Tiga Pesan Ustadz Zabidi Di Akhir Tahun. Apa Itu..?

0
0 views
PESAN. Wakil ketua PDM Kendal, Drs Ustadz KH. Muh. Zabidi saat menyampaikan pesan kepada jamaah pengajian Fastabiqul Khairat Ahad pagi (foto dok gofur)

KENDALMU.COM  | RINGINARUM. Sekarang ini ada ada sebuah amalan ibadah yang cukup viral di tengah-tengah masyarakat Islam, khususnya di Weleri, Ibadah tersebut memang sangat dianjurkan oleh Rasulullah.

Demikian kata wakil ketua PDM Kendal, Ustadz Moh Zabidi ketika menyampaikan ceramah pada pengajian Ahad pagi Fastabiqul Khairat yang diselenggarakan oleh PCM Ringinarum (15/2) di aula balai desa Caruban, Ringinarum.

Menurut ustadz Zabidi, amalan ibadah yang dimaksud dan sering dilaksanakan khususnya oleh warga Muhammadiyah Weleri, yaitu sholat syuruq,

Dikatakan oleh beliau, syuruq artinya terbit. Syaraqat as-Syamsu artinya matahari terbit.

“Kita perlu kenal shalat syuruq dan dilaksanakan. Shalat syuruq berkaitan dengan waktu. Shalat syuruq berarti shalat yang dikerjakan di waktu matahari terbit” katanya.

Dijelaskan, prosesi shalat isyraq di awali dengan shalat fajar atau qobliyah, kemudian shalat subuh berjamaah di masjid, di lanjutkan dengan berdzikir, atau membaca Al qur’an.

“Setelah shalat subuh dilanjutkan dengan berdzikir, membaca Al qur’an sampai terbit matahari untuk melaksanakan shalat isyraq” jelas ustadz Zabidi mengutip hadist nabi ‘barang siapa yang shalat subuh berjamaah kemudian ia duduk untuk berdzikir kepada Allah sampai matahari terbit, kemudian ia shalat dua rakaat , maka ia akan mendapatkan pahala seperti pahala haji dan umroh’

Pesan ke dua yang disampaikan ustdz Zabidi adalah himbauan untuk melaksanakan shalat gerhana matahari.

“Sesuai penanggalan tanggal 26 Desember 2020 akan terjadi gerhana matahari” kata ustadz Zabidi.

Beliau menjelaskan, peristiwa gerhana matahari tidak ada hubungannya dengan kematian seseorang, atau musibah, tetapi peristiwa alam sebagai kekuasaan dari Allah SWT.

Untuk wilayah Kab. Kendal, kata Zabidi, juga akan mengalami gerhana matahari yang dimulai pukul 11 an, dan puncaknya pukul 12. 47 WIB.

BACA JUGA :  Panitia Bidang Media dan Humas Muktamar 48, Siap Gencarkan Syiar ke Seluruh Indonesia

“Maka sebaiknya shalat gerhana matahari dilaksanakan setelah shalat dhuhur”pesannya.

Pesan yang ke tiga adalah tahun baru 2020 yang disikapi oleh sebagian besar masyarakat kita dengan budaya lek-lek an.

“Perlu diingat bahwa perayaan tahun baru 1 Januari bukan budaya Islam.Itu penanggalan masehi dengan tahunnya Milladiyah” ujarnya.

Umat Islam, menurut beliau, memiliki penanggalan dan tahun baru sendiri, yaitu penanggalan hijriyah dengan tahun baru di bulan Muharram.

Dikatakan, perayaan tahun baru masehi ternyata yang terjadi di masyarakat adalah budaya-budaya yang tidak Islami, bahkan menghambur-hamburkan uang.

“Membakar kembang api, meniup terompet, dan membunyikan lonceng bukan budaya Islam” ungkapnya.

Ustadz Zabidi menyarankan, sebagai umat Islam tidak perlu menyambut tahun baru milladiyah

“Seperti biasa di malam itu, kita bangun di sepertiga malam untuk mendirikan shalat lail, dilanjut dengan tadarus Al qur’an, kemudian shalat subuh berjamaah di masjid, berdzikir, dan shalat syuruq” pungkasnya. (kang fur)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here