Warga Muhammadiyah Tidak Mengikuti Madzhab ‘Maremiyah’

0
0 views
Sekretaris Divisi Kaderisasi dan Organisasi Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah (KH Ruslan Fariadi) saat menyampaikan pengajian bertajuk 'Membangun Kesadaran Beribadah sesuai Tuntunan Rasulullah' yang diselenggarakan oleh Majleis Tarjih PDM Kendal bekerja sama dengan Majelis Tabligh dan Lazismu (foto dok. gofur)

KENDALMU.COM | WELERI. Budaya masyarakat muslim sampai saat ini masih mengikuti terhadap suatu tertentu, yaitu madzhab ‘maremiyah’. Faham itu kesannya seperti bahasa Arab, istilah Islam, karena menggunakan kata ‘miyah’. Madzhab maremiyah sebenarnya bahasa jawa yang artinya, marem atau puas, sebuah madzhab yang digunakan dalam mempratekkan ajaran Islam, seperti menjalankan ibadah.

Demikin dikatakan oleh Sekretaris Divisi Kaderisasi dan Organisasi Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah, KH Ruslan Fariadi saat menyampaikan pengajian bertajuk ‘Membangun Kesadaran Beribadah Sesuai Dengan Tuntunan Rasulullah’ yang diselenggarakan oleh Majelis Tabligh PD Muhammadiyah Kendal bekerja sama dengan Majelis Tarjih dan Tajdid dan Lazismu Daerah Kendal. Kegiatan tersebut berlangsung Ahad (2/2) di Masjid Al Huda, Penaruban, Weleri.

Lebih lanjut KH Ruslan mengatakan, dalam dinamika madzhab Maremiyah memiliki dasar ‘pokoke’ dan ‘jarene’.

“Maremiyah dilakukan semata-mata untuk memperoleh kepuasan diri.Jika pengikut faham Marmiyah diajak dialog dan diskusi ditanya, kenapa wudhu dan sholatnya seperti itu, yang benar sesuai tuntunan Rasulullah seperti ini. Mereka menggunakan dua dalil yaitu pokoke marem wudhu seperti itu. Dan jika dalil pokoke tidak keluar, dalil andalan kedua disampaikan, ‘jarene’ mbah seperti itu” ungkapnya.

Majelis Tarjih menurut beliau adalah sebagai salah satu wadah untuk melakukan fatwa dan putusan hukum.

“Tarjih itu memiliki pengembangan makna menjadi majelis untuk memutuskan hukum atau istimbat hukum, di dalamnya ada urusan ibadah mahdhoh, aqidah, muamalah duniawiyah, persoalan moderen atau kontemporer” jelas KH. Ruslan.

Dalam hal urusan muamalah, Majelis Tarjih memadukan tiga hal langsung sebagai satu kesatuan.

“Jika sudah ditemukan dalil Qur’ani, bayani, dilanjutkan dalil burhani, ilmiah, teknologi. Tidak cukup dilanjut dengan dalil ihsani, yaitu dalil yang berkemanusiaan dan berkemajuan” katanya mengutip ayat Alqur’an Surat Al Baqarah ayat 233 tentang proses donor Air Susu Ibu (ASI).

BACA JUGA :  Peduli Musibah Kebakaran Rumah Di Purworejo, PDA Kendal Bantu Para Korban
foto dok. ghofur

Beliau melanjutkan, persoalan ibadah terbagi menjadi dua, yaitu ibadah aam, segala sesuatu perbuatan yang baik menurut pandangan agama mendapat ridho Allah, dan ibadah khos.

“Keluar rumah untuk mencari nafkah yang halal, bismillah, insyaAllah nafkah keluarga bernilai ibadah” kata  KH. Ruslan Fariadi memberi contoh ibadah aam mengutip pendapat ulama’ klasik ‘Betapa banyak perbuatan yang kita anggap duniawi, tetapi dinilai oleh Allah berpahala karena niatnya yang tulus’.

“Itulah bedanya orang Islam dengan lainnya, sama-sama menafkahi keluarga, tetapi karena kita niati dengan ibadah dan ridho Allah kita dapat pahala”

Sedangkan ketua Majelis Tarjih dan Tajdid PDM Kendal, KH. Mahtum Ali Samhari mengatakan, bahwa yang dinamakan ilmu terbagi nenjadi tiga, yakni ilmu pasti.

“Lima kali lima sama dengan duapuluh lima. Itu pasti” kata Mahtum.

“Tidak mungkin dalam persoalan ilmu pasti muncul pertanyaan 4 X 5 menurut Muhammadiyah ada berapa?”

Ilmu pasti itu menurut beliau bisa diawali dengan kesalahan pendapat, tetapi setelah ditunjukkan kebenaran, yang salah bisa menerima kebenaran dengan legowo.

Yang kedua ilmu berdasarkan teori. Ustadz Mahtum menjelaskan, ketika terjadi kesalahan dalam teori maka bisa diulang kembali.

“Yang ketiga adalah ilmu yang berdasarkan sejarah, berita dari orang ke orang” lanjutnya.

Beliau menerangkan, bahwa agama Islam yang datang kepada kita berdasarkan sejarah, termasuk kita tahu bagaimana caranya kita sholat itu berdasarkan yang diajarkan oleh pendahulu sebelum kita sampai turun temurun.

“Sejarah bukan sebuah kepastian dan kalau terjadi kesalahan susah untuk diulang kembali” ujarnya.

Menurutnya, Islam datang dengan sejarah, maka sangat rawan terjadi beda  pendapat.Beliau menyarankan, jangan heran soal ibadah sesama Islam terjadi beda tata caranya.

“Jika terjadi perbedaan kita usahakan dikompromikan.Jika tidak bisa kita saling menghormati perbedaan itu,  ikuti dalil yang terkuat” katanya (fur)

BACA JUGA :  Komplek PDM Dan Puluhan Masjid/Musholla Disemprot Desinfektan Oleh Relawan MCC

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here