PIDATO MILAD : MENEGUHKAN GERAKAN KEAGAMAAN HADAPI PANDEMI DAN MASALAH NEGERI

0
12 views

MENEGUHKAN GERAKAN KEAGAMAAN HADAPI PANDEMI DAN MASALAH NEGERI

Oleh Haedar Nashir

Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Alhamdulillah hari ini Rabu 18 November 2020 M bertepatan 3 Rabiul Akhir 1442 H Muhammadiyah genap berusia 108 tahun. Kita bersyukur kepada Allah SWT atas nikmat dan anugerah-Nya sehingga Muhammadiyah mampu bertahan dan berkembang sebagai Gerakan Islam yang terus berkiprah memajukan umat, bangsa, dan kemanusiaan semesta.

Kesyukuran merupakan kekuatan ruhaniah Muhammadiyah agar dalam menjalankan misi dakwah dan tajdid senantiasa mendapatkan berkah dan rida Allah. Dengan bersyukur Muhammadiyah akan memperoleh keluasan rezeki dan karunia Allah sebagaimana janji-Nya:

Artinya: “Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih” (QS Ibrāhīm: 7).

Pimpinan Pusat Muhammadiyah secara khusus menyampaikan terima kasih kepada Presiden Republik Indonesia, Wakil Presiden Republik Indonesia Ketua dan Wakil Ketua MPR-RI, Ketua dan Wakil Ketua DPR-RI, Menteri Kabinet Indonesia Maju, Panglima TNI, Kapolri, Ketua Ormas, Ketua Parpol, Dubes Negara Sahabat, Gubernur Jawa Tengah, serta para tokoh dan semua pihak yang telah menyampaikan ucapan selamat atas Milad Muhammadiyah ke-108, sebagai bentuk penghargaan atas kiprah Muhammadiyah. Muhammadiyah sebagai organisasi Islam yang berdiri sebelum Republik Indonesia merdeka, sesuai Kepribadiannya senantiasa bekerjasama dengan semua kalangan “dalam memelihara dan membangun Negara untuk mencapai Masyarakat Utama, adil, dan makmur yang diridai Allah SWT.”

Hadapi Pandemi

Muhammadiyah ketika memperingati Milad ke-108 berada dalam suasana bangsa dan dunia masih menghadapi pandemi covid-19. Sebagai kaum beriman, pandemi ini merupakan musibah yang harus kita hadapi dengan ikhtiar dan doa yang sungguh-sungguh agar Allah SWT mengangkat wabah ini atas Kuasa dan Rahman-Rahim-Nya.

Muhammadiyah melalui Muhammadiyah Covid-19 Command Center (MCCC), ‘Aisyiyah, dan seluruh komponen gerakannya sejak awal terus berbuat yang maksimal dalam menghadapi sekaligus mencari solusi atas pandemi ini. Muhammadiyah mengambil langkah memberi solusi dalam usaha kesehatan, sosial-ekonomi, edukasi masyarakat, dan panduan keagamaan hasil ijtihad Tarjih. Alhamdulillah kiprah Muhammadiyah memperoleh apresiasi dari berbagai pihak dan masyarakat luas.

Mark R. Woodward, seorang antropolog ternama dari Arizona State University AS, secara khusus menulis “Holidays in the Plague Year: Lesson from the Indonesian Muhammadiyah Movement” (31/3/2020). Dia menilai Muhammadiyah dalam menghadapi pandemi covid-19 telah mengajarkan praktik baik cara beragama yang tekun, taat, dan rasional. Muhammadiyah sigap mempromosikan praktik keagamaan yang adaptatif dalam menghambat penyebaran covid-19. Peneliti “Islam Jawa” tersebut berharap Muhammadiyah menjadi teladan global dalam menghadapi pandemi, bukan hanya bagi komunitas muslim di Asia Tenggara, India dan Timur Tengah, tapi juga untuk komunitas Protestan Amerika.

Menjelang Milad ini melalui MCCC, Muhammadiyah mendapatkan penghargaan dari  Kementerian Kesehatan atas kinerjanya dalam melawan covid-19 Penghargaan tersebut diberikan dalam rangka memperingati Hari Kesehatan Nasional ke-56 tanggal 12 November 2020. Semuanya merupakan bukti, jika Muhammadiyah berbuat baik wujud dari amal saleh dengan ikhlas, maka kiprahnya akan memeperoleh  dukungan  positif   dari   masyarakat  luas. Allah mengajarkan kepada kita bahwa :

Artinya: “Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri dan jika kamu berbuat jahat, maka (kejahatan) itu bagi dirimu sendiri” (QS al- Isrā’: 7).

Muhammadiyah terus berikhtiar agar usaha menghadapi pandemi makin ditingkatkan dan tidak boleh surut. Pandemi covid-19 ini telah membawa dampak sangat luas dalam kehidupan. Data dunia pada 15  November 2020 menunjukkan jumlah kasus tersebar di 189 negara yang terkonfirmasi mencapai 54.780.802 juta, kematian 1.323.841 juta jiwa, serta pasien sembuh 35,7 juta orang.

Di Indonesia pada 15 November 2020 tercatat naik menjadi 467.113 kasus, pasien sembuh 391.991 orang, dan meninggal 15.211 orang. Pandemi ini sungguh belum berakhir. Karenanya Muhammadiyah mengajak semua pihak dan warga bangsa untuk bersama-sama berusaha menghadapi musibah ini dengan segala ikhtiar yang maksimal. Tegakkan aturan serta disiplin protokol kesehatan dengan sebaik-baiknya.

Umat Islam dan warga Persyarikatan harus menunjukkan uswah ḥasanah dan menjadi pemberi solusi hadapi pandemi yang berat ini. Setelah sembilan bulan semua berjuang dengan prihatin, kita harus tetap disiplin dan waspada, serta tidak boleh lengah sebagai wujud sikap keislaman yang berakhlak karimah dan raḥmatan lil-‘ālamīn. Setiap pengabaian dan kelalaian dapat berdampak luas pada keselamatan jiwa sesama serta membuat proses yang sudah tercipta baik akan kembali tidak kondusif.

Kaum muslimin pengikut Nabi hendaknya mengikuti uswah ḥasanah Nabi dalam seluruh perilaku kehidupan. Nabi dimaklumatkan Allah sebagai figur berakhlak utama, “Wa innaka la‘alā khuluqin ‘aẓīm”, artinya “Dan sesungguhnya kamu (Muhammad) benar-benar berbudi pekerti yang agung” (QS al-Qalam: 4). Nabi senantiasa bertutur kata, bersikap, dan bertindak yang serba baik serta menebar raḥmatan lil-‘ālamīn.

Pandemi belum berakhir, semua pihak harus tetap waspada. Jangan abai dan menganggap ringan wabah ini dengan bertindak tidak disiplin. Perbuatan orang tidak disiplin dapat berdampak luas bagi penularan virus dan keselematan jiwa orang lain. Jika belum mampu memberikan solusi, setidaknya jangan membikin masalah yang membuat rantai penularan makin menyebar. Allah melarang manusia berbuat kerusakan, sebagaimana firman-Nya:

BACA JUGA :  Renungan Ramadhan : Metamorfosis Pasca Ramadhan

Artinya, “Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya …” (QS al-A‘rāf: 56).

Meskipun, dalam praktiknya terdapat orang-orang yang berbuat “fasād” (kerusakan) atas nama “iṣlaḥ” (kebaikan, perdamaian, pembangunan) sehingga kehidupan mengalami kehancuran (QS al-Baqarah: 11).

Masalah Negeri

Muhammadiyah sejak awal kelahiran sampai kini tiada henti memberi solusi untuk negeri. Muhammadiyah bersama komponen bangsa lainnya berpartisipasi aktif dalam menyelesaikan masalah bangsa. Di era sebelum Indonesia merdeka hingga setelah kemerdekaan, Muhammadiyah terus berbuat bagi kemajuan negeri. Sejarah membuktikan, di saat-saat kritis Muhammadiyah hadir memberi solusi. Seperti dalam mencari titik kompromi perumusan dasar negara Pancasila setelah satu hari proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945.

Bangsa Indonesia saat ini masih menghadapi masalah berat seperti korupsi, utang luar negeri, eksploitasi sumber daya alam, kesenjangan sosial-ekonomi, konflik antarkomponen bangsa, produk legislasi yang kontroversi, oligarki politik, serta masalah-masalah kebangsaan lainnya.

Hukum kehidupan manusia selalu berhadapan dengan masalah, selain berkaitan dengan nikmat dan anugerah. Masalah datang dan pergi untuk dihadapi dan tidak untuk diratapi. Ada masalah yang dapat diselesaikan dengan tuntas, sisi lain terdapat masalah yang masih tersisa, dan terdapat masalah lainnya yang tidak dapat diselesaikan. Kewajiban kita sebagai bangsa ialah berikhtiar dengan kesungguhan dan kesabaran.

Bagi kaum beriman, dalam menghadapi masalah maupun membangun bangsa dan usaha apapun diperlukan kesungguhan dan kesabaran. Allah berfirman sebagai berikut:

Artinya: “Dan sesungguhnya kami benar-benar akan menguji kamu agar kami mengetahui orang-orang yang berjihad dan yang bersabar di antara kamu, dan agar kami menyatakan (baik buruknya) hal ihwalmu” (QS Muhammad: 31).

Muhammadiyah terus berikhtiar untuk proaktif memecahkan masalah bangsa. Namun Muhammadiyah tidak dapat menghadapi masalah bangsa sendirian. Diperlukan kerjasama dan pembagian tugas dalam menyelesaikan masalah bangsa sesuai dengan posisi dan peran masing-masing dalam jalinan kebersamaan, sinergi, dan persatuan nasional.

Khusus bagi umat Islam sebagai penduduk mayoritas di negeri ini. Umat di bawah bimbingan para tokohnya dapat menjadi uswah ḥasanah dalam segala ucapan, sikap, dan tindakan yang memancarkan pencerahan dan kemajuan. Umat mayoritas sungguh terpuji bila mampu memberi solusi baik dalam menghadapi pandemi maupun masalah negeri.

Risalah dan keteladan Nabi Muhammad dalam menyebarkan misi penyempurnaan akhlak mulia dan raḥmatan lil-‘ālamīn penting menjadi komitmen utama semua pihak di tubuh umat dan tokoh Islam. Masyarakat luas saat ini makin cerdas dan kritis, bagaimana menyaksikan bukti keteladanan dan akhlak mulia umat mayoritas di negeri muslim terbesar di dunia ini. Baik buruknya Indonesia tergantung pada kiprah dan kontribusi umat Islam.

Warga Muhammadiyah tetap harus bersemangat dalam menggerakkan usaha-usaha memajukan kehidupan. Di tengah pandemi dan banyak masalah negeri segenap warga, kader, dan pimpinan Muhammadiyah diharapkan terus bersemangat menggerakkan organisasi serta menjalankan peran keumatan dan kebangsaan sesuai kondisi. Karena kendala luring atau offline disebabkan pandemi, maka dapat dikembangkan kegiatan-kegiatan daring atau online untuk menjaga gerak organisasi tetap hidup.

Gerak Muhammadiyah dan amal usahanya sampai ke akar rumput harus tetap bertumbuh, dengan langkah dan cara yang kreatif dan inovatif. Manfaatkan teknologi informasi sebagai bagian dari adaptasi Muhammadiyah hidup di era revolusi 4.0., sekaligus memberi solusi hadapi pandemi dan masalah negeri. Semangat bergerakan tetap digelorakan dalam keadaan lapang maupun sempit sebagaimana pesan Allah dalam al-Quran:

Artinya: “Berangkatlah kamu baik dalam keadaan merasa ringan maupun berat, dan berjihadlah kamu dengan harta dan dirimu di jalan Allah. Yang demikian itu adalah lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui” (QS at-Taubah: 41).

Jika semua pihak sudah berikhtiar dengan sungguh-sungguh dan optimal dalam menghadapi pandemi dan masalah negeri, maka selebihnya bertawakal dengan sabar dan pengharapan tinggi kepada Allah. Tidak perlu saling bersesal diri, berpatah asa, mencurigai, serta menghujat dalam menghadapi dan menyelesaikan masalah negeri. Masalah merupakan bagian dari dinamika hidup sekaligus menjadi cobaan bagi kaum beriman sebagaimana firman Allah SWT:

Artinya: “Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan” (QS al-Anbiyā: 35).

Yakinlah, terdapat kuasa dan rahasia Tuhan di tengah masalah yang dihadapi saat ini. Kewajiban kita sebagai bangsa ialah berikhtiar mencari solusi dengan

mengerahkan segenap kemampuan. Dengan jiwa irfani yang membingkai diri, jalan ruhaniah kaum beriman setelah berikhtiar ialah mengembalikan urusan kepada Allah SWT, sebagaimana firman-Nya: “Fa iża ‘azamta fa tawakkal ‘alallāh”, artinya “Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah” (QS Āli ‘Imrān: 159).

BACA JUGA :  Bagaimana Hukum Memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW

Karakter Muhammadiyah

Muhammadiyah dalam rentang usia 108 tahun penting meneguhkan jati diri sebagai gerakan keagamaan. Sejak kelahirannya tahun 1912 Muhammadiyah menegaskan diri sebagai perhimpunan Islam yang “menyebarloeaskan” dan “memajoekan” hal Agama Islam. Radius gerakannya semula di Karesidensi Jogjakarta, selanjutnya di Hindia Timur atau Indonesia.

Kenapa Muhammadiyah kala itu lahir? Kondisi umat Islam di awal abad ke- 20 itu tidak berpegang teguh kepada ajaran Islam yang murni; terpecah belah tanpa persatuan; pendidikan tidak sejalan dengan tuntutan zaman; mereka hidup dalam alam fanatisme yang sempit, bertaklid buta serta berpikir secara dogmatis, konservatisme, formalisme, dan tradisionalisme; serta pengaruh misi zending yang semakin kuat (Junus Salam, 1968).

Kyai Dahlan memberi jawaban dengan melakukan pembaruan (tajdid) pemahaman Islam, memperkenalkan pendidikan Islam modern, gerakan baru membangun kesehatan dan pelayanan sosial berbasis al-Mā’ūn dan PKO, serta pengorganisasian zakat dan haji. Selain itu memelopori lahirnya organisasi perempuan Islam ‘Aisyiyah, gerakan cinta tanah air Hizbul Wathan, publikasi Islam melalui majalah Suara Muhammadiyah yang memperkenalkan penggunaan bahasa Indonesia, tablig di ruang publik, dan usaha-usaha lain yang bersifat baru.

Prof. Mukti Ali (1958) meringkas misi pembaruan Muhammadiyah tersebut sebagai berikut: (1) Membersihkan Islam di Indonesia dari pengaruh dan kebiasaan yang bukan Islam; (2) Reformulasi doktrin Islam dengan pandangan alam pikiran modern; (3) Reformulasi ajaran dan pendidikan Islam; dan (4) Mempertahankan Islam dari pengaruh dan serangan luar.

Para ahli menyebut Muhammadiyah sebagai gerakan Islam modern atau reformis. Sebutan modernisme dan reformisme Islam secara khusus dilekatkan pada Muhammadiyah, sehingga label itu begitu kuat sampai saat ini. James Peacock (1986) memberi kesaksian etnografis tentang kuatnya Muhammadiyah sebagai gerakan Islam modern:

“Dalam setengah abad sejak berkembangnya pembaharuan di Asia Tenggara, pergerakan itu tumbuh dengan cara yang berbeda di bermacam-macam daerah. Hanya di Indonesia saja gerakan pembaharuan Muslimin itu menjadi kekuatan yang besar dan teratur. Pada permulaan abad ke-20 terdapat sejumlah pergerakan kecil-kecil, pembaharuan di Indonesia bergabung menjadi beberapa gerakan kedaerahan dan sebuah pergerakan nasional yang tangguh, Muhammadiyah. Dengan beratus-ratus cabang di seluruh kepulauan dan berjuta-juta anggota yang tersebar di seluruh negeri, Muhammadiyah memang merupakan pergerakan Islam yang terkuat yang pernah ada di Asia Tenggara. Sebagai pergerakan yang memajukan ajaran Islam yang murni, Muhammadiyah juga telah memberikan sumbangan yang besar di bidang kemasyarakatan dan pendidikan. Klinik-klinik perawatan kesehatan, rumah-rumah piatu, panti asuhan, di samping beberapa ribu sekolah menjadikan Muhammadiyah sebagai lembaga non- Kristen dalam bidang kemasyarakatan, pendidikan dan keagamaan swasta yang utama di Indonesia. ‘Aisyiah, organisasi wanitanya, mungkin merupakan pergerakan wanita Islam yang terbesar di dunia. Pendek kata Muhammadiyah merupakan suatu organisasi yang utama dan terkuat di negara terbesar kelima di dunia.”

Kini setelah 108 tahun berjalan, apakah etos tajdid, modern, dan reformis itu masih melekat pada Muhammadiyah? Para anggota lebih khusus kader dan pimpinan Muhammadiyah di seluruh tingkatan dan institusi organisasi berkewajiban menyambung mata rantai pembaruan Muhammadiyah yang diwariskan Kyai Dahlan itu. Pandangan tajdid yang berwatak modernis dan reformis harus menyatu ke dalam jiwa, pemikiran, sikap, dan tindakan yang membawa kemajuan Muhammadiyah, umat, bangsa, dan kemanusiaan semesta.

Berbagai perangkat pemikiran Muhammadiyah saat ini lebih dari cukup sebagai rujukan bagi para anggota, kader, dan pimpinan dalam meneguhkan dan membawa Muhammadiyah sebagai gerakan keagamaan yang berwawasan tajdid, modern, dan reformis. Kini diperkenalkan dan telah meluas publikasi tentang pandangan Muhammadiyah sebagai Gerakan Islam Berkemajuan.

Para anggota, kader, dan pimpinan Muhammadiyah niscaya merujuk pada pemikiran-pemikiran kontemporer Muhammadiyah. Di antaranya Pernyataan Pikiran Muhammadiyah Abad Kedua (2010), Dakwah Kultural (2002), Khittah Denpasar dalam Berbangsa dan Bernegara (2002), Manhaj Tarjih dengan pendekatan Bayani, Burhani, dan Irfani (2000), Dakwah Komunitas (2015), dan fikih siyasah baru Negara Pancasila Darul Ahdi Wasyahadah (2015) serta sejumkah Fikih Kontemporer hasil Majelis Tarjih dan Tajdid dapat menjadi rujukan pemikiran pembaruan Muhammadiyah fase baru. Demikian halnya dengan Matan Keyakinan dan Cita-cita Hidup, Kepribadian, Khittah, Pedoman Hidup Islami Warga Muhammadiyah, dan lainnya yang lahir sebelum ini.

Jadikan pemikiran-pemikiran resmi tersebut sebagai wawasan dan orientasi tindakan dalam bermuhammadiyah dan menghadirkan cara pandang yang khas dari Muhammadiyah di tengah dinamika umat, bangsa, dan relasi global saat ini. Selain itu dapat diperkaya dengan pemikiran-pemikiran Islam dan wawasan ilmu pengetahuan mutakhir yang berperspektif pembaruan dalam spirit dan tradisi “iqra”, “ulul albāb”, dan “tafaqquh fid-dīn”. Memahami Islam dan kehidupan penting diperdalam dan diperluas dengan menggunakan pendekatan bayani, burhani, dan irfani secara interkoneksi.

Ketika umat tengah semarak beragama dan masyarakat luas haus akan nilai-nilai agama, Muhammadiyah niscaya hadir dengan misi dakwah Islam yang memberi kepastian nilai, kedamaian, keselamatan, kebahagiaan, dan pencerahan. Seraya menghadirkan nilai keagamaan yang mampu mengeliminasi segala bentuk kekerasan, diskriminasi, dan anarki dalam kehidupan. Hadirkan Islam sebagai “Hudan lin-nāsi wa bayyinātin minal-hudā wal-furqān”, sekaligus menjadi Kanopi Suci yang memberi arah hidup “Li ṣalāhil-‘ibādi dunyā-hum wa ukhrāhum”.

BACA JUGA :  Menakar Kepedulian Muhammadiyah Terhadap Seni dan Budaya (Refleksi Sillaturrahmi LSBO PP Muhammadiyah di Kendal)

Tatkala di fora dunia tumbuh fenomena Islamofobia, Muhammadiyah mesti hadir mempublikasikan dan menampilkan Islam “Wasaṭiyah-Berkemajuan” sebagaimana spirit al-Quran “Wa kadzālika ja‘alnākum ummatan wasaṭan litakūnu syuhadā’a ‘alan-nās” (QS al-Baqarah: 143). Peran PCIM/PCIA dan program Internasionalisasi Muhammadiyah dapat difungsikan untuk menghadapi arus global itu sehingga Islam dan umat Islam dunia tampil sebagai representasi raḥmatan lil-‘ālamīn.

Ikhtiar meneguhkan dan membawa Muhamamdiyah sebagai gerakan keagamaan yang bermisi tajdid dengan watak modern dan reformis di abad kedua menjadi tanggungjawab para pimpinan di semua tingkatan dan lini organisasi. Kita yang mengaku pengikut Nabi Muhammad dan nama Muhammadiyah dinisbahkan kepada Nabi akhir zaman itu, penting menyerap inspirasi dari hadis berikut:

Artinya: “Sesungguhnya Allah mengutus untuk umat ini, pada setiap akhir seratus

mulanya bercahaya, berkilau-kilauan, akan tetapi makin lama makin suram, padahal yang suram bukan agamanya, akan tetapi manusianya yang memakai agama.” Agama menurut pendiri Muhammadiyah itu harus dijadikan rujukan sekaligus dihadirkan untuk menghadapi perubahan zaman. Kyai bertutur, “awit miturut paugeraning agama kito Islam sarta cocok kaliyan pikajenganipun jaman kemajengan” (SM No. 2, 1915). Muhammadiyah mampu bertahan melintasi ruang dan waktu, “karena mengikuti kaidah Agama Islam, serta sesuai dengan harapan zaman kemajuan.”

Karena itu khusus bagi para pimpinan Muhammadiyah, Kyai mengingatkan agar menjadi “pemimpin kemajuan Islam”. Para pemimpin Islam Berkemajuan di tengah dinamika zaman saat ini dan ke depan mesti hadir dengan jiwa mujadid dalam perspektif “dunia besar”, yang bebas dari sankar-besi “dunia kecil”. Risalah pencerahan dan pandangan Islam berkemajuan harus menjadi jiwa, alam pikiran, sikap, dan orientasi tindakan para pimpinan Muhammadiyah jika Gerakan Islam ini ingin bertahan sampai jauh ke depan.

Memberi Solusi

Di akhir Pidato Milad 108, kami mengajak pemerintah, kekuatan politik, warga bangsa, umat Islam, dan keluarga besar Muhammadiyah untuk menebar dan mewujudkan nilai-nilai kebaikan dan ikhtiar kolektif dalam memberi solusi hadapi pandemi dan masalah negeri.

Pertama, pemerintah di seluruh tingkatan bersama legislatif, yudikatif, TNI- Polri, partai politik, dan lembaga lainnya dituntut tanggungjawab politik berjiwa kenegarawanan tinggi. Terutama dalam menghadapi pandemi covid-19 dan menyelesaikan masalah-masalah negeri dengan mengedepankan sebesar-besarnya hajat hidup rakyat di atas yang lainnya. Jadikan Indonesia negara hukum yang demokratis serta berdiri tegak di atas dasar Pancasila dan UUD 1945. Bawalah Indonesia menuju perikehidupan kebangsaan dan kenegaraan yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil, dan makmur. Hormat dan junjung tinggi nilai-nilai luhur agama dan kebudayaan Indonesia. Di antara tanggungjawab dan agenda terberat bangsa saat ini ialah merekat persatuan nasional dan memutus rantai kesenjangan sosial menuju terwujudnya keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Kedua, segenap warga bangsa memiliki kewajiban dan tanggungjawab kolektif dalam menghadapi pandemi dan memecahkan masalah negeri dengan semangat gotong royong. Pupuk kebersamaan sebagai keluarga besar bangsa dalam jiwa Persatuan Indonesia dengan mengembangkan kerjasama, toleransi, kepedulian, kesetiakawanan, dan saling berbagi sebagai modal sosial yang

penting. Hidupkan jiwa Bhineka Tunggal Ika dalam relasi antarkomponen bangsa secara autentik. Jauhi egoisme dan kepentingan sempit golongan yang merugikan kemajemukan. Jika terdapat masalah di tubuh bangsa carikan solusi dan titik temu demi keutuhan hidup bersama. Dalam membangun hubungan termasuk melalui media sosial hilangkan hoaks, fitnah, serta benih saling curiga, kebencian, pertikaian, dan konflik yang dapat menambah berat beban masalah bangsa dan terjadinya disintegrasi nasional.

Ketiga, umat Islam dituntut menjadi uswah ḥasanah disertai sikap cerdas dan bijaksana dalam menghadapi situasi keumatan dan kebangsaan yang kompleks dan sarat perbedaan. Semua komponen dan tokoh umat dapat menjaga situasi kebangsaan tetap kondusif, seraya menjauhkan diri dari perselisihan dan segala tindakan kontroversi yang dapat mengganggu keutuhan ukhuwah Islamiah maupun persatuan bangsa. Perkuat nasionalisme sebagai ekspresi dan jalinan integrasi keislaman dan keindonesiaan yang utuh, serta hindari tindakan-tindakan intoleran yang dapat merugikan hubungan keumatan dan kebangsaan yang selama ini telah terjalin dengan baik.

Keempat, seluruh warga Muhammadiyah dalam menghadapi pandemi dan situasi negeri mesti menjadi pemberi solusi sejalan Kepribadian dan Khittah gerakan dalam perspektif Islam Berkemajuan. Mari sebarluaskan risalah Islam wasaṭiyah-berkemajuan dengan menghadirkan karakter keislaman yang  damai, ukhuwah, moderat, luas wawasan, ta‘āwun, tasāmuh, dan kebaikan kehidupan. Wujudkan beragama yang mencerahkan dengan menampilkan kesalehan dan kemajuan perilaku Islami yang autentik untuk kemaslahatanhidup bersama seiring spirit Milad ke-108: Meneguhkan Gerakan Keagamaan, Solusi Hadapi Pandemi dan Masalah Negeri!

Semoga Allah SWT memberikan perlindungan, berkah, dan karunia-Nya kepada bangsa Indonesia dan bagi segenap warga Muhammadiyah tercinta. Naṣrun min Allāh wa fatḥun qarīb.

 

***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here