nilai kesehatan, rusaknya aqidah, membengkaknya jumlah yatim piatu, kesengsaraan umat.

Tantangan zaman yang demikian dijawab oleh K.H. Ahmad Dahlan dengan gerakan reformasi sistem dakwah agama dan pendidikan serta sosial, membangun sekolah, panti yatim piatu dan Penolong Kesengsaraan Umat bersama Nyai Ahmad Dahlan dengan Aisyiah dibangkitkannya kesadaran seluruh umat Islam untuk berfastabiqul khairat -berlomba-lomba dalam kebaikan.

Maka dari itu, dengan hadir nya muhammadiyah ditengah masyarakat diharapkan dapat mengentaskan kemiskinan, mencerdaskan umat, menjamin kesehatan masyarakat, menbenarkan aqidah dan memurnikannya, mengayomi dan memberi kan kebutuhan para yatim, dan mensejahterakan seluruh umat manusia yang ada di Republik Indonesia tercinta ini.

Dari refleksi perjuangan kyai Dahlan ini, kita sebagai warga dan kader muhammadiyah harus sadar dan banyak introspeksi diri karena masih begitu banyak kekurangan dalam diri muhammadiyah yang harus kita benahi, bukan berarti jelek dan tidak baik, namun lebih kepada tantangan kita sebagai kader penerus persyarikatan, apa peran kita dalam memperjuangkan Muhammadiyah, apa yang telah kita berikan untuk kehidupan muhammadiyah.

BACA JUGA :  Renungan Ramadhan : Meninggalkan Kita Dan Kita Tertinggal

Jika dulu kyai dahlan pernah berkata “Hidup-hidupilah muhammadiyah jangan mencari hidup di muhammadiyah.” maka izinkan saya ingin berkata, “hidup, berjuang dan berkorban lah di muhammadiyah, jangan kau gadaikan muhammadiyah, jangan kau hianati muhammadiyah”.