Sillaturrahmi Kebangkitan Ekonomi Ummat, Ketua MEK Kendal Beberkan Tantangan Mendirikan AUM Bidang Ekonomi

0
80 views
BEBERKAN. Ketua MEK PDM Kendal, Moechammad Noer Agoes Hidayat membeberkan perjalanan sejarah berdirinya Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) Bidang Ekonomi di Kendal sampai berdirinya Toko Mina Sari di Kendal (foto dok fur)

KENDALMU.COM | BOJA. Ketua Majelis Ekonomi dan Kewirausahaan Pimpinan Daerah Muhammadiyah (MEK PDM) Kendal, Moechammad Noer Agoes Hidayat membeberkan sejarah perjalanan Majelis yang dipimpinnya dalam mendirikan Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) di bidang Ekonomi dengan segala tantangannya.

Hal tersebut disampaikan dia dalam acara Sillaturrahmi MEK PDM Kendal dengan MEK PCM se Kawedanan Boja pada Ahad (11/4) di SMK Muhammadiyah 2 Boja.

MEK, kata Agoes pernah mengawali usahanya di bidang perbankkan dengan menggandeng lembaga keuangan mikro, yakni Baitul Tanwil Muhammadiyah (BTM) Pekalongan.

“Keputusan MEK mendirikan BTM karena di Muhammadiyah Kendal belum mempunyai lembaga keuangan yang resmi” kata Agoes.

Upaya mendirikan lembaga keuangan mikro tersebut telah dilakukan oleh MEK dengan menghadirkan direktur BTM Pekalongan untuk presentasi.

“Namun terkendala belum adanya fasilitas, ruang dan persyaratan dasar lainnya sebagai syarat mendirikan BTM” ungkapnya. Di PDM Kendal secara krusial, lanjutnya juga belum adanya satu atap dalam hal pengelolaan keuangan.

Mendirikan BTM di Kendal tertunda, namun MEK menemukan ide ke dua yakni sebagai distributor air minum mineral ‘suli lima’.

“Kita hadirkan dari PP Muhammadiyah untuk breakdown mengelola usaha air minum itu dan posisi kita sebagai tangan panjangnya, pemasaran” bebernya.

Proses pemasaran ‘suli lima’ dimulai dengan melakukan estimasi seksama sehingga muncul bayangan keuntungan.

“Modal dari kantong masing-masing anggota MEK, yakni meyiapkan gudang, angkat pegawai dan siap action” lanjutnya.

Namun ketika dievaluasi ternyata belum bisa membuat untung, terdapat jumlah konsumen suli lima di Kendal masih sedikit.

“Orderan dan jaringan suli lima masih sedikit. Seharusnya usaha bisa maju jika jaringannya luas” tegas Agoes.

MEK tidak berhenti sampai di situ, ekspansi tetap dilakukan dengan melihat peluang usaha lain  yang bisa memberi keuntungan dan jatuh pilihan usaha seragam anak-anak sekolah.

BACA JUGA :  PP Muhammadiyah Tunjuk SMK Muhammadiyah 3 Weleri Garap Video Pembelajaran

“Kami menggandeng ‘PT Sritek’, sebuah perusahaan tekstil terbesar di Asia Tenggara yang berlokasi di Sukoharjo” kata Agoes.

Dipilihnya bisnis kain seragam sekolah, karena jumlah siswa di sekolah Muhammadiyah Kendal sangat banyak dan berasumsi akan mendapat kemudahan untuk masuk di sekolah-sekolah persyarikatan.

“Tentu keuntungannya sebagian diantaranya untuk persyarikatan dan pengelola sekolah ” kata Agoes memberi alasan.

“Namun ketika kain seragam itu didistribusikan ke sekolah-sekolah Muhammadiyah di Kendal dan diterima kemudian siswa mengenakan seragam yang kainnya dari kita, persoalan muncul, yakni tentang pembayaran” kenangnya.

“Ordernya banyak, tetapi bayarnya pakai mata uang jepang, ‘yen’. Artinya, yen (bahasa jawa), kalau ada uang dibayar,” ucapnya disambut gerr yang hadir.

Tentang kain seragam sekolah, lanjutnya juga tidak sesuai dengan pesanan awal.

“Order 1000 potong, tetapi yang diambil dan akan dibayar 300 potong” ujarnya mencontohkan.

“Bayangannya akan dapat untung banyak, tapi bayarnya kalau ada uang” ungkapnya lagi.

Model bisnis dengan pembayaran yang tidak jelas, menurut Agoes akan mengakibatkan tidak bisa bertahan lama dan persediaan modal cepat habis karena uang harus berputar.

Agoes yang juga direktur CV. Aga Karya Weleri menilai mendirikan usaha bisnis atas nama lembaga seperti persyarikatan bukan pekerjaan mudah.

“Kami secara personal adalah pebisnis, pengusaha sesuai dengan kompetensinya, tetapi kami mengalami kesulitan luar biasa ketika mendirikan AUM di bidang ekonomi atas nama persyarikatan” ungkapnya.

Mendirikan usaha ekonomi untuk Muhammadiyah, kata Agoes harus menggandeng orang Muhammadiyah yang dinilai sukses di usahanya.

“Pilihan kami jatuh pada H Muhammad Widodo yang kami nilai sukses mengelola beberapa ritel di Kendal” katanya.

H Widodo bagi MEK tidak hanya anggota Muhammadiyah, keuletan dalam merintis usahanya sehingga sukses dengan puluhan ritel patut dijadikan panutan bisnis sembako dengan beberapa toko sembako yang tersebar di Kab. Kendal dan Batang.

BACA JUGA :  Surat Edaran PDM Kendal Tentang Kewaspadaan & Antisipasi Penularan Wabah Covid-19

“MEK bekerja sama dengan beliau yang juga boss Sari Grosir” kata Agoes.

Komitmen yang tertuang dalam MoU antara MEK dan Sari Grosir Weleri dibuat dan ditanda tangani ke dua belah pihak

“MoU mendirikan toko sembako secara tertulis singkat yang menguraikan perjanjian antara dua pihak kami lakukan” ungkap Agoes.

Dalam perjalanannya, lanjut Agoes kerja sama itu telah menunjukkan perkembangan yang bagus, yaitu berdiri toko ‘Mina Sari’ di Komplek Gedung Pusat Dakwah Muhammadiyah Kendal

“Dengan Mina Sari diharapkan ke depan berdiri Mina Sari yang lain di Kendal” pintanya. (fur)