Pemimpin Menjadi Penentu Keberlangsungan di Masa Kritis

0
53

KENDALMU.COM | YOGYAKARTA. Kepemimpinan di masa kritis pandemi menjadi sebuah tantangan tersendiri bagi para pelaku organisasi profit maupun non-profit. Keberlangsungan sebuah organisasi sangat bergantung pada kemampuan pemimpinnya dalam menghadapi masa kritis.

Demikian salah satu kesimpulan diskusi secara virtual yang diselenggara oleh Muhammadiyah Covid-19 Command Center (MCCC) Sabtu siang (20/06) di Yogyakarta yang bertemakan “Leadership di Masa Kritis”.

Diskusi dihadiri oleh Budi Isman selaku CEO Mikro Investindo / Founder Bisniz.id dan Agus Samsudin selaku Ketua MCCC dan Ketua MPKU PP Muhammadiyah. Dalam diskusi tersebut  mengupas upaya mempertahankan rumah sakit di masa kritis pandemi.

Secara umum, Budi Isman sampaikan bahwa dalam organisasi manapun tentu memiliki kompetensi – kompetensi utama untuk membangun sebuah organisasi atau perusahaan.

Beliau merangkum kemampuan tersebut menjadi 5 point utama,

“Diantaranya kemampuan mengontrol diri dimana seorang pemimipin dapat tetap bersikap tenang menghadapi masa kritis” katanya.

Budi Isman juga menyebut pemimpin juga harus memiliki kemampuan dalam komunikasi, komunikasi baik antar pemangku kepentingan maupun komunikasi terbuka terhadap para karyawannya. Di sisi lain ketegasan juga harus dimiliki oleh seorang pemimpin yang tentunya ketegasan itu didukung oleh data dan fakta.

“Fakta dan data berguna dalam mengambil keputusan karena berdampak dalam jangka panjang, ketegasan juga harus sesuai dengan sumber daya yang dimiliki perusahaan serta kemampuan melihat priorita”  ujarnya.

Lebih lanjut dijelaskan, kemampuan beradaptasi dalam situasi yang berubah – ubah serta kekreatifitasan dan inovasi seorang pemimpin juga sangat diperlukan. Kemampuan tersebut berguna untuk mempertahankan keberlangsungan sebuah perusahaan.

“Kadang ide – ide simpel yang sederhana datang dari karyawan biasa dapat membantu perusahaan, maka leader harus memiliki kemampuan untuk memberikan kesempatan pada tim untuk berkreasi serta berpikir kreati” imbuhnya.

Sedangkan ketua MCCC PP Muhammadiyah, Agus Samsudin menyampaikan, secara garis besar standar kompetensi sebuah organisasi memang sama, yang membedakan bergantung pada kondisi tiap organisasi itu sendiri.

“Dalam hal ini kaitannya dengan Rumah Sakit Muhammadiyah/Aisyiyah  (RSMA), upaya – upaya yang harus dilakukan dan perlu ditinjau untuk mempertahankan keberlangsungan RSMA di masa kritis pandemi” ujarnya. Pada sisi pendapatan RSMA, lanjut Agus, marketing di beberapa rumah sakit harus saling terjalin. Hal tersebut berkaitan pada pembelian bahan baku yang bisa dilakukan bersama – sama untuk meminimalisir biaya pengeluaran.

Adapun pada sisi investasi dimasa kritis ini yang dapat dilakukan, menurutnya  adalah membangun partnership dengan memiliki standarisasi pembelian yang gunanya sama untuk menekan pengeluaran biaya.

Beliau menegaskan, RSMA harus mulai melihat bahwa di Muhammadiyah memiliki kemampuan ekosistem yang tinggi secara khusus pada fakultas di perguruan tinggi yang terkait. Maka yang perlu diupayakan adalah menjalin koneksi dengan satu sama lain untuk bisa bersinergi bersama. Kemudian yang menjadi sangat penting adalah bahwa RSMA harus mampu untuk beradaptasi pada digitalisasi. Di masa kritis ini baik bagi masyarakat secara besar maupun individu, literasi digitalisasi sangat dibutuhkan .

“Bahwa sinerginya tidak harus tatap muka tapi sekarang harus melalui digitalisasi” ujarnya.

Adapun berpikir komersial di masa kritis menurut Agus Samsudin yang juga ketua MPKU PP Muhammadiyah  juga diperlukan dalam upaya menjaga keberlangsungan sebuah organisasi atau perusahaan.

“Salah satu kunci utama adalah memperbaiki apa yang harus diperbaiki, memprioritaskan pada apa yang dapat dipengaruhi, maka kita harusnya memberikan dampak positif bagi banyak orang sebagai profit dalam sebuah impact organisation”  tandasnya (fur)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here