Perkuat Fungsi Takmir Masjid, Majelis Tabligh Lakukan Safari Dari Masjid Ke Masjid

0
0 views
FOTO BERSAMA. Sebelum meninggalkan Masjid Jogokariyan, rombongan safari dari masjid ke masjid foto bersama (foto dok majekis tabligh)

Majelis Tabligh PDM Kendal melakukan safari ke tiga tempat, yaitu dua masjid, Jogokariyan dan masjid Suciati Saliman di Sleman, serta Langgar Kidul KH. Dahlan. Seperti apa safarinya ? Berikut laporannya.

KENDALMU.COM | KENDAL. Majelis Tabligh Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kendal melakukan safari dari masjid ke masjid Ahad (8/12). Safari tersebut melibatkan 100 peserta, terdiri dari unsur PDM, Majelis Tabligh Daerah, PCM, dan takmir masjid Mujammadiyah se Kab. Kendal. Rombongan menggunakam 2 armada bus yang disediakan oleh CV Surya Perkasa, milik Pemuda Muhamamdiyah Kendal. Rombongan berangkat dari PDM Kendal, dan dari masjid Al Huda Weleri.

Ketua Majelis Tabligh PDM Kendal, H. Jumali, mengatakan safari dari masjid ke masjid dimaksudkan untuk mengetahui manajemen masjid, cara memakmurkan masjid, dan sumber keuangan masjid.

“Safari dari masjid ke masjid sebagai upaya bersama untuk mengetahui secara keseluruhan dalam rangka penguatan pengelolaan masjid Muhammadiyah di Mendal” kata Jumali.

Dengan manajemen masjid, lanjutnya, diharapkan dapat diterapkan dengan baik tata cara pengolaan di setiap masjid Muhammadiyah.

Pantauan kendalmu.com, diketahui sasaran tujuan pertama adalah masjid Jogokariyan, Yogyakarta. Kedatangan rombongan diterima langsung oleh sekretaris takmir masjid setempat, Wahyu Tejo Raharjo. Selama satu jam lebih Wahyu menerangkan berbagai konsep manajemen masjid yang sudah diterapkan di Jogokariyan. Mulai dari menentukan wilayah dakwah, membuat data base jamaah, serta melakukan manajemen infaq mandiri masjid.

“Setiap masjid yang dibangun seharusnya memberdayakan dan mensejahterakan, bukan menjadi beban masyarakat”kata Wahyu.

Beliau menekankan masjid harus memikirkan bagaimana jamaahnya sejahtera, bukan berfikir bagaimana masjid bisa kaya.

Kunjungan di masjid Jogokariyan dilanjutkan dengan penyerahan cindera mata dan ditutup dengan sholat dhuhur berjamaah.

Dari masjid Jogokariyan perjalanan dilanjutkan menuju ke sebuah perkampungan kecil di Yogyakarta, yaitu Kampung Kauman, sebuah komunitas kecil yang memiliki budaya sangat kental dan kuat, yaitu membangun Langgar. Dan salah satu Langgar yang sangat di kenal di Muhamamdiyah adalah Langgar Kidul KH Ahmad Dahlan.

BACA JUGA :  Lahir Bertepatan dengan HUT RI, Lima Bayi di RSI Muhammadiyah Kendal Dapat Kado
LANGGAR KIDUL. Peninggalan sejarah pendiri Muhammadiyah, KH. Ahmad Dahlan, Langgar Kidul di Kauman Yogyakarta.

Sejarah menuturkan, bahwa Langgar Kidup yang dikenal dengan Langgar KH. Ahmad Dahlan terletak di depan rumahnya, masih dalam kompleks rumah beliau. Di Langgar itulah memang ada aktivitas keseharian beliau, dan Langgar itu berhubungan langsung dengan rumahnya, ada pintu sambungan dari rumahnya.

Dikutip laman muhammadiyah.or.id. bahwa Langgar Kidul KH. Ahmad Dahlan didirikan pada tahun 1800, setelah KH. Dahlan haji dan menikah, dan sempat dirobohkan dan dibangun kembali berkat dukungan saudaranya yang memang menghendaki KH.Dahlan tetap tinggal di Kauman.

Karena kunjungan rombongan Majelis Tabligh PDM Kendal pada hari Ahad, maka tidak ada petugas yang mendampingi untuk memberi keterangan tentang Langgar Kidul tersebut.

Usai melihat Langgar Kidul, rombongan melanjutkan perjalanan ke Sleman dengan tujuan ke Masjid Suciati Saliman (MSS), sebuah masjid megah dan mewah yang dibangun oleh Suciati dengan modal lima ekor ayam setiap hari.

PENDIRI MASJID MEGAH. Pendiri masjid megah dan mewah, mirip masjid Nabawi, Suciati Saliman.

Ciri fisik Masjid Suciati saliman adalah seperti Masjid Nabawi terlihat langsung dari bentuk fisik dan keberadaan lima menara. Detail pintu masjid juga berwarna emas di bagian tepinya, seperti halnya Masjid Nabawi.

“Pintu masjid ada sembilan, ini simbol Wali Songo yang menyebarkan ajaran Islam di Jawa,” jelas salah satu pengurus Takmir Masjid Suciati Saliman,  Sigit Prasetyo.

Beliau menjelaskan, masjid terdiri tiga lantai dan satu basement. Lantai dua dan tiga menjadi bagian utama masjid yang dipakai untuk beribadah. Lantai dasar bisa bisa dijadikan ruang serba guna bagi warga.

Masjid Suciati saliman ada di Jalan Gito-Gati, Grojogan, Pandowoharjo, Sleman. Bangunan itu tampak mencolok jika dibandingkan dengan rumah atau bangunan lain di sekitarnya. Ruas jalan yang tidak terlalu lebar, juga membuat masjid yang dibangun di lahan seluas 1.600 meter persegi terlihat megah.

BACA JUGA :  Sekda Kendal : Rumah Sakit Swasta di Kendal Diminta Terima Pasien ODP Virus Corona

Sebagaimana dikutip detik.com Masjid Suciati adalah buah kerja keras perempuan kelahiran 66 tahun silam sejak 1966. Suciati bekerja di Pasar Terban menjual lima ekor ayam setiap hari sewaktu duduk di bangku SMP. Ia diberi modal Rp 175 oleh sang ibu pada 1966.

“Terus seperti itu sampai saya selesai sekolah,” kata Suciati.

Sebelum pergi ke sekolah ia menjual ayam dan jika belum habis, maka dititipkan ke perumahan dosen di Bulaksumur.

Ketekunan membuat usaha nenek dari empat cucu ini berkembang. Kini, ia tercatat sebagai pemilik PT Sera Food Indonesia yang memproduksi makanan beku. Pasarnya tersebar di seluruh Indonesia.

Ia juga memiliki dua pabrik di Yogyakarta dan Jombang yang menjual 100 ton daging ayam per hari.

Saliman meyakini bisnisnya berkembang pesat karena perwujudan dari falsafah atau pandangan hidupnya.

Urip iku urip artinya hidup harus memberi manfaat sebanyak-banyaknya bagi orang lain,” tuturnya.

Media menyebut Suciati Saliman sebagai sosok pebisnis sukses duni akhirat. Selain membangun masjid mewah dan megah, melalui Saliman Grup ia mempekerjakan ribuan karyawan. Setelah pembangunan masjid, ia juga berniat mendirikan pondok pesantren, rumah hafiz, dan taman religi. (kang fur)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here