Mengenal Arti Zakat, Shadaqah, Infak, Hibah, Hadiah dan Wakaf

0
16 views
( Ilustrasi sumber dari Google )

Oleh : Ustadz Margo Hutomo, L.c.

 

Makna dan pengertian Zakat

Dalam masyarakat beredar sebuah pemahaman, bahwa zakat adalah sejumlah harta yang telah ditentukan jenis dan kadar yang harus dibayarkan kepada pihak yang berhak menerimanya pada waktu yang telah ditentukan. Dan zakat adalah juga merupakan salah satu rukun agama Islam.

Allah swt. berfirman, artinya:

“Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan ruku’lah beserta orang-orang yg rukuk.” (QS. Al Baqarah 43)

Pemahaman yang demikian memang benar, namun ada hal yang perlu diperhatikan, bahwa kadangkala para ulama menggunakan kata zakat untuk istilah zakat sunah.

Menurut Ibnul Arabi  Kata zakat memang sering digunakan untuk menyebut zakat wajib, namun kadangkala juga digunakan untuk menyebut zakat sunah, nafkah, hak, dan memaafkan suatu kesalahan. (Fathul Bari, 3:296)

 

Makna dan pengertian shadaqah

Kata shadaqah dalam banyak dalil memiliki makna yang sama dengan kata zakat, sebagaimana disebutkan pada ayat berikut, artinya:

“Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka.” (QS. At Taubah: 103)

Dalam hadis yang shahih, Nabi saw. bersabda, artinya:

“Bila anak Adam meninggal dunia, maka seluruh pahala amalannya terputus, kecuali pahala tiga amalan: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak shaleh yang senantiasa mendoakan kebaikan untuknya.” (HR. at-Tirmidzi dan lainnya)

Berdasarkan hadits ini , Imam Mawardi menyimpulkan: Shadaqah adalah zakat, dan zakat adalah shadaqah. Dua kata yang berbeda teksnya namun memiliki arti yang sama. (al Ahkam as-Sulthaniyyah, Hal. 145)

Dengan demikian shadaqah adalah sebuah kata yang mencakup yang wajib dan juga yang sunah, asalkan bertujuan untuk mencari keridhaan Allah swt.semata. Oleh karena itu, sering kali kita tidak perduli bahkan mungkin tidak merasa perlu untuk mengenal nama penerimanya.

Walau demikian, dalam beberapa dalil, kata shadaqah memiliki makna yang lebih luas dari sekedar membayarkan sejumlah harta kepada orang lain. Shadaqah dalam beberapa dalil digunakan untuk menyebut segala bentuk amal baik yang berguna bagi orang lain atau bahkan bagi diri sendiri.

Suatu hari sekelompok sahabat miskin mengadu kepada Rasulullah saw. perihal rasa cemburu mereka terhadap orang-orang kaya. Orang-orang kaya mampu mengamalkan sesuatu yang tidak kuasa mereka kerjakan yaitu menyedekahkan harta yang melebihi kebutuhan mereka. Menanggapi keluhan ini, Rasulullah saw. memberikan solusi kepada mereka melalui sabdanya, artinya:

BACA JUGA :  Ibu Benteng Utama Keluarga pada Masa Pandemi Covid 19

“Bukankah Allah telah membukakan bagi kalian pintu-pintu shadaqah? Sejatinya setiap ucapan tasbih bernilai shadaqah bagi kalian, demikian juga halnya dengan ucapan takbir, tahmid, dan tahlil. Sebagaimana memerintahkan kebajikan dan melarang kemungkaran juga bernilai shadaqah bagi kalian. Sampai pun melampiaskan syahwat kemaluan kalian pun bernilai shadaqah.” Tak ayal lagi para sahabat keheranan mendengar penjelasan beliau ini, sehingga mereka kembali bertanya: “Ya Rasulullah, apakah bila kita memuaskan syahwat, kita mendapatkan pahala?” Beliau menjawab: “Bagaimana pendapatmu bila ia menyalurkannya pada jalan yang haram, bukankah dia menanggung dosa?” Demikian pula sebaliknya bila ia menyalurkannya pada jalur yang halal, maka iapun mendapatkan pahala. (HR. Muslim)

 

Makna dan pengertian Infak

Kata infak dalam dalil-dalil Al quran, hadits dan juga budaya ulama, memiliki makna yang cukup luas yang mencakup semua jenis pembelanjaan harta kekayaan.

Allah swt.berfirman, artinya:

“Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebih-lebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian.” (QS. Al-Furqan: 67).

Hal serupa juga nampak dengan jelas pada sabda Nabi saw. artinya:

“Kelak pada hari Qiyamat, kaki setiap anak Adam tidak akan bergeser dari hadapan Allah hingga ditanya perihal lima hal: umurnya untuk apa ia habiskan, masa mudanya untuk apa ia lewatkan, harta kekayaannya dari mana ia peroleh dan kemana ia infakkan (belanjakan) dan apa yang ia lakukan dengan ilmunya.” (HR. at-Tirmidzi)

Kemanapun dan untuk tujuan apapun, baik tujuan yang dibenarkan secara syariat ataupun diharamkan, semuanya disebut dengan infak. Oleh karena itu, mari kita simak kisah perihal ucapan orang-orang munafik yang merencanakan kejahatan kepada Rasulullah saw.dan para sahabatnya, Allah ceritakan, yang artinya:

“Sesungguhnya orang-orang kafir menafkahkan harta mereka untuk menghalangi (orang) dari jalan Allah. Mereka akan menafkahkan harta itu, kemudian menjadi penyesalan bagi mereka, dan mereka akan dikalahkan. Dan ke dalam neraka Jahanamlah orang-orang kafir itu dikumpulkan.”  (QS. Al-Anfal: 36)

Oleh karena itu pada banyak dalil perintah untuk berinfak disertai dengan penjelasan infak di jalan Allah, sebagaimana pada ayat berikut, artinya:

BACA JUGA :  Milad Muhammadiyah 107 “Mengabdi untuk bangsa yang Berkemajuan”

“Dan infakkanlah/belanjakanlah (harta bendamu) di jalan Allah.” (QS. Al-Baqarah: 195)

 

Makna dan pengertian Hibah

Ketika kita memberikan sebagian harta kepada orang lain, pasti ada tujuan tertentu yang hendak kita capai. Bila tujuan utama dari pemberian kita itu adalah rasa iba dan keinginan menolong orang lain, maka pemberian ini diistilahkan dalam syariat Islam dengan hibah. Rasa iba yang menguasai perasaan kita ketika mengetahui atau melihat kondisi penerima pemberian lebih dominan dibanding  kesadaran untuk memohon pahala dari Allah. Sebagai contoh, mari kita simak ucapan sahabat Abu Bakar ketika membatalkan hibahnya kepada putri beliau tercinta Aisyah ra., artinya:

“Wahai putriku, tidak ada orang yg lebih aku cintai agar menjadi kaya dibanding engkau dan sebaliknya tidak ada orang yg paling menjadikan aku berduka bila ia ditimpa kemiskinan dibanding engkau. Sedangkan dahulu aku pernah memberimu hasil panen sebanyak 20 wasaq (sekitar 3.180 Kg). Bila pemberian ini telah engkau ambil, maka yang sudah tidak mengapa, namun bila belum maka pemberianku itu sekarang aku tarik kembali menjadi bagian dari harta warisan peninggalanku.” (HR. Imam Malik)

 

Makna dan pengertian Hadiah

Diantara bentuk pemberian harta kepada orang lain yang juga banyak dikenal oleh masyarakat adalah hadiah. Dan semua kita pasti sudah pernah memberikan suatu hadiah kepada orang lain atau mungkin juga kita menerimanya dari orang lain. Tentu kita menyadari bahwa hadiah kita tidaklah akan diberikan kepada sembarang orang, apalagi kepada orang yang belum kita kenal. Hanya orang-orang tertentu sajalah yang berhak mendapatkan hadiah dari kita.

Hadiah yg kita berikan kepada seseorang, sejatinya hanyalah salah satu bentuk dari penghargaan kita kepada penerimanya. Sebagaimana melalui hadiah yang kita berikan, seakan kita ingin meningkatkan hubungan yang lebih erat antara kita dengannya.

Menurut Rasulullah saw. makna hadiah adalah sebagaimana sabdanya, artinya:

“Hendaknya kalian saling memberi hadiah niscaya kalian saling cinta mencintai.”  (HR. Bukhari dalam kitab al-Adab al-Mufrad)

Berdasarkan sabdanya ini, kita dapat mengetahui berbagai pemberian yang selama ini oleh berbagai pihak disebut dengan hadiah, semisal hadiah pada pembelian suatu produk, atau undian atau lainnya. Pemberian-pemberian ini sejatinya tidak layak disebut hadiah, mengingat semuanya sarat dengan tujuan komersial, dan pamrih, bukan untuk tujuan meningkatkan keeratan hubungan yang tanpa pamrih dan komersial.

BACA JUGA :  Moderasi Beragama, Titik balik kesuksesan Dakwah Islam

 

Makna dan Pengertian Wakaf

Secara bahasa, wakaf adalah al habs dan al man’u, artinya menahan atau mencegah. Kata al waqf adalah bentuk masdar (kata benda) dari ungkapan waqfu al syai, artinya menahan sesuatu.

Wakaf adalah salah satu bentuk amal jariyah yang pahalanya secara terus menerus mengalir selama wakafnya dimanfaatkan oleh pihak lain untuk hal yang dibenarkan oleh syariat.

Wakaf memiliki dua tujuan,

Pertama, untuk mengentaskan kefakiran dan kemiskinan, baik yang bersifat lahir maupun batin. (horisontal).

Kedua, untuk mendekatkan diri kepada Allah swt.(vertikal).

Menurut PP. Nomor 28 tahun 1997, tentang perwakafan tanah dijelaskan, bahwa wakaf itu adalah perbuatan hukum seseorang atau badan hukum yang memisahkan sebagian harta kekayaannya berupa tanah milik dan melembagakan selama-lamanya untuk kepentingan peribadatan atau keperluan lainnya sesuai ajaran Islam.

Para ulama dalam menanggapi istilah wakaf memiliki beragam Pengertian,;

Pertama, wakaf menuruti madzhab Abu Hanifah dan Ulama Hanafiah

Ulama Hanafiyah mendefinisikan, bahwa wakaf adalah kepemilikan harta wakaf yang tidak terlepas dari wakif. Bahkan wakif dibenarkan menariknya kembali dan boleh menjualnya. Jadi yang timbul dari wakaf hanyalah “menyumbangkan manfaat”.

Kedua, pengertian wakaf menurut mazhab Malikiyah

Menurut ulama Malikiyah, wakif menahan benda dari penggunaannya secara kepemilikan, tetapi membolehkan pemanfaatan hasilnya untuk tujuan kebaikan, yaitu pemberian manfaat benda secara wajar sedang benda itu tetap menjadi milik si wakif. Perwakafan menurut Malikiyah berlaku suatu masa tertentu, dan karenanya tidak boleh disyaratkan sebagai wakaf kekal (selamanya).

Ketiga, pengertian wakaf menurut mazhab Syafi’i

Bahwa harta wakaf terlepas dari penguasaan wakif, dan harta wakaf sifatnya harus kekal serta dimanfaatkan pada sesuatu yang diperbolehkan oleh syariat.

Keempat, pengertian wakaf menurut mazhab Ahmad bin Hambal

Menurut ulama bermadzhab Ahmad bin Hambal, wakaf adalah menahan kebebasan pemilik harta dalam membelanjakan harta yang diwakafkannya, dan hak kewenangannya atas benda yang diwakafkannya itu harus putus. Selain itu harus dipergunakan untuk hal-hal yang bersifat mendekatkan diri kepada Allah.

Demikianlah sekilas uraian yang bisa kami sampaikan.

Semoga bermanfaat.