Milad ke 85 Buya Syafii Maarif, Ketum PP Muhammadiyah: Dia Adalah Sosok Negarawan Bangsa

0
0 views
DUA TOKOH. Dua tokoh Muhammadiyah, Prof Dr. H. Syafii Maarif dan Prof Dr H. Haedar Nashir, M.Si.

KENDALMU.COM | KENDAL. Prof. DR. H. Ahmad Syafii Maarif lahir 85 tahun silam, tepatnya 31 Mei 1935. Beliau adalah seorang ulama, ilmuan, pendidik, dan negarawan. Ia pernah menjabat sebagai Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah 1989-2005. Ia juga pernah menjabat Presiden Word Conference on Religion for Peace (WCRP), dan pendiri Maarif Institute.

Dalam milad ke 85 Buya Syafii Maarif yang jatuh pada Ahad (31/5), Ketua Umum PP Muhammadiyah, Prof DR. H. Haedar Nashir, M.Si mengingat sosok Buya Syafii Maarif sebagai Bapak Bangsa karena pemikiran, sifat hidup, dan tindakannya dipandang oleh masyarakat luas sebagai negarawan bangsa.

Dikutip laman republika.co.id, Haedar Nashir menilai Buya Syafii merupakan tokoh Muhammadiyah yang berfikiran maju.

“Buya Syafii merupakan tokoh Muhammadiyah yanga berpikiran maju. Tahniah karena telah menorehkan jejak dan perjuangan hingga di usia 85 tahun, “ ujar Haedar dalam sumbang pemikiran rangkaian acara #85thSyafiiMaarif: “Mencari Negarawan,”

Haedar Nashir juga menilai, Buya Syafii sebagai sosok liberal dalam makna positif.

“Buya Syafii merupakan sosok yang liberal dalam makna positif. Dia mampu keluar dari tatanan status quo, terutama dalam pemikirannya yang menghasilkan khittah Muhammadiyah di tahun 2002 di Denpasar” ungkapnya.

Dalam Sidang Tanwir Muhammadiyah di Denpasar yang berlangsung 24-27 Januarai 2020 salah satu putusan yang diambli adalah Dakwah Kultural, dan Haedar Nashir mengungkapkan, saat itu dakwah kulturan menjadi polemik di Muhammadiyah.

“Dakwah kulturalnya saat itu pun menjadi polemik di tubuh persyarikatan. Namun hal ini diakui Haedar telah memberi warna dalam perjalanan Muhammadiyah terutama wajah kultural,” ungkapnya lagi.

“Muhammadiyah menjadi berwajah kultural tanpa politik, meski politik penting tapi ketika berbagai pihak memasuki pusaran kekuasaan, Muhammadiyah tidak partisipasi,”ujar dia.

BACA JUGA :  Warna Warni Apel Milad Muhammadiyah ke 107 Di Kendal, Mulai Dari Mengarak Bendera Muhammadiyah Sampai Dengan Pencekalan Peserta Apel Milad

Kultural kemudian menjadi gerakan dakwah yang mencerminkan kepribadiaan Khittah Muhammadiyah. Sementara itu tak kalah penting untuk bangsa Buya Syafii pun memberi warna.

“Buya memberikan pemahaman tentang pluralisme, tidak anti kekuasaan dan anti rezim dan tentubseirama dengan kemajukan yang menjadi tubuh umat Islam,” ujar dia.

Kemajemukan adalah sunnatullah dan Buya mampu mengajarkan dengan memberikan perspektif luas. Pemikirannya digunakan dari puncak sampai bawah.

“Buya memang memiliki jiwa kenegarawanan, meletakkan kepentingan bangsa lebih luas serta jujur dan otentik. Hal ini dilakukan diatas  kepentingan kelompok, golongan dan pribadi.” Tutup Haedar. (fur)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here