Seandainya Menkes RI, dr. Terawan Dicopot, Siapa Penggantinya ?

0
44
Menteri Kesehatan RI, Letnal Jenderal TNI Dr. dr. Terawan Agus Putranto, Sp.Rad

KENDALMU.COM | KENDAL. Masih ingat Presiden RI Joko Widodo marah di hadapan para menterinya ketika memimpin Sidang Kabinet Paripurna di Istana Negara pada Kamis (18/6). Dan salah satu menteri yang mendapat teguran Presiden ketika itu adalah Menteri Kesehatan, Letnan Jenderal TNI Dr. dr. Terawan Agus Putranto, Sp.Rad ,pasalnya di tengah Pandemi Covid 19 ini dirinya dinilai kurang serius kinerjanya. Bahkan Presiden mempertegas, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) yang dipimpin Terawan belum memaksimalkan anggaran yang disediakan. Dana 75 Triliun yang semestinya digunakan dengan sebaik mungkin ternyata belum dimaksimalkan. Kemenkes justru baru mencairkan 1,5 persen dari jumlah dana jumbo tersebut.

Pernah Ditolak IDI Jadi Menkes

Dilansir Jakarta, CNBC Indonesia. Terpilihnya Terawan Agus Putranto sebagai Menteri Kesehatan pernah mengundang polemik. Bahkan Ikatan Dokter Indonesia (IDI) menolak dengan Mayjen TNI itu menduduki kursi nomor satu di Kementerian Kesehatan RI.

Terawan pernah dipecat dalam sidang Majelis Kehormatan Etik Kedokteran (MKEK) PB IDI selama 12 bulan 26 Februari 2018- 25 Februari 2019. Ia dikenai sanksi atas pelanggaran etik serius dengan karena metode terapi “cuci otak” yang ia terapkan bagi penderita stroke.

Berikut kutipan lengkap surat MKEK IDI yang menolak rekomendasi dr Terawan sebagai Menkes yang beredar di wartawan:

Dengan hormat, Pertama-tama kami ingin menyampaikan salam hormat kepada Bapak Presiden RI, semoga Bapak senantiasa tetap sehat di bawah lindungan Tuhan Yang Maha Esa.

Kedua, kami ingin melaporkan bahwa pada tanggal 22 September 2019 di surat kabar detikhealth.com telah terbit tentang usulan enam calon Menteri Kesehatan pada kabinet yang akan datang.

Bila diperkenankan kami ingin menyarankan agar dari usulan calon calon tersebut mohon kiranya Bapak Presiden tidak mengangkat Dr Terawan Agus Putranto, Sp.Rad(K) sebagai Menteri Kesehatan. Adapun alasan yang mengiringi saran kami adalah karena Dr. Terawan Agus Putranto, Sp.Rad(K) sedang dikenakan sanksi akibat melakukan pelanggaran etik kedokteran. Sanksi tersebut tertera dalam Keputusan Majelis Kehormatan Etik Kedokteran PB IDI No.009320/PB/MKEK-Keputusan/02/2018 tanggal 12 Februari 2018.

Saran ini disampaikan dengan tetap menghargai dan menghormati keputusan Bapak Presiden RI sesuai dengan kewenangan yang berlaku. Semoga saran ini dapat dipertimbangkan sebaik-baiknya.

Namun sayangnya, saat dikonfirmasi CNBC Indonesia, IDI belum memberikan jawaban.

Meski demikian Terawan menganggap penolakan tersebut biasa saja.

“Ya ndak papa. Kan namanya jabatan politis, ada yang menerima, ada yang menolak. Itu hal biasa,” katanya, Rabu (23/10/2019).

Meski tidak menjabat dengan tegas, saat ditanya apakah masih melayani pasien atau tidak, mantan Kepala RSPAD ini mengaku dirinya tetap sebagai dokter yang wajib membantu masyarakat untuk memberikan konsultasi.

“Saya kan mau menolongnya. Masak ada emergency nggak saya tolong. Itu kan pasti harus,” ujar lulusan Universitas Gadjah Mada (UGM) ini.

Terawan ditunjuk sebagai Menteri Kesehatan menggantikan dr Nila Moeloek. Pria kelahiran Sitisewu Yogyakarta tahun 1964 ini mengaku bakal fokus ke beberapa hal antara lain pembenahan BPJS Kesehatan.

Siapa Pengganti Terawan?

Dikutip dari laman moderatmu.com. Kalau Terawan dicopot dari jabatan Menteri Kesehatan maka siapa yang akan menggantikannya?. Pengganti Terawan sudah pasti tidak boleh sembarang orang. Sebab ia akan dihadapkan pada masalah besar dan serius yakni Covid 19. Kalau saja penggantinya hanya biasa-biasa saja ya sama saja bohong. Penggantian Menkes hanya sebatas formalitas dan tidak substantif. Orang baru harus memiliki visi dan kreasi baru untuk menangani Covid 19 di Indonesia.

Untuk pengganti Terawan beberapa orang mengusulkan agar dari kalangan Muhammadiyah. Meski usulan ini tidak formal dan hanya slentingan ringan tetapi cukup masuk akal. Sebab Muhammadiyah merupakan ormas Islam yang memiliki profesionalitas tinggi di bidang kesehatan. Selain di dunia pendidikan dan pelayanan sosial.

Adapun argumentasi singkat dan sederhana mengapa Muhammadiyah layak menahkodai Kementerian Kesehatan adalah sebagai berikut:

Pertama, Saat ini Muhammadiyah telah memiliki ratusan layanan kesehatan yang terdiri dari klinik, balai pengobatan, dan rumah sakit. ratusan gedung layanan kesehatan milik ormas yang didirikan oleh Ahmad Dahlan tersebut tersebar di seluruh Indonesia. Tidak hanya di perkotaan saja. Persebarannya juga sampai ke beberapa pelosok di negeri ini.

Dalam penanganan Covid 19 setidaknya ada 65 rumah sakit Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah yang menjadi rumah sakit rujukan penanganan covid-19. Ribuan pasien Covid 19 telah ditangani.

Selain itu Muhammadiyah masih akan terus menambah jumlah rumah sakit yang dapat dijadikan rujukan penanganan covid-19. Bahkan saat ini tengah dilakukan persiapan rumah sakit darurat untuk menangani covid-19 di Gombong, Kebumen, Jawa Tengah.

Rumah sakit darurat ini akan  mampu menampung dan merawat 100 pasien covid-19. Rumah sakit darurat covid-19 yang menempati Rusunawa ini dilakukan dengan melibatkan sejumlah ahli diantaranya  ahli di bidang standar fasilitas rumah sakit covid-19. Di rumah sakit darurat ini tersedia sejumlah ruangan antara lain  Intensive Care Unit (ICU), ruang perawatan, laboratorium, dan ruang lainnya yang berkaitan dengan perawatan maupun diagnosa.

Kedua, Ketua Muhammadiyah Covid 19 Command Center (MCCC) dr. Corona Rintawan SpEM diangkat menjadi staf khusus di Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Ia ditempatkan di Deputi Strategi,  Perencanaan dan Analisis Situasi.

di BNPB ia membantu Gugus Tugas khususnya di bidang kesehatan. Memberikan saran atau usulan solusi. Juga memberikan informasi terkait apa yang terjadi di masyarakat, hambatan yang mungkin dihadapi oleh masyarakat, tenaga kesehatan di fasilitas layanan kesehatan.

Ketiga, Selain di bidang kesehatan, Muhammadiyah juga bergerak dalam rangka memerangi Covid 19. Pemberdayaan kepada masyarakat melalui beberapa program terus dilakukan secara intens oleh Muhammadiyah.

Per 12 Mei 2020 tercatat ada 2.035.405 jiwa penerima bantuan dari Muhammadiyah. dana yang digelontorkan mencapai Rp 123 miliar.

Penerima manfaat respons COVID-19 tersebut juga meliputi pembagian masker pada 326.874 jiwa, penyemprotan disinfektan untuk 48.605 titik, dan pembagian cairan pembersih tangan atau hand sanitizer untuk 87.530 jiwa.

Selain menyalurkan bantuan pada para penerima manfaat tersebut, Muhammadiyah juga melakukan pengumpulan data terkait relawan termasuk pula para tenaga kesehatan di rumah sakit yang memang juga dikategorikan sebagai relawan. Total relawan Muhammadiyah mencapai sekitar 40 ribu orang.

Maka tak heran jika akhir-akhir ini Lembaga Kajian Strategis dan Pembangunan (LSKP) mengeluarkan rilis survei bahwa Muhammadiyah adalah organisasi paling peduli dalam penanganan Covid 19. Muhammadiyah mendapatkan 17,26 persen pengakuan dari responden. Kemudian disusul Ikatan Dokter Indonesia (IDI) yang mendapatkan 16,51 persen.

Survei tersebut dilakukan pada 20-27 Mei 2020 melibatkan 2.047 responden di 34 provinsi seluruh Indonesia yang tersebar secara proporsional. Temuan ini cukup menarik karena keterlibatan besar Muhammadiyah dalam penanganan Covid 19 tidak sebanding dengan kuantitas jamaahnya.

Lalu siapa orangnya?

Soal siapa orang yang akan diusulkan dan mewakili Muhammadiyah di jabatan Menteri Kesehatan sepertinya tidak terlalu penting. Sebab substansi dari argumen di atas adalah kapabilitas dan profesionalitas Muhammadiyah dalam melakukan upaya-upaya penanganan Covid 19. Artinya jika Menkes ini dipercayakan kepada Muhammadiyah maka sudah pasti akan disengkuyung bareng oleh persyarikatan Muhammadiyah dengan segala kemampuannya dalam melaksanakan amanah itu. Siapapun orangnya.

Meski begitu jadi menteri atau tidak Muhammadiyah tetap akan bergerak tanpa henti untuk negeri. Sebab bagi Muhammadiyah menteri bukan ajang untuk bergengsi, tetapi gerakan keummatan adalah esensi.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here