Ustadz Zabidi Ungkap Dibalik Karakteristik Ibadurrahman

0
13 views

KENDALMU.COM | RINGINARUM. Kata ibadurrahman terdiri dari dua kata,  yaitu Ibad dan arrahman. Ibad artinya hamba, dalam Al-qur’an biasa ditunjukkan untuk orang-orang yang beriman, orang-orang yang ta’at kepada perintah Allah dan rasulnya. Sedangkan arrahman artinya yang maha pengasih. Jadi, ibadurrahman adalah hamba Allah yang diberi kemulian oleh Allah sebagai hamba yang maha penyayang.

Demikian kata Ustadz Mohammad Zabidi ketika mengawali pengajian Ahad pagi (5/8) di Masjid Al Ittiba’ Caruban, Ringinarum.

Karakteristik ibadurrahman, kata Zabidi termaktub dalam Al qur’an Surat Al furqon ayat 63, ‘Adapun hamba-hamba Tuhan Yang Maha Pengasih itu adalah orang-orang yang berjalan di bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang bodoh menyapa mereka (dengan kata-kata yang menghina), mereka mengucapkan “salam,”

Siapakah sesungguhnya ‘Ibadurrahman itu? Apa saja ciri-ciri serta karakter yang melekat kepadanya?

“Mereka yang hidup di tengah-tengah masyarakat tidak sombong, meskipun kaya, berpangkat dan pandai, cerdas”

Dia melanjutkan, Allah Swt. menyifati hamba-hamba-Nya yang disebut ‘Ibadurrahman– yang tulus, ikhlas dalam menjalani hidup ini penuh pengabdian kepada Allah dan kepada manusia, serta layak mendapat pahala yang besar di sisi-Nya, mendapat posisi yang tinggi lagi mulia.

“Ibadurrahman adalah orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati. Yaitu orang yang, meski berkelimpahan materi, berkedudukan tinggi, berilmu mumpuni, hidup penuh prestasi, tetapi kakinya tetap menginjak bumi, tidak tinggi hati, tidak berbangga diri, serta penuh empati” bebernya.

Menurut Ustadz Zabidi, jika orang-orang bodoh menyapa mereka (dengan kata-kata yang menghina), mereka mengucapkan salam, artinya membalasnya dengan kebaikan, memaafkan, tidak marah dan tidak membalasnya dengan kata-kata yang menyakitkan.

Rasulullah sebelum meninggal, ungkap Sang Ustadz tiap pagi pergi ke sudut pasar untuk menemui pengemis Yahud yang buta mata.

BACA JUGA :  Khafidh Sirotudin: Perempuan Muhammadiyah Harus Berani Tampil

Hari demi hari dia selalu mengatakan hal buruk tentang Rasulullah SAW. “Wahai saudaraku, jangan kau dekati Muhammad. Dia itu gila, dia itu pembohong, dia itu tukang sihir! Jika kalian mendekatinya, kalian akan dipengaruhi olehnya,” kata pengemis itu.

Padahal, setiap pagi Rasulullah SAW mendatanginya dengan membawa makanan. Tanpa sepatah apa pun Rasulullah SAW menyuapinya sembari mendengarkan pengemis itu berpesan untuk menjauhi orang yang bernama Muhammad. Rasulullah SAW terus melakukannya hingga beliau wafat. Sepeninggalan Rasulullah SAW, tidak ada lagi yang memberikan makanan ke pengemis Yahudi buta tersebut.

Suatu ketika sahabat Rasulullah SAW Abu Bakar berkunjung ke rumah anaknya, Aisyah. Beliau bertanya kepada anaknya, “Anakku, adakah sunnah kekasihku yang belum aku kerjakan?”

“Wahai ayah, engkau adalah seorang ahli sunah hampir tidak ada satu sunah pun yang belum ayah lakukan, kecuali satu sunah saja,” jawab Aisyah kepada ayahnya.

“Apakah itu?” tanya Abu Bakar lagi.

“Setiap pagi Rasulullah SAW selalu pergi ke ujung pasar dengan membawakan makanan untuk seorang pengemis Yahudi buta yang berada di sana,” ujar Aisyah.

Keesokan harinya Abu Bakar pergi ke pasar dengan membawa makanan untuk diberikannya kepada pengemis Yahudi buta. Abu Bakar mendatangi pengemis tersebut dan memberikan makanan itu kepadanya.

Ketika Abu Bakar mulai menyuapinya, si pengemis marah sambil berteriak, “Siapakah kamu?” Abu Bakar menjawab, “Aku adalah orang yang biasa.”

“Bukan! Engkau bukan orang yang biasa mendatangiku,” jawab si pengemis buta itu.

“Apabila dia datang kepadaku, tidak susah tangan ini memegang dan tidak susah mulut ini mengunyah. Orang yang biasa mendatangiku itu selalu menyuapiku, tapi terlebih dahulu dihaluskannya makanan tersebut dengan mulutnya, setelah itu dia berikan padaku dengan mulutnya sendiri, pengemis itu melanjutkan perkataannya.

BACA JUGA :  KB Bahrul Ulum Truko Tempati Gedung Baru

”Abu Bakar tidak dapat menahan air matanya. Sambil menangis dia berkata kepada pengemis itu, “Aku memang bukan orang yang biasa datang kepadamu. Aku adalah salah seorang dari sahabatnya, orang yang mulia itu telah tiada. Dia adalah Muhammad Rasulullah SAW.”

Setelah pengemis itu mendengar cerita Abu Bakar, dia pun menangis dan kemudian berkata, “Benarkah demikian? Selama ini aku selalu menghinanya, memfitnahnya, dia tidak pernah memarahiku sedikit pun. Dia mendatangiku dengan membawa makanan setiap pagi, dia begitu mulia.” Pengemis Yahudi buta tersebut akhirnya bersyahadat di hadapan Abu Bakar.

Dibagian akhir ustadz Zabidi berpesan kepada jamaah pengajian untuk senantiasa memiliki pribadi-pribadi ibadurrahman sebagaimana yang tercantum dalal Al qur’an. (fur)