Refleksi Muhasabah Akhir Tahun 2020

0
97 views
Naufal Abdul Afif ( Aulmni Pondok Modern Dalur Arqom Patean)

Oleh : Naufal Abdul Afif

(Alumni Pondok Modern Darul Arqom Patean) 

 

Marilah kita merenung sejenak, tentang apa yang telah kita jalani selama ini, apa yang menipa kita setahun ini, pasti semua itu memiliki pelajaran yang berarti jika kita bisa melihatnya.

Masih ingatkah kita di awal tahun 2020, begitu banyak musibah yang menimpa bangsa kita tercinta Indonesia. Hari pertama di awal tahun, ibukota direndam banjir yang begitu hebatnya. Kemudian disusul daerah-daerah lain di Indonesia. Satu musibah belum berakhir, datang lagi musibah yang lain, silih berganti seakan tak ada henti.

Masuk dibulan kedua, dunia ramai dengan pandemi corona. Namun Indonesia tetap santai, seolah biasa menangulangi musibah. Ada yang mengatakan corona tidak kuat masuk indonesia. Ada pula yang optimis karena kekuatan doa.

Ketika masuk bulan ke tiga, kita mulai panik dan meronta, corona melonjak tinggi tak terkira, satu demi satu warga berjatuhan, meninggal dunia. Kita mulai sadar betapa ganasnya corona.

Pernahkah kita bertanya, mengapa Allah selalu menguji kita. Allah menurunkan Corona ini bukan tanpa maksud dan tujuan. Maksud dan tujuan Allah inilah yang harus dapat kita fahami dan kita jadikan pelajaran. Ada hikmah dalam setiap apa yang Allah berikan kepada kita.

Sumber : Ayosemarang.com

Dalam menjalani kehidupan ini, kita seorang muslim harus memiliki perbedaan dengan Kafir Barat, kaitanya terhadap sumber pengetahuan. Orang barat memahami realitas kehidupan hanya dengan rasionalitas dan Indra saja. Apa yang masuk akal bagi mereka, itu menjadi satu-satu nya sumber pengetahuan.

Bagi kita seorang muslim, Intelektualitas atau Rasionalitas yang datang dari akal, haruslah tunduk dan dibimbing oleh wahyu yang ada dalam Al-Qur’an. Sehingga nilai-nilai ketuhanan senantiasa melekat dalam setiap kejadian kehidupan.

BACA JUGA :  INFAQ DENGAN IKHLAS

Tujuan terpenting dari virus ini adalah ketaqwaan. Ada pesan dari Allah, apakah ketika Allah menguji kita dengan virus yang menurut kita demikian dasyat ini, dapat mengingatkan kita kepada Allah. Apakah virus yang katanya begitu mematikan ini dapat mengingatkan kita bahwa kita memiliki tuhan yang berkuasa atas kematian.

Dan apabila kita salah membaca pesan Allah tersebut, maka sesunguhnya kita sudah kehilangan tuhan. Sebagaimana dikemukakan seorang filosof barat yang bernama Frederic Richard, “God is Dead – Bahwa Tuhan telah mati.”

Maksud tuhan telah mati disini adalah tuhan telah mati dari akal pikiran kita, semua yang terjadi meninpa kita tidak ada sangkut pautnya dengan tuhan. Allah hanya kita sembah tanpa kita yakini kemaha kuasa-Nya.

Muncul pula dalam buku klasik Nietzsche Also sprach Zarathustra, yang paling bertanggung jawab dalam memopulerkan ungkapan ini. Gagasan ini dinyatakan oleh ‘The Madman’ sebagai berikut: “Tuhan sudah mati. Tuhan tetap mati. Dan kita telah membunuhnya. Bagaimanakah kita, pembunuh dari semua pembunuh, menghibur diri kita sendiri?”

Nietzsche mencoba mengatakan bahwa gagasan tentang Tuhan tidak lagi mampu berperan sebagai sumber dari semua aturan moral atau teleologi. karena “Ketika seseorang melepaskan iman, ia mencabut hak terhadap moralitas dari bawah kakinya. Moralitas ini sama sekali hilang dengan sendirinya. Dengan menghancurkan sebuah konsep utama dari keiman kepada Tuhan, orang menghancurkan keseluruhannya.

Kematian Tuhan adalah sebuah cara Nietzsche untuk mengatakan bahwa manusia tidak lagi mampu mempercayai campur tangan tuhan dalam tatanan kehidupan atau minimalnya mereka sendiri tidak lagi mengakuinya. Kematian Tuhan, akan membawa bukan hanya kepada penolakan terhadap keyakinan secara fisik tetapi juga kepada penolakan terhadap nilai-nilai mutlak itu sendiri – kepada penolakan terhadap keyakinan akan suatu hukum moral yang obyektif dan universal.

BACA JUGA :  Ibu Benteng Utama Keluarga pada Masa Pandemi Covid 19

Maka kita harus memahami permasalahan kaitannya corona ini adalah tentang ketaqwaan. Karena jikalau kita hanya berfikir virus ini adalah virus yang datang dari Wuhan, sebab pertama kali munculnya dari kelelawar, virus ini dapat menyebabkan tingkat kematian hingga sekian-sekian persen. Maka yang terjadi tidak ada bedanya antara kita dan orang-orang barat.