Renungan Ramadhan : Meninggalkan Kita Dan Kita Tertinggal

0
1 views

Oleh Abdul Ghofur

RAMADHAN 1441 H sudah memasuki sepuluh hari ke dua, artinya bulan suci tahun ini tinggal sepuluh hari terakhir, atau sepuluh hari ke tiga. Pada sepuluh hari terakhir itu banyak keistimewaan yang Allah berikan kepada ummatnya yang bersedia dan memanfaatkan momentum itu untuk lebih semangat menjalankan ritual-ritual ibadah selama Ramadhan.

Para ulama’ di hari-hari terakhir di hulan suci Ramadhan menilai sebagai waktu-waktu yang sangat berharga. Mereka memanfaatkan momentum itu dalam wujud ibadah khusu’, melebihi di hari hari Ramadhan sebelumnya. Mengapa mereka melakukan hal itu ? apa yang mendorong para ulama’ bersedia dan selalu ingin menambah ibadahnya di hari-hari terakhir di bulan Ramadhan ?.

Di sepuluh hari terakhir Allah memerintahkan malaikan Jibril untuk turun ke bumi, memperhatikan ummat manusia, siapa diantara mereka yang menghidupkan malam-malam Ramadhan dengan menunaikan sholat lail. Malaikat mencatatnya dengan tinta keberuntungan.

Sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan menjadi waktu yang istimewa untuk memperbanyak ibadah. Ini karena pada malam tersebut terdapat satu malam yang lebih baik daripada seribu bulan, yaitu malam Lailatulqadar. Yang mana ketika mendirikan salat pada malam itu, maka Allah akan menghapus segala dosanya yang telah lalu.

“Barangsiapa yang berpuasa pada bulan Ramadlan dengan penuh keimanan dan mengharap (pahala dari Allah), maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni. Dan siapa yang menegakkan (shalat pada malam) pada lailatul Qadr dengan keimanan dan mengharap  (pahala dari Allah), maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.” (HR. Al-Bukhari no. 34 dan Muslim no. 1268)

Lailatul qadar tidak bisa diraih oleh mereka yang ibadahnya dilakukan dengan serampangan, ibadah Ramadhan di hari-hari sebelumnya hanya dilaksanakan dengan biasa-biasa saja. Lailatul qadar insya Allah bisa diraih apabila mereka selama Ramadhan telah menjalankan ibadah dengan sebaik-baiknya, memiliki kontribusi dan bekal untuk bisa dibawa menuju malam yang lebih mulia dari seribu bulan. Maka siapa saja yang tidak memanfaatkannya akan tertinggal, menyesal, karena tidak ada jaminan di tahun depan masih diberi kesempatan oleh Allah untuk bertemu kembali dengan Ramadhan.

BACA JUGA :  Ustadz Khaerul Anwar ; Soal Wabah, Mari Belajar Dari Nabi Ayyub

Memperbanyak baca Al qur’an di bulan Ramadhan dinilai lebih utama, lantaran malam lailatul qadar adalah turunnya Al qur’an di bulan Ramadhan, khususnya pada malam-malam ganjil di sepuluh hari terakhir Ramadhan.

Pada malam-malam tersebut, Rasulullah SAW menganjurkan untuk memperbanyak dzikir dan membaca Al-Quran.

Dikatakan Imam As-Syafi’i, Rasulullah SAW selalu mengkhatamkan Al-Quran minimal dua kali pada bulan Ramadhan.

Menurut Imam Nawawi, membaca Alquran di 10 hari terakhir bulan Ramadan lebih baik dilakukan di akhir malam ketimbang awal malam. Dan membaca Alquran yang paling baik adalah selepas salat subuh.

Itikaf merupakan kegiatan berdiam di dalam masjid dengan maksud mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Menurut para Ulama, Rasulullah SAW selalu rutin ber-itikaf di 10 hari terakhir Ramadhan. Pelaksanaan itikaf ini diisi dengan ibadah lainnya seperti dzikir, membaca Alquran, istighfar, bershalawat, serta memperbanyak doa dan tafakkur.

Diriwayatkan dari Sayyidah Aisyah Radhiyallahu ‘anha, Aisyah berkata “ Aku bertanya, ‘ Ya Rasulallah. Apa pendapat engkau jika aku tahu kapan malam Lailatul qadar (terjadi) apa yang harus aku dzikirkan/ baca ?’ Nabi Muhammad SAW menjawab “Ucapkanlah/berdo’alah “ Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu anni”. Artinya : “Ya Allah sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf yang menyukai permintaan maaf, maafkanlah aku” (HR Tirmidzi)

Namun, di tengah pandemi virus corona yang melanda Ramadhan 1441 H tahun ini, tampaknya pelaksanaan itikaf akan sulit untuk dilakukan. Oleh karena itu, maksimalkan ibadah lainnya di sepuluh hari terakhir, agar bisa tetap menggapai keutamaan bulan Ramadhan.

Memaksimalkan ibadah di akhir Ramadhan sebagai alternatif agar kita tidak merasa rugi ketika Ramadhan meninggalkan kita, dan kita tertinggal karena tidak memanfaatkan dengan amalan-amalan terbaik selama Ramadhan berlangsung. Semoga bermanfaat.

BACA JUGA :  Milad Muhammadiyah 107 “Mengabdi untuk bangsa yang Berkemajuan”

Abdul Ghofur ; pimpinan redaksi kendalmu.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here