Beranda Dinamika Patuhi Prokes, PCM Patebon Buka Kembali Pengajian Ahad Pagi

Patuhi Prokes, PCM Patebon Buka Kembali Pengajian Ahad Pagi

0
45 views
IDENTIK ILMU PENGETAHUAN. "Agama Islam identik dengan ilmu pengetahuan dan mereka yang cinta ilmu mendapat penghargaan dari Allah" kata Ustadz Sathibi (foto dok fur)

KENDALMU.COM | PATEBON. Terhitung sejak masa pandemi Covid-19 berlangsung, dan diberlakukannya larangan berkerumun yang mengakibatkan hampir semua kegiatan Muhammadiyah dibatasi, termasuk pengajian Ahad Pagi, padahal kegiatan sepekan sekali tersebut sudah menjadi ikon Muhammadiyah yang diselenggarakan oleh Pimpinan Cabang atau Ranting.

Adalah Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Patebon, Kendal membuka kembali pengajian Ahad Pagi dengan tetap mematuhi protokol kesehatan (prokes) di Masjid Umar bin Khatab Kumpulrejo, Patebon (22/11) yang menghadirkan ustadz Sathibi sebagai penceramah.

Dalam tausiahnya beliau menyampaikan, tidak ada alasan apapun dan bagaimanapun bagi seorang muslim dalam beribadah kepada Allah.

“Dalam kondisi sesulit apapun lantaran Allah menguji dengan berbagai macam ujian, kita tetap mengaji dengan fasilitas media sosial yang ada, atau dengan media yang lain” kata ustadz Sathibi.

Beliau menerangkan, bahwa kehendak Allah atas kebaikan seseorang akan terjadi dengan memahamkan ilmu agama.

“Apabila Allah menghendaki kebaikan kepada seseorang, maka Allah akan memahamkan kepada orang tersebut dengan ilmu agama” jelas beliau sambil mengutip sebuah hadits, ‘Siapa yang Allah kehendaki kebaikan baginya, Allah akan pahamkan atasnya perihal agama’
Menurut Sathibi yang juga alumni Pondok Pesantren Modern Assalaam Surakarta, bahwa agama Islam adalah agama ilmu pengetahuan.

“Islam identik dengan ilmu, maka orang yang dikendaki oleh Allah kebaikan, pasti ia mengerti ilmu agama, bukan jahl, bodoh, seperti sosok musuh Islam, Abu Jahal yang cerdas, tetapi bodoh dengan agama” tegasnya.

Bagi orang-orang Muslim yang memiliki dan mencintai ilmu pengetahuan, menurut ustadz Sathibi, akan menerima penghargaan dari Allah.

“Ketinggian orang beriman dan berilmu pengetahuan itu terjadi, karena iman yang ada dalam dirinya akan mengarahkan penggunaan ilmu pengetahuan yang dimilikinya untuk tujuan-tujuan yang mulia. Sedangkan ilmu pengetahuan yang dimilikinya menyebabkan ia akan mampu membuat karya-karya inovatif dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi yang dibutuhkan umat manusia” bebernya.

BACA JUGA :  Kalahkan Tim SMA Muhi Weleri, Tim SMP Muhi Weleri Juara "Mobile Legend" IPM E-Sport Competition PD IPM Kendal
Jamaah pengajian Ahad Pagi di Masjid Umar bin Khatab Kumpulrejo, Patebon. (foto dok fur)

Muhammadiyah, kata beliau, yang di dalamnya terdapat para pimpinan, pengurus yang menyelenggarakan rapat, bermujalasah, dalam rangaka memecahkan persoalan ummat juga termasuk mereka yang nantinya akan mendapat penghargaan dari Allah.

“Tampilnya Muhammadiyah di garda terdepat dalam menghadapi persoalan bangsa didasari dengan musyawarah mufakat” ujarnya.

Di bagian akhir Ustadz Sathibi menyampaikan adanya satu wabah yang terjadi di masa Umar bin Khattab. Wabah tersebut terjadi di satu wilayah Syria di mana Umar memeroleh undangan untuk mengunjungi daerah tersebut. Sebelum memasuki kota tersebut, Umar mendapatkan kabar wabah tersebut sehingga ia pun ragu memenuhi undangan.

Umar bin Khattab mulai menanyakan pendapat kepada para sahabat terutama dari kaum Muhadjirin dan Anshor. Namun saran yang diberikan para sahabat tidak seluruhnya satu suara. Beberapa di antaranya meminta Umar tetap melanjutkan perjalanan sedangkan lainnya tidak.

“Perbedaan pendapat itu cukup menyulitkan Umar untuk ambil keputusan” katanya.
Mendengarkan berbagai pendapat dari berbagai kalangan terus dilakukan Umar. Tak terkecuali pendapat dari para pemuka Quraisy yang telah hijrah setelah masa pembebasan Mekah. Kelompok ini dinilai awam dalam memahami Islam dibandingkan para sahabat nabi lainnya yang telah mengenal ajaran Islam cukup lama.

Berbeda dengan kaum Muhadjirin dan Anshor, pemuka kaum Quraisy justru satu suara. Mereka secara kompak meminta Umar bin Khattab tidak mengunjungi kota yang telah terkena wabah. Tidak ada perdebatan maupun dua suara dalam memberikan pandangannya sehingga Umar menyepakatinya.

Kesepakatan pendapat Umar bin Khattab dengan suku Quraisy dikritisi banyak pihak. Umar bin Khattab dinilai telah lari dari takdir yang telah ditetapkan. Namun anggapan tersebut langsung direspon oleh Umar bin Khattab.

“Kata Umar bin Khattab, ‘aku tidak lari dari takdir, aku hanya berlari dari satu takdir ke takdir lain’,” tegas Ustadz Sathibi.

BACA JUGA :  Geliat PCA Cepiring, Siapkan Rencana Bakti Sosial di Bulan Ramadhan

Sedangkan Sekretaris PCM Patebon, H. Sholichin, mengatakan, dibukannya kembali pengajian Ahad Pagi karena banyaknya permintaan dari warga Muhammadiyah.
“Maka melalui rapat PCM beberapa waktu lalu, kita putuskan pengajian Ahad Pagi kita selenggarakan kembali setelah sekian lama diliburkan karena pandemic Covid-19” kata Sholichin.

Menurutnya, pengajian kali ini sebagai pengobat rasa rindu diantara warga Muhammadiyah yang sekian lama tidak ada pengajian.

“Adapun tempatnya, kita sepakat selama pengajian Ahad Pagi PCM Patebon di serambi Masjid Umar bin Khatab. Selain tempatnya lebih luas, juga anggota jamaah lebih banyak” pungkasnya. (fur)