Menyelesaikan Masalah dengan Percentage bar*

4
5 views

Oleh Intan Kumala Trisni, S.Pd.

Guru Matematika SMP Muhammadiyah 1 Weleri

*Artikel ini bagian dari penelitian PTK yang meraih juara III lomba PTK pada Olympicad 2019

Pernahkah Bapak Ibu berpikir untuk berbisnis jualan makanan online seperti yang disediakan oleh fasilitas ojek online? Saudara bisa meningkatkan penjualan makanan yang biasa dijual pada satu kampung saja menjadi jualan yang jangkauan konsumennya lebih luas dengan bantuan aplikasi ini. Eits, tunggu dulu, baca artikel ini dan bagikan ilmunya ke murid-murid agar tidak merugi.

Jualan online bisa sangat menguntungkan jika menguasai perhitungan matematika terutama hitung persen. Bayangkan dengan jangkauan pembeli yang lebih luas dari hanya sekedar jualan di sekitar kampung, omset penjualan makanan bisa meningkat hingga puluhan kali lipat. Jualan makanan online juga tidak mengharuskan pedagang memiliki atau menyewa warung yang mahal di pinggir jalan besar. Sebagai gantinya pedagang harus membayar biaya bagi hasil (atau sewa) atas Ruko onlinenya. Dalam jualan makanan online, penyedia layanan menerapkan aturan bagi hasil 80% untuk penjual, 20% untuk penyedia layanan jualan online. Di sini, peran matematika, yaitu penguasaan hitung persen akan sangat mempengaruhi pedagang dalam menentukan harga jual makanan yang mereka pajang di warung online mereka.

Begitu penting kompetensi persen, tetapi banyak sekali yang tidak menguasainya. Hasil survei yang saya lakukan terhadap sejumlah penjual makanan online adalah banyak penjual makanan yang shock dan kaget dengan tagihan bagi hasil yang begitu banyak, dan itu di luar perhitungan penjual. Hal ini karena kesalahan pemilik warung dalam menentukan harga. Misalnya nasi goreng yang dijual offline 10 ribu rupiah akan dipajang online. Dengan asumsi bagi hasil 20%, pedagang langsung menambahkan 20% dari 10ribu menjadi 12ribu. Padahal harusnya 12.500,- ada kerugian sekitar 500 rupiah yang kalau dikalikan ratusan atau ribuan porsi makanan dalam waktu satu bulan, itu angka yang fantastis. Pengalaman memang mahal harganya, tetapi kalau saja konsep perhitungan persen dikuasai oleh masayarakat, kerugian ini tidak akan terjadi. Ketidakmampuan masyarakat dalam hitung persen adalah bentuk kegagalan produk pembelajaran persen yang selama ini dilakukan di sekolah dimana nanti siswa juga akan menjadi bagian masyarakat.

BACA JUGA :  Ketua IDI Kendal Dikukuhkan Sebagai Direktur RSUDI Kaliwungu

Hitung persen seharusnya sudah dikuasai dengan tuntas oleh siswa kelas 5 SD, tetapi anak SMP ternyata juga masih mengalami kesulitan. Melalui sebuah pengujian sederhana menggunakan soal “diskon tas” diketahui ternyata hanya 6 dari 24 siswa di kelas VII A yang mampu menjawabnya dengan benar. Beberapa kesalahan hitung persen yang paling banyak muncul adalah siswa membagi harga awal dengan diskon. Selain itu, ada juga yang mengurangi harga awal dengan angka persen diskon. Hal ini sangat memprihatinkan mengingat materi tentang persen sebenarnya telah diajarkan saat kelas V SD.

Hal tersebut terjadi karena selama ini pembelajaran tentang persen masih kurang bermakna. Hasil observasi yang peneliti lakukan mendapatkan fakta bahwa pada pembelajaran aritmatika sosial maupun hitung persen yang selama ini dilakukan (selama periode penggunaan K13), siswa hanya diajarkan untuk menghafalkan rumus persen tanpa menggunakan konteks. Meskipun sudah menggunakan konteks, konteks soal hanya digunakan sebagai pengantar saja dalam pembelajaran. Padahal siswa akan memahami dan mendapatkan gagasan matematika yang kaya, pengetahuan yang utuh, dan memperoleh berbagai pendekatan yang berbeda dalam menyelesaikan soal matematika dengan level matematika formal yang beragam bila mereka mendapatkan soal yang kontekstual atau pembelajaran menggunakan masalah realistic (Widjaja, W., Dolk, M., & Fauzan, A. (2010)).

Tanggung jawab yang sangat besar ini berada pada guru. Jangan sampai karena kelemahan dalam pembelajaran yang kita lakukan selama ini tidak mampu membantu siswa menyelesaikan masalah sehari-hari bahkan membawa dampak yang serius di masa depan siswa. Lalu apa yang dapat dilakukan guru untuk membelajarkan persen dengan tepat?

Percentage Bar sebagai model representasi bagian dari keseluruhan

Dalam Pendekatan Realistic Mathematics Education, Pengetahuan hitung persen ( biasanya pengetahuan prosedural yang isinya rumus hitung) tidak boleh diajarkan begitu saja (transfer ilmu) ke siswa karena mudah dilupakan dan pemahamannya tidak lengkap. Rumus hitung persen berawal dari hitung setengah, hitung sepersepuluh, yang mana itu merupakan pengetahuan informal siswa, pengetahuan yang siswa memahaminya tanpa diajari. Pengetahuan informal tersebut membutuhkan panduan berupa pemodelan agar bisa berlakuk untuk semua situasi (general) yang sifatnya formal. Bantuan pemodelan dalam membawa konsep persen informal ke konsep persen yang formal membutuhkan Percentage Bar Model.

Berapa 50% dari 800ribu? Pertanyaan ini sangat mudah dijawab oleh semua siswa. Berapa 10% dari 800ribu? Ini juga mudah karena siswa cukup menghilangkan satu digit nol di belakang 8. Berapa 5% dari 800ribu? Beberapa siswa mungkin terdiam. Di sinilah peran guru untuk bertanya kepada siswa. Ingat, jangan diberitahu lebih dulu jawabannya. Siswa butuh berpikir sejenak. Di sini bantuan yang bisa dipakai 5% apanya 50%? Dengan demikian pertanyaan berapa 15 % dari 800ribu menjadi lebih mudah bagi siswa. Siswa akan mendapat mental aritmatika perhitungan persen dengan pendekatan 50%, 10%, dan 5%.

BACA JUGA :  MEMAKNAI MAULID, MENTAULADANI NABI

Agar perhitungan persen bersifat general, artinya berlaku untuk semua hitung persen bukan kelipatan pendekatan 50%, 10%, dan 5%, dibutuhkan sebuah pendekatan nilai persen terkecil yaitu 1%. Misalnya berapakah 31% dari 900MB?

Dengan pendekatan 1%, semua angka persen bisa didekati. Mental aritmatika siswa semakin berkembang ke arah general formal, paham konsep dan rumus. Misalnya 31 dalah 10+10+10+1, bisa juga 30+1, bisa juga 30 kali 1 % dari total. Pemahaman ini mendorng siswa untuk menyadari bahwa:

Berasal dari

Soal persen HOTS (Higher Order Thinking Skills)

Ada 3 Tipe soal dalam masalah persen, yang terakhir adalah tipe soal yang jarang diberikan di sekolah kita.

Sebenarnya kalau menggunakan Percentage Bar Model semuanya tampak sebagai soal biasa saja tetapi menurut para sebagai ahli pendidikan soal ketiga tersebut dikategorikan sebagai soal HOTS. Soal HOTS ini yang merupakan masalah para pedagang makanan online. Harga offline adalah 80% dari total, yang ditanyakan harga total.

Dengan adanya bantuan Percentage Bar Model ini mudah-mudahan para Bapak Ibu guru khususnya guru matematika SMP di lingkungan Majelis Dikdasmen Muhammadiyah menyadari pentingnya membelajarkan persen secara menyeluruh ke siswa.

Biodata Penulis :
Intan Kumala Trisni, lahir di Pati, 17 Juli 1989, adalah seorang guru matematika yang saat ini aktif mengajar di SMP Muhammadiyah 1 Weleri. Ia sempat sangat tertarik pada perancangan pembelajaran yang menarik dan meningkatkan penalaran siswa serta manfaat matematika tidak hanya sebagai alat hitung saja tetapi sebagai literasi untuk menapaki kehidupan.

Alamat kontak:

Intankumalatrisni@gmail.com

089510794929
NBM 1331 687

4 COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here