Mukamimah ; Dengan Bismillah, Abon Ayamnya Mengalir Berkah

0
0 views
ABON AYAM. Bos Abon, Siti Mukamimah bersama produknya, Abon Ayam Buana. (foto dok mimah)

KENDALMU.COM | RINGINARUM. Sebuah pekerjaan bisnis supaya membawa sukses dan mengalirkan keberkahan diantaranya harus diawali dengan niat bismillah, kemudian mengimplementasikannya di ranah nyata dengan komitmen tinggi.

Hal itu ada pada diri Siti Mukamimah (45) yang kini sedang menikmati kesuksesannya berwiraswasta di bidang kuliner, produsen Abon Ayam Buana. Istri dari Achmad Muji (47) itu merintis usaha abon ayam karena suaminya yang ingin berwiraswasta.

“Diakhir tahun 2015, suami mutusin untuk resign dari kerjanya di Polysindo Eka Perkasa Kaliwungu karena pingin wirausaha” kata Mimah, panggilan keseharian Siti Mukamimah ketika dihubungi kendalmu.com Kamis malam (17/9).

Tapi kami belum tahu, lanjutnya, bidang usaha apa yang akan kami tekuni, meskipun saya sudah mulai usaha jualan sembako.

Niat suami istri yang beralamatkan di RT 3/RW 3 desa Caruban, Ringinarum, Kendal itu ingin berwiraswasta itu memang sudah bulat dan Tuhan mempertemukan dengan teman-teman yang bekerja di Baitul Maal wa Tamwil (BMT) Bismillah, sebuah lembaga keuangan Islam mikro atau Koperasi Syariah Sukorejo, Kendal.

“Pertemuan yang tanpa sengaja itu membuahkan keputusan bersama, mengadakan kegiatan pelatihan pembuatan abon” ungkap Mimah ibu dari tiga anak, Nabila (20), Muna (17) dan Tsabitah (10).

Karena Mimah sebagai aktifis di Nasyiatul Aisyiah (NA), maka pelatihan pembuatan abon tersebut sebagian besar diikuti oleh anggota NA.

HALAL. Abon Ayam Buana yang diproduksi oleh Siti Mukamimah telah mendapatkan sertifikat halal dari Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jateng. ( foto dok mimah)

Pembuatan abon waktu itu masih bersifat umum, adapun variannya sesuai selera masing-masing, dan Mimah memilih abon ayam yang sampai sekarang masih bertahan dengan Abon Ayam Buana.

“Dipilihnya nama Abon Buana, karena teman-teman sudah lebih dulu membuat usaha bersama dengan nama Warbisma, warung bisnis bersama” ujarnya.

Dalam perjalanan usaha abon ayam yang ditekuni, tidak selamanya berjalan mulus.
“Ketika ada order besar yang melebihi kapasitas produksi, kami merasa keteteran, tidak teliti dan 1 bulan abon sudah expired date , padahal harusnya 3-4 bulan” ungkap Mimah.

“Inilah resiko sistem konsinyasi atau titip barang di toko atau super market, dimana uang diterima jika barang laku terjual”

Dari pengalaman tersebut, Mimah mengubah dan memutuskan dengan sistem penjualan online yang dinilai resikonya kecil “Dengan sistem online uang bisa diterima di muka dan kami buatkan dan abon dalam kondisi fress”.

Untuk melebarkan sayap penjualan abon, Mimah harus banyak belajar lagi melalui pelatihan-pelatihan kelas prabayar maupun gratis, termasuk mengikuti Sekolah Bisnis Muslim (SBM) dan dituntut mendekatkan diri kepada internet.

“Hasilnya kami bisa menembus pasar luar negeri lewat beberapa pesanan, teman yang kerja di sana, atau yang bepergian ke manca negara”.

MANCA NEGARA. Abon Ayam Buana sudah menjelajahi ke luar negeri diantaranya Jerman (foto dok mimah)

Mimah mengakui, sejumlah negara seperti Malasyia, Singapura, Austria, Jerman, dan Arab Saudi yang pernah kedatangan abon ayam buana.

“Karena tidak sedikit tetangga saya yang menjadi TKW/TKI di negara asing dan majikannya suka dengan abon ayam, maka saya kirimi ke sana, termasuk para anggota jamaah haji Indonesia yang membawa abon ayam buana untuk lauk”.

Di musim pandemi Covid-19, produksi abon ayam Buana berjalan normal dan dapat terjual, sekali lagi penjualan lewat online.

“Alhamdulillah, corona membawa berkah, kami dapat pesanan sebanyak 5000 piece” tutup Mimah. (fur)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here