Renungan Ramadhan : Metamorfosis Pasca Ramadhan

0
136
Kupu yang indah adalah hasil proses metamorfosis. ( sumber google )

 

Oleh Abdul Ghofur

RAMADHAN tahun ini sedang menuju puncaknya, hampir mendekati garis finis, dimana Ramadhan sudah memasuki fase 10 hari ketiga. Tinggal menghitung hari, Ramadhan tahun 1441 H/2020 M akan berakhir dan memasuki bulan Syawal.

Kita rasakan selama menjalankan ibadah Ramadhan di tahun ini sangat berat, tidak sekedar menahan makan, minum, hubungan suami istri di siang hari, dan hal-hal yang bisa membuat ibadah puasa kita rusak, tetapi juga umat Islam, khususnya di Indonesia sedang berhadapan dengan kondisi pandemi Corona Virus Desease (Covid-19), sehingga segala kegiatan yang menghadirkan orang banyak ditiadakan, diganti dengan kegiatan ibadah cukup bersama keluarga di rumah, social distancing. Namun demikian jika ibadah Ramadhan di musim pagebluk ini dilandasi dengan keimanan, ketaqwaan kepada Allah SWT dan keikhlasan terasa tetap tenang.

Ada satu analogi yang mengibaratkan setiap bulan suci Ramadhan sebagai bulan metamorfosis umat Islam, seperti dunia serangga, kupu-kupu mengalami proses metamorfosis. Prosesnya mulai dari telur kemudian larva (ulat) berubah menjadi kepompong dan akhirnya kupu-kupu.

Ulat adalah binatang yang menakutkan bagi manusia, karena binatang itu dapat menimbulkan gatal pada orang yang dirambatinya. Ulat juga dapat menyebabkan kerugian bagi banyak petani. Mereka merugi jutaan bahkan milyaran rupiyah karena perbuatan ulat yang merusak padi, jagung, cabai, bawang, dan jenis tanaman lainnya.

Perbuatan ulat ibarat sebagai manusia yang jahat dan selalu berbuat kerusakan, keonaran, kezaliman, dan kekacauan dimanapun dia berada. Masyarakat merasa tidak tenang dan tentram hidupnya kalau ada dia, bahkan banyak orang yang mendoakan agar dia cepat mati.

Pada proses ulat selanjutnya yaitu menjadi kepompong, dimana ulat mengalami proses istirahat atau puasa selama 7 sampai 20 hari, tergantung jenis spesiesnya. Pada proses ini ulat berhenti makan. Begitu juga umat Islam diperintahkan oleh Allah berpuasa. Tujuannya menekan hawa nafsu, tidak hanya menghindari makan dan minum, tetapi juga perbuatan-perbuatan lain yang membuat puasa bisa cacat.

BACA JUGA :  Serangan Nine Eleven yang Mengguncang Dunia (Bagian 1)

Setelah proses kepompong adalah menjadi kupu-kupu yang indah. Semua orang menyenangi kupu-kupu, karena keindahannya sehingga dijadikan cinderamata karena diawetkan terlebih dahulu.

Ada keistimewaan sifat kupu-kupu, yaitu ketika hinggap di ranting ia tidak merusaknya. Kupu-kupu juga makan dari makanan yang baik, saripati tumbuhan. Kupu-kupu mampu membantu proses tumbuhan, tanaman melalui penyerbukan.

Umat Islam yang berpuasa dengan dilansasi iman dan taqwa kepada Allah SWT mempunyai sifat-sifat terpuji. Ia tidak akan pernah berbuat kejahatan, mengganggu sesamanya, tetapi membantu masyarakat, sebagai pelopor menciptakan masyarakat yang berkemajuan. Umat Islam yang puasanya dilandasi dengan nilai-nilai ilahiyah akan makan dan minum yang halal dan baik. Ia pantang mengambil milik orang lain yang bukan miliknya. Jika menjadi pejabat ia tidak akan korupsi, manupulasi dan sebagainya. Ia berdiri di tengah-tengah masyarakat  sebagai pengayom dan pelindung, menjadi uswah hasanah dalam kehidupan sehari-hari. Ia suka membantu saudara-saudaranya disaat sedang kesusahan.

Mari kita jadikan puasa di bulan Ramadhan ini sebagai momentum melakukan metamorfosis  untuk berubah menjadi lebih baik, meraih kebahagiaan di dunia dan akhirat.

Semoga bermanfaat.

Abdul Ghofur adalah Sekretaris Majelis Pustaka dan Informasi PDM Kendal, dan Pimpinan Redaksi kendalmu.com.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here