Renungan Syawwal : Tingkatkan Kepedulian Kepada Yang Terdampak Covid-19

0
0 views
Agus Wahyudi adalah kepala kantor Lazismu Daerah Kendal

Oleh Agus Wahyudi

SYAWWAL memiliki makna peningkatan. Dalam kontek pasca Ramadhan berarti meningkatkan amal perbuatan yang memiliki nilai ibadah kepada Allah SWT setelah satu bulan penuh menunaikan ibadah Ramadhan dengan khusuk yang dilandasi dengan ketaqwaan dan kesabaran.

Di Indonesia selama Ramadhan dan Iedul Fitri tahun ini masih dalam situasi pandemi Corona Virus Desease (Covid-19) dan ke depan belum ada prediksi yang akurat kapan virus itu akan hilang dari negeri kita tercinta ini. Maka dalam kontek bulan Syawwal kita jadikan sebagai momentum untuk meningkatkan kepedulian terhadap mereka yang terdampak virus corona sebagai wujud pengamalan dari ayat Al qur’an Surat Al Ma’un. Adapun upaya pendampingan terhadap mereka adalah dengan mengajak menciptakan ketersediaan pangan mandiri yang diprakarsai oleh Lazismu.

Program ketahanan pangan sebagaimana dikutip dari Panduan Program Lazismu Dalam Masa Covid dan Ramadhan 1441 H dimaksudkan untuk mendukung dan mensubsidi para mustakhik, kelompok rentan, dan masyarakat lainnya yang terdampak dalam memenuhi kebutuhan makanan pokok dalam durasi waktu tertentu. Program ketahanan pangan Lazismu juga sebagai program nasional yang dilaksanakan oleh seluruh kantor Lazismu di Indonesia, dan dilaksanakan secara terkordinasi yang bersifat multidimensi dan multi stakeholders sebagai perwujudan dari beberapa pilar program, seperti kesehatan, pendidikan, sosial dakwah, kemanusiaan, dan lingkungan. Adapun tujuannya adalah untuk memenuhi kebutuhan dasar masyarakat (individu atau keluarga) dan akses terhadap makanan pokok pada masa krisis yang diakibatkan dari Covid-19, sehingga akan terbangun kemampuan individu, keluarga, dan kelompok untuk memiliki daya beli terhadap makanan pokok melalui kegiatan pemberdayaan yang berkelanjutan. Lebih dari itu akan terbentuk produsen-produsen bahan atau makanan pokok olahan dari kelompok masyarakat tertentu, seperti petani, nelayan, dan karya rumahan dalam memasarkan hasil produksinya.

BACA JUGA :  Milad Muhammadiyah 107 “Mengabdi untuk bangsa yang Berkemajuan”

Kemandirian pangan dapat diciptakan oleh individu, keluarga, dan kelompok. Caranya adalah membangkitkan kembali memanfaatkan lahan kosong, pekarangan samping rumah yang selama ini barangkali belum maksimal dalam mengolah lahan tersebut. Pekarangan bisa dibuat kolam ikan di atasnya didemploti dengan sayuran, seperti kangkung. Bagi warga yang tidak memiliki pekarangan, atau lahannya sempit bisa membuat miniatur pertanian terpadu di setiap rumah tangga dengan menggunakan penampungan air yang diisi benih ikan (lele) diatasnya sayuran sebagai demplot.

Program Ketahanan Pangan Lazismu harus didasarkan pada pendataan yang valid untuk kelompok penerima manfaat yang menjadi prioritas, seperti Lansia, difable, kelompok rentan dan para pekerja (upah harian) yang berhenti bekerja, guru-guru honorer, dan guru mengaji yang berhenti mengajar, serta kelompok lainnya yang masuk dalam katagori asnaf.

Keberlangsungan program ketahanan pangan dapat terwujud melalui kemitraan Lazismu dengan pihak internal dan eksternal persyarikatan yang diawali dengan pengadaan barang, pendistribuan, dan pendataan penerima manfaat.

Semoga bermanfaat.

Agus Wahyudi adalah kepala kantor Lazismu Daerah Kendal

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here