Satu Abad MPI, Literasi Yang Tak Kunjung Usai

0
65
Bagian Depan Perpustakaan Pertama Muhammadiyah. Sumber: Dokumentasi IBTimes

Oleh Abdul Ghofur

BARANGKALI tidak begitu diperhatikan atau jarang diketahui oleh masyarakat Muhammadiyah kalau salah satu pembantu di Muhammadiyah, yaitu Majelis Pustaka dan Informasi (MPI) telah memasuki usia satu abad. Terhitung sejak 17 Juni 1920 MPI yang awalnya bernama Bahagian Taman Pustaka (BTP) ditempatkan sebagai salah satu sayap Muhammadiyah di bidang perpustakaan.

Dalam sejarah tercatat, bahwa BTP dibentuk melalui rapat istimewa dan terbatas di Gedung Hoofdbestuur (HB) Muhammadiyah yang terletak di Kampung Kauman, Yogyakarta. Dalam rapat tersebut, pendiri Muhammadiyah, KH Ahmad Dahlan sendiri yang menunjuk Haji Mochtar untuk mengurus biblioteka (perpustakaan) Muhammadiyah dan penerbitan majalah serta percetakan. Urusan Taman Pustaka dalam bentuk perpustakaan rakyat perkembangannya menggairahkan dengan munculnya beberapa Taman Pustaka di berbagai daerah sebagai upaya membangun masyarakat melalui jalur literasi. Keyakinan pentingnya bangunan literasi sebagai upaya pembangunan manusia seutuhnya ini jelas adalah hasil perenungan jernih dan visioner KH Ahmad Dahlan. Sehingga empat ‘majelis’ utama dan pertama yang diperlukan Muhammadiyah saat itu salah satunya adalah urusan kepustakaa dengan visi dan missi utamanya akan bersungguh-sungguh berusaha menyiarkan agama Islam yang secara Muhammadiyah kepada umum, yaitu dengan selebaran cuma-cuma, atau dengan Majalah bulanan berkala, atau tengah bulanan baik yang dengan cuma cuma maupun dengan berlangganan; dan dengan buku agama Islam baik yang prodeo tanpa beli, maupun dijual yang sedapat mungkin dengan harga murah. Dan majalah-majalah dan buku-buku selebaran yang diterbitkan oleh Taman Pustaka, harus yang mengandung pelajaran dan pendidikan Islam, ditulis dengan tulisan dan bahasa yang dimengerti oleh yang dimaksud.  Bahagian Taman Pustaka hendak membangun dan membina gedung TAMAN PUSTAKA untuk umum, di mana-mana tempat dipandang perlu. Taman Pembacaan itu tidak hanya menyediakan buku-buku yang mengandung pelajaran Islam saja, tetapi juga disediakan buku-buku yang berfaedah dengan membawa ilmu pengetahuan yang berguna bagi kemajuan masyarakat.

HM Mochtar yang didapuk untuk mengurusi Taman Perpustakaan secara eksplisit bahwa sebuah perpustakaan umum di lingkungan Persyarikatan mempunyai dua karakter, yaitu inklusif, artinya tidak punya tendensi ruang baca-belajar ini hanyalah untuk anggota Muhammadiyah semata, dan karakter aksesibel, yaitu bacaan dapat diperoleh secara murah bahkan cuma-cuma.

Bagian Dalam Perpustakaan Pertama Muhammadiyah. Sumber: Dokumentasi IBTimes.ID.

Dalam zaman sekarang ini sudah banyak tumbuh perpustakaan komunitas yang suka berbagi bahan bacaan secara gratis. Bahkan tanpa syarat sebagaimana yang dilakukan Taman Pustaka yang berbentuk dan bermodel dakwah Komunitas literasi. Ya, gerakan Taman Pustaka ini telah menginsipirasi ribuan taman baca dengan ciri proaktif, tidak birokratis, dan gratis. Kini telah dimanfaatkan banyak orang di berbagai pelosok Indonesia. Termasuk, nyala terang gerakan literasi dalam Rumah Baca Mahardika yang dipelopori UMY di Kokoda, Papua, beberapa tahun silam.

Kini, Serikat Taman Pustaka bersama ribuan penggerak di dalamnya juga modalitas ribuan sekolah, ribuan perpustakaan, ribuan perpustakaan masjid, ribuan perpustakaan rumahan, adalah sebuah tanggung jawab besar yang mestinya dipertahankan sekuat tenaga. Karena dengan itu, manusia Muhammadiyah berada di jalan yang paling terjal diusahakan, yaitu peran memuliakan pengetahuan, memartabatkan kemanusiaan, dan membangun zaman yang terang untuk semua anak manusia di planet bumi ini.

Seiring dengan perjalanan waktu, Bahagian Taman Pustaka mengalami pasang surut, perubahan nama dan struktur.

Muktamar 1 Abad Muhammadiyah di Yogjakarta (2010) meneguhkan kembali visi Muhammadiyah 2025 diantaranya adalah memperkuat Majelis Pustaka dan Informasi melalui strategi membangun kemampuan dan keluasaan jaringan kekuatan informasi serta pustaka Muhammadiyah sebagai organisasi Islam modern di tengah era kehidupan masyarakat informasi. Adapun Garis Besar Programnya adalah Mengorganisasi dan memperluas kelengkapan perpustakaan dan fungsi-fungsi pustaka sebagai sumber pengembangan pengetahuan dan informasi bagi kemajuan Persyarikatan. Meningkatkan kemampuan penguasaan teknologi informasi dan media publikasi sebagai instrumen bagi pengembangan peran-peran Persyarikatan dalam menjalankan misi di tengah kehidupan. Pengembangan kerjasama dalam pengelolaan pustaka dan publikasi secara lebih terorganisasi.

MPI di PDM Kendal

Di PDM Kendal, keberadaan MPI mulai menggeliat hasil putusan Musyda ke 8 di Kaliwungu (2010) dengan ditunjuknya Hayat Fuad (almarhum) sebagai ketua menggantikan Abdul Rochman (2005-2010).

Abdul Ghofur adalah pemimpin redaksi kendalmu.com dan sekretaris MPI PDM Kendal

Sepak terjang MPI saat itu mulai dirasakan oleh Muhammadiyah di Kendal dengan penerbitan  (pengadaan) kalender setiap tahun yang Selma itu dikelola oleh Majelis Tabligh, dan mendirikan taman perpustakaan. Adapun publikasi kegiatan Muhammadiyah masih sebatas di media cetak melalui beberapa Koran dan majalah (Suara Muhammadiyah). Selain minimnya warga Muhammadiyah yang peduli menulis di Koran juga masih terbatasnya SDM yang mampu menulis yang berkualitas.

Keterbatasan pimpinan Muhammadiyah Kendal dalam menulis diakui oleh Wakil Ketua PDM Kendal, Abdullah Sachur, yang disampaikan dalam kegiatan Pesantren Jurnalistik (2017). Beliau mengatakan budaya bicara di Muhammadiyah sudah banyak, tradisi membaca di persyarikatan lebih dari cukup, namun warga Muhammadiyah yang memiliki kemampuan menulis masih dapat dihitung dengan jari. Itu artinya budaya menulis dilingkungan warga Muhammadiyah dinilai masih lemah.Menurut beliau, lemahnya budaya menulis disebabkan malas belajar dan enggan berlatih untuk menulis. Munculnya kelemahan membaca di kalangan anak muda karena dimanjakan oleh alat komonikasi, HP dijadikal alat kesenangan belaka. Mereka mudah putus asa dan merasa susah untuk mengawali menulis. Idenya seperti tersumbat dan sulit mengalir.

Upaya meningkatkan budaya menulis terus dipacu oleh MPI PDM Kendal melalui berbagai pelatihan jurnalistik dengan sasaran anak-anak muda, IMM, IPM, dan PM dengan tujuan menciptakan generasi muda peduli literasi dan mampu mengelola media online dan cetak secara professional dalam rangka mengangkat publikasi Muhammadiyah Kendal untuk diketahui oleh publik.

Abdul Ghofur adalah pemimpin redaksi kendalmu.com dan sekretaris MPI PDM Kendal

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here