Satu Keluarga Pengusaha Terpandang Putuskan Jadi Mualaf Setelah Nasibnya Jungkir Balik

0
4 views
SATU KELUARGA. Pengusaha Terpandang dengan ikhlas, sukarela menjadi mualaf dengan mengikrarkan dua kalimat syahadat sebagai pintu germang masuk Islam

KENDALMU.COM | PALEMBANG. “Apakah kalian bertiga masuk agama Islam karena ada paksaan ?” tanya H Ahmad Affandi selaku ketua Pembina Iman Tauhid Islam (PITI) Sumatera Selatan.

“Tidak ada, saya masuk Islam tanpa paksaan. Melainkan murni dari dalam hati saya,”tegas Ateng alias Suyono, kepala keluarga pengusaha itu Jum’at ,(10/05/2019) lalu.

Demikian sepenggal cerita dari salah satu keluarga pengusaha terpandang sebelum menjadi mualaf. Selain Ateng, istrinya, Ong Mei Lu, dan anaknya, Lois Fernando merasa siap untuk mengucapkan dua kalimat syahadat sebagai pintu masuk agama Islam.

Dilansir dari GridStar.ID, proses pembacaan dua kalimat syahadat oleh ketiga calon mualaf ini dipimpin oleh H Ahmad Affandi.

Proses sakral tersebut dihadiri Gubernur Sumsel Herman Deru, Gubernur periode 2003-2008 Syahrial Oesman, tokoh masyarakat Kemas H Halim, Ketua MUI Sumsel Aflatun Muchtar, Ustad Sodikun dan lainnya.

Saya tidak akan banyak bicara, hidayahlah yang memangil saya untuk masuk Islam dan ini sudah panggilan hati. Perasaan hati sejuk dan lebih tenang,” ujar Hermanto, pemilik toko Jaya Raya elektronik di kawasan 16 Ilir.

Pria kelahiran Palembang 7 February 1956 ini menceritakan, sewaktu kecil rumahnya dekat dengan masjid, dan sekarang rumahnya berada di seberang masjid.

Kesehariannya yang banyak berinteraksi dengan umat Muslim memengaruhi jiwanya untuk masuk Islam.

“Prosesnya butuh dua tahun untuk memutuskan memeluk agama Islam. Terlebih saya sudah mengalami tiga fase yaitu yang pertam hidup enak, lalu tahun 1998 krisis moneter, dan ketiga yang kebakaran toko,” katanya.

Menurutnya, saat insiden kebakaran toko ia banyak dibantu oleh temen-temen muslim.

Perjalanan hidup ini memang semuanya butuh proses, untuk itu ia pun menjelaskan terhadap keluarga dan terhadap etnisnya atas keputusan yang diambil.

BACA JUGA :  Belajar Pecahkan Masalah Bersama Sekum PD IPM Kendal

“Keluaraga semua terima, cuma kalau mau keluarga semua Islam butuh proses dan waktu,” jelasnya.

Usai resmi memeluk agama Islam, Hermanto Wijaya untuk pertama kalinya salat Ashar berjamaah di Masjid Raya Citra Grand City. Proses mengambil wudu dan salat diajarkan oleh para ustaz.

“Saya sangat senang bisa salat di sini,” katanya.

“Namanya baru proses belajar ya. Tempat kita dulu juga ada jongkok tapi jongkoknya tidak sampai habis ke bawah. Kalau untuk baca-bacaanya nanti dipandu ustad, bisa bisa privat belajar bertahap,” katanya.

Momentum mualaf berdekatan dengan bulan Ramadan, Hermanto mengatakan akan belajar puasa.

“Saya akan puasa, tapi kayaknya belum bisa full karena proses belajar. Dan pastinya saya akan naik Haji namun prosesnya bertahap,” katanya.

Ia juga mengaku sudah sunat.

“Saya sudah sunat 30 tahun lalu saat muda” tuturnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here