Home Dinamika Prof Suparman Ungkap Perjuangan, Pengorbanan dan Perkembangan Muhammadiyah Saat Resepsi Milad...

Prof Suparman Ungkap Perjuangan, Pengorbanan dan Perkembangan Muhammadiyah Saat Resepsi Milad ke 107 di Rowosari

0
6 views
TAUSYIAH. Wakil Ketua PWM Jateng, KH. Prof DR. Suparman Syukur, MA saat menyampaikan tausiah dalam rangka resepsi Milad ke 107 tahun Muhammadiyah oleh PCM Rowosari (foto dok joe)

KENDALMU.COM | KENDAL. Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Tengah, Prof. DR. H. Suparman Syukur, MA mengungkap sejarah perjuangan Muhammadiyah dan hasil perjuangannya. Pengungkapan tersebut disampaikan pada resepsi Milad ke 107 Muhammadiyah yang diselenggrakan oleh PCM Rowosari pada Ahad (24/11) di halaman Kecamatan Rowosari.

Di hadapan ratusan anggota pengajian, Prof Suparman mengatakan, Muhammadiyah melalui Ki Bagus Hadikusuma telah berkontribusi dalam perumusan dasar negara.

“Hal ini ditunjukkan melalui kehadirannya dalam BPUPKI yang kemudian menjadi PPKI. Polemik muncul saat Piagam Jakarta disusun yang salah satu isinya “Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya” katanya.

Prof Suparman menyampaikan, sebelum sidang Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) dimulai, Hatta dan Sukarno menggelar rapat non formal bersama sejumlah tokoh Islam, di antaranya Ki Bagus Hadikusumo, Wahid Hasyim, dan Teuku Mohammad Hasan.

“Rapat membahas permintaan perwakilan Indonesia timur untuk menghapus kalimat yang mewajibkan syariat Islam bagi pemeluknya dalam Piagam Jakarta. Jika permintaan itu tidak dipenuhi, perwakilan Indonesia timur mengacam akan memisahkan diri dari Indonesia” ungkapnya lagi. Bagi sejumlah tokoh Islam, kata Prof Suparman, permintaan itu sulit diterima. Sebab, bagi sebagian mereka, menerapkan syariat Islam merupakan salah satu alasan mengapa perjuangan memerdekakan Indonesia dilakukan. Namun para tokoh Islam juga sadar membiarkan Indonesia timur berpisah akan melemahkan posisi diplomasi Indonesia di mata dunia.

Beliau menjelaskan, para tokoh Islam mulai menulak, kecuali Ketua Umum PP Muhammadiyah, waktu itu, Ki Bagus Hadikusumo.

“Ia bersikeras mempertahankan isi Piagam Jakarta. Di sinilah kemudian Sukarno memainkan peran dengan meminta Kasman Singodimedjo menjadi anggota tambahan PPKI bersama Wiranata Kusumah, Ki Hadjar Dewantara, Sayuti Melik, Iwa Kusumasumantri, dan Ahmad Subarjo” ujarnya. Anggota PPKI akhirnya mnjadi 27 orang.

BACA JUGA :  PCM Rowosari Gelar Tiga Paket Kegiatan Gebyar Milad Muhammadiyah Ke 107

Mengutip laman olympics30.com, Sukarno tahu Kasman memiliki kedekatan emosional dengan Ki Bagus karena sesama Muhammadiyah. Namun Sukarno sendiri, seperti dalam kesaksian Kasman, tampak tidak ingin terlibat lebih dalam proses lobi menghapus tujuh kata Piagam Jakarta.

“Mungkin karena beliau sebagai Ketua Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia dan terutama sebagai peserta dari Panitia Sembilan mengenai pembuatan Piagam Jakarta merasa agak kagok untuk menghadapi Ki Bagus Hadikusumo dan kawan-kawannya,” kata Kasman dalam Hidup Itu Berjuang: Kasman Singodimedjo 75 Tahun. Meski semula menolak, Kasman akhirnya melunak mengingat situasi sulit yang dihadapi Indonesia. Dengan bahasa Jawa halus, Kasman membujuk Ki Bagus. Ia menerangkan dalam Undang-Undang Dasar yang akan disahkan hari itu terdapat satu pasal yang menyatakan bahwa enam bulan setelah Majelis Permusyawaratan Rakyat dibentuk, akan dilakukan sidang penyempurnaan Undang-Undang Dasar. Di saat itulah golongan Islam bisa kembali memperjuangakan isi Piagam Jakarta. Mendengar penjelasan Kasman, Ki Bagus akhirnya luluh. Ia setuju tujuh kata dalam Piagam Jakarta dihilangkan dalam sidang resmi PPK.

Prof Suparman Syukur menyampaikan perkembangan Muhammadiyah yang telah 107 tahun ini dengan memperlihatkan data valid terkait jumlah Amal Usaha Muhammadiyah.

“Amal Usaha Muhammadiyah dibangun semata-mata karena Allah dalam rangka menegakkan dan menjunjung tinggi perintah agama Islam” katanya.

Beliau menjelaskan, bahwa gerakan Muhammadiyah berciri semangat membangun tata sosial dan pendidikan masyarakat yang lebih maju dan terdidik. Menampilkan ajaran Islam bukan sekadar agama yang bersifat pribadi dan statis, tetapi dinamis dan berkedudukan sebagai sistem kehidupan manusia dalam segala aspeknya.

“Dalam pembentukannya, Muhammadiyah banyak merefleksikan kepada perintah-perintah Al Quran, diantaranya surat Ali Imran ayat 104 yang berbunyi: Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung” jelas Prof Suparman.

Dikutip islami.com, Ayat tersebut, menurut para tokoh Muhammadiyah, mengandung isyarat untuk bergeraknya umat dalam menjalankan dakwah Islam secara teorganisasi, umat yang bergerak, yang juga mengandung penegasan tentang hidup berorganisasi. Maka dalam butir ke-6 Muqaddimah Anggaran Dasar Muhammadiyah dinyatakan, melancarkan amal-usaha dan perjuangan dengan ketertiban organisasi, yang mengandung makna pentingnya organisasi sebagai alat gerakan yang niscaya. Sebagai dampak positif dari organisasi ini, kini telah banyak berdiri rumah sakit, panti asuhan, dan tempat pendidikan di seluruh Indonesia.

BACA JUGA :  Ketua PCM Plantungan : Guru Nek Minggu Ojo Turu

Data valid menunjukkan, bahwa Muhammadiyah telah memiliki amal usaha yang tersebar di seluruh Indonesia.

Di bidang pendidikan Muhammadiyah memiliki TK/TPQ, sebanyak 4.623, SD/MI, jumlah 2.604, SMP/MTs 1.772, SMA/MA/SMK 1.143, dan Perguruan Tinggi Muhammadiyah berjumlah 172.

Di bidang kesehatan, Rumah Sakit, Rumah Bersalin, BKIA, BP, dll berjumlah 457, di bidang sosial Muhammadiyah memiliki panti asuhan, asuhan keluarga, dll sebanyak 318, pani jompo 54, rehabilitasi cacat 82, Sekolah Luar Biasa (SLB) 71, masjid milik Muhammadiyah berjumlah 6.118, musholla sebanyak 5.080, tanah seluas 20.945.504 M².

Menurut Prof Suparman Syukur, jumlah amal usaha Muhammadiyah sebanyak itu berkat keikhlasan berinfaq, dalam pengorbanan harta benda, dan tenaga, berkat ketekunan, kesabaran, selalu berdo’a dan bertawakal kepada Allah.

Berdo’a yang dilakukan oleh warga Muhammadiyah, menurut Prof Suparman, dipraktekkan melalui disiplin sholat.

“Disiplin sholat mahdhoh dipraktekkan melalui sholat di awal waktu dan berjamaah. Selain sholat wajib, warga Muhammadiyah hendaknya menjalankan sholat-sholat sunah, dan yang mendekati sholat fardhu adalah sholat lail” katanya.

Di akhir tausiahnya, beliau berpesan kepada jamaah pengajian dalam beramal harus bersih dari hal-hal yang mampu menggugurkan, ditolaknya amal, karena hatinya terselip oleh sombong, ujub dan riya’.

“Ikhlaslah dalam menjalankan perintah Allah, yaitu bersih dari segala kotoran, yaitu hilangnya kesyirikan, rasa sombong, riya’, semata-mata karena Allah” tutupnya. (joe)

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here