Ustadz Khaerul Anwar ; Soal Wabah, Mari Belajar Dari Nabi Ayyub

0
1 views
Ustadz Khaerul Anwar

KENDALMU.COM | KENDAL. Allah menurunkan seluruh Nabi dan Rasul dengan tugas utamanya adalah menerima wahyu dari Allah SWT untuk disampaikan kepada umatnya. Ketika kita mendapat ujian saat ini dengan didatangkannya wabah virus corona, maka kita perlu mengingat kepada salah satu Nabi, utusan Allah yang bernama Ayyub Alahis Salam.

Demikian kata pembuka dari Ustadz Khaerul Anwar saat menyampaikan ceramah bertajuk ‘Hikmah Senja’ yang disampaikan secera online lewat youtube di canel mpi pdm kendal Rabu (29/4).

Beliau mengisahkan tentang penderitaan yang menimpa pada diri Nabi Ayyub AS dengan penyakit cacar yang menahun.

“Nabi Ayyub ‘alaihissalam mendapatkan ujian yang sangat berat. Hartanya habis semuanya, anak-anak beliau meninggal dan badan beliau digrogoti penyakit yang sangat parah. Dibalik ini semua beliau menunjukkan kualitas tauhid yang tinggi dengan bersabar dan tidak mengeluh sedikit pun” ungkap Ustadz Khaerul Anwar.

“Dengan enyakit itu, sebagian dari keluarga Nabi Ayyub telah meninggalkan dirinya, dan orang-orang disekitar rumah beliau juga ikut meninggalkannya” imbuhnya. Dalam keterasingan itu, lanjutnya, Nabi Ayyub beribadah sendiri dirumah, bermunajat kepada Allah sendirian dan mencukupi kebutuhannya sendirian.

“Dengan istilah sekarang disebut physical distancing” ujarnya sambil mengutip ayat Al qur’an

“Dan (ingatlah kisah) Ayyub, ketika dia berdo’a kepada Tuhannya, “(Ya Tuhanku), sungguh, aku telah ditimpa penykit, padahal Engkau Tuhan Yang Maha Penyayang dari semua yang penyayang.”

Ustadz Khaerul Anwar menceriterakan bagaimana proses kesembuhan Nabi Ayyub. Beliau sembuh dari penyakit cacar karena minum dan mandi dari mata air yang muncul dari sekali atau dua kali hentakan kaki beliau.

“Hantamkanlah kakimu; inilah air yang sejuk untuk mandi dan untuk minum”. [Shad: 42]

BACA JUGA :  Menakar Kepedulian Muhammadiyah Terhadap Seni dan Budaya (Refleksi Sillaturrahmi LSBO PP Muhammadiyah di Kendal)

“Disinilah sebuah gambaran, Allah mengabulkan permintaan dan permohonan hambanya.Allah tau isi hatinya walaupun tidak terucap oleh banyak orang, walaupun tidak terdengar oleh orang disampingnya. Tapi karena Nabi Ayyub menyampaikan dalam hatinya.

 رَبَّهُۥٓ أَنِّى مَسَّنِىَ ٱلضُّرُّ وَأَنتَ أَرۡحَمُ ٱلرَّٰحِمِينَ

 “kami mendapatkan ujian tapi kami yakin Engkaulah Dzat Maha Pengasih dan maha penyayang, dan engkaulah dzat yang paling menyayangi daripada hamba-hambanya” imbuhnya lagi.

Karena Nabi Ayyub mampu dan kuat dalam menerima cobaan, kemudian Allah memberikan tiga karunia.

“Allah memberikan kesembuhan dari penyakitnya, hilang wabahnya, ke dua Allah kembalikan keluarganya, dan Allah tambahkan jumlah keluarganya” katanya.

Beliau menegaskan, melihat kondisi seperti sekarang, shalat di rumah, shalat jum’ah sementara ditiadakan, diganti dengan sholat dhuhur, sholat tarawih cukup di rumah bersama keluarga.

“Ini bukan hukuman dari Allah, melainkan peringatan. Sebagai orang yang mengabdi kepada Allah SWT, Nabi Ayyub sudah melaksanakan perintah-perintah Allah SWT ketika diuji beliau sabar, tetap semangat ikhtiar, senantiasa bermunajat kepada Allah SWT merupakan etos kerja bagi orang yang ‘aabid” jelasnya.

Semangat orang yang rajin beribadah, lanjutnya, tidak hanya terbentuk ketika di masjid saja, bukan karena tradisi, akan tetapi terbentuk karena keyakinan dan kepribadian.

Sebagaimana orang berpuasa karena Allah dalam QS Al-Baqarah ayat 183, supaya kamu sekalian bertaqwa kepada Allah, waspada kepada apa yang Allah hadapkan didunia ini, dan apa yang Allah berikan kepada kita harus perhitungkan. Sebagaimana sabda Rasul :

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

“Barang siapa yang penuh dengan keimanan, penuh dengan perhitungan (ada yang mengartikan ilmu)”.

Di bagian akhir Ustadz Khaerul Anwar mengingatkan, bahwa puasa tidak hanya dilaksanakan dengan landasan  keyakinan dan keimanan, akan tetapi juga dengan ilmu.

BACA JUGA :  INFAQ DENGAN IKHLAS

“Kenapa kita menahan lapar dan haus serta hal-hal yang membatalkan puasa dimulai sejak imsya’, dan kenapa kita harus berbuka ketika maghrib tiba. Inilah yang kita sebut dengan puasa dengan berilmu” ujarnya. Dapat diambil pelajaran dari Nabi Ayyub as, seorang yang beribadah akan diuji, meski kita bukan nabi bukan rasul, tapi kita diuji lebih ringan dari beliau.

“Mari kita kembali suci di bulan ramadhan ini, betul-betul kita bersihkan hati, dan pandangan. Kita. bersihkan otak kita dengan ayat-ayat Allah dengan ilmu dengan iman serta amal yang di ridhai Allah SWT” pungkasnya. (galuh)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here