Beranda Dinamika Ustadz Hamka Mengungkap Hikmah Dari Kisah Tiga Pemuda Dalam Menjalankan Perintah

Ustadz Hamka Mengungkap Hikmah Dari Kisah Tiga Pemuda Dalam Menjalankan Perintah

0
58 views
USTADZ MUHAMMAD HAMKA. Kisah tiga pemuda dengan karakter berbeda ketika menjalankan perintah atasannya, sang raja (foto dok aries)

KENDALMU.COM | BOJA. Perintah seorang atasan kepada bawahan dalam sistem pemerintahan atau lembaga adalah sesuatu yang lazim berlaku sebagai bentuk berjalannya sebuah organisasi. Dan sebagai pembantu atasan dalam menjalankan tugas-tugasnya bisa saja terjadi perbedaan, tergantung pada karakter masing-masing. Hal tersebut pernah terjadi di Timur Tengah terdapat seorang raja yang bijaksana dibantu para menterinya yang sebagian besar adalah para pemuda.

Demikian Ustadz Muhammad Hamka, mengawali kisahnya, yang dituturkan kepada anggota jamaah pengajian Ahad pagi PCM Boja (6/12) di halaman PAY Shalahudin Al Ayyubi Tampingan, Boja, Kendal.

“Suatu ketika Sang Raja memerintahkan tiga pemuda untuk menjalankan titahnya” kata Hamka.

Perintah Raja, lanjut beliau, saat itu dinilai aneh, meskipun yang akan dikerjakan oleh ke tiga pemuda bawahnnya itu mudah.

“Wahai ke tiga pemuda menteriku, hari ini aku  sengaja memanggil kalian bertiga, karena ada sesuatu yang ingin aku perintahkan kepada kalian, tapi ini tidak menyangkut tugas negara, apa kalian siap?” tanya sang raja.

“Siap paduka!” jawab mereka bertiga serentak, meski dalam hati mereka masih bertanya-tanya tentang apa yang akan diperintahkan oleh raja mereka.

“Begini para menteriku, hari ini aku perintahkan kalian bertiga pergi ke kebun buah yang ada di belakang istana ini, isilah karung kosong yang kalian bawa ini dengan apa yang ada di kebun itu sesuka kalian, setelah itu kembalilah menghadap kepadaku dengan karung yang sudah terisi dan terikat rapi” perintah sang raja yang kedengarannya rada “aneh” itu.

“Baik paduka, kami siap melaksanakan perintah paduka” tanpa “reserve”.

Singkat cerita, ketiga menteri muda itu langsung berangkat ke kebun buah yang terletak persis di belakang istana, banyak tanaman buah disana yang terawat dengan baik sehingga pohonnya subur dan buahnya lebat. Berbagai macam buah-buahan ada di sana mulai dari anggur, apel, pear, rambutan, kelengkeng, jeruk dan masih banyak lagi jenis buah lainnya.

BACA JUGA :  Tiga Tokoh NU Dibalik Melayat Ketua PDM Kendal

“Pemuda pertama, dia seorang yang dikenal cerdas, jujur, kreatif dan punya integritas moral tinggi, selalu tepat menjaga amanah, dengan mantap dia memasuki kebun buah itu, dia mulai memilih dan memetik  buah-buah terbaik yang ada di kebun itu dan memenuhi karung yang dia bawa, kemudian mengikatnya dengan rapi” kata Ustadz Hamka, yang juga menantu Ustadz H. Iskhaq.

“Meski Raja tidak melihat, tapi ini adalah amanat, aku harus menjalankannya dengan sebaik-baiknya” begitu yang terbetik dalam fikiran pemuda jujur.

“Pemuda kedua, sebenarnya juga seorang yang pintar, tapi dia agak malas berkreasi, dia hanya menjalankan jabatannya sebagai bawahan asal sudah dapat menjalankan perintah sang raja saja. Dia melangkah santai memasuki kebun itu, tapi dia mengambil buah-buahan disitu sekenanya saja, dia tidak memilih buah-buah terbaik, bahkan buah setengah busuk yang jatuh dibawah pohonpun dia masukkan ke karungnya” ungkapnya dalam kisah tersebut.

“Yang penting aku sudah menjalankan perinah raja, toh raja tidak tau, apa isi karung ini” begitu gumannya.

“Menteri ketiga, adalah yang “terparah” dari tiga menteri tersebut, meski dia sebenarnya pintar, tapi dia punya sifat culas, tidak jujur dan malas. Tapi karena sudah menjadi perintah raja, dengan terpaksa dia memasuki kebun buah itu. Namun berbeda dengan dua temannya yang memasukkan buah-buahan ke karungnya, menteri ketiga ini justru memasukkan rumput dan daun-daun kering ke dalam karungnya” lanjut ustadz Hamka.

“Ngapain capek-capek mengangkat buah, kan berat, kalo ku isi daun-daun kering ini kan jadinya ringan dan nggak capek, masa menteri disuruh ngangkat karung berat-berat, ada-ada saja ” begitu gumannya dalam hati dengan rasa angkuh.

Ketiga pemuda itu sudah mengisi dan mengikat karung mereka masing-masing, merekapun segera menghadap raja yang masih didampingi oleh penghulu wazir,

BACA JUGA :  Egg Roll Mocaf, Produk Namira NA Sukorejo Dibongkar Sandiaga Uno

“Paduka raja yang mulia, kami telah menjalankan perintah paduka, kami siap menunggu perintah paduka selanjutnya” kata menteri pertama, sementara dua menteri lainnya hanya mengikuti,

“Baiklah, terima kasih menteriku, kalian tidak usah khawatir, aku tidak akan membuka isi karung kalian, dan memang aku tidak perlu tau isi karung kalian” jawab sang raja, menteri kedua dan menteri ketiga merasa lega.

Ustadz Hamka yang baru selesai studi lanjut di Madinah, melanjutkan kisahnya, Sang Raja memerintahkan kepada menteri senior agar mempersiapkan tiga kamar untuk ketiga menteri yang muda tersebut.

“Aku sudah siapkan tiga kamar untuk kalian bertiga, semua fasilitas kami sediakan, kecuali makanan” ucap sang raja.

“Kalian akan berada di kamar masing-masing selama tiga hari. Di dalam kamar tidak ada makanan, karena kalian sudah membawa apa yang ada dalam karung kalian masing-masing” imbuh Sang Raja.

Hari pertama ketiga pemuda itu dalam “kurungan”, masih berjalan normal-normal saja, mereka dapat menikmati fasilitas yang ada di kamar itu. Meski demikian dari ketiga pemuda itu melakukan aktifitas yang berbeda-beda di kamar mereka masing-masing

Pemuda pertama lebih suka mengisinya dengan membaca buku-buku yang memang sudah di sediakan di kamar itu, dan jika merasa lapar ia makan buah-buahan yang dibawanya dalam karung. Pemuda kedua hanya bisa makan buah-buahan seadanya, sedangkan pemuda ketika hanya bisa makan rumput menteri kedua lebih suka tidur-tiduran di tempat tidur mewah, sementara menteri ketiga asyik menari sambil bernyanyi-nyanyi menikmati kemewahan kamar yang tanpa disadarinya sejatinya sedang jadi “kamar tahanan” baginya.

Ustadz Hamka menyampaikan hikmah dari kisah tersebut.

“Jika kita diberi amanah, tugas atau pekerjaan oleh siapapun, termasuk atasan, maka laksanakan dengan sebaik-baiknya, jangan bohong, culas, dan berkhianat, meskipun atasan tidak mengetahui, tetapi Allah melihat apa yang kita kerjakan” katanya.

BACA JUGA :  Wujud Gotong Royong, Warga Kerja Bakti Cor Gedung MI Muhammadiyah Gempolsewu Sampai Larut Malam

“Apa yang kita kerjalakan selama berada di dunia, pada hakekatnya akan kembali pada diri kita masing-masing, karena dinilai dan dibalas oleh Allah SWT” tutup Hamka. (aries)