Wisuda Ke 10 Program Diploma 1 Pendidikan Kemuhammadiyahan, Rektor Umsida Beberkan Islam Wasathiyah

0
20 views
ISLAM WASATHIYAH. Rektor UMSIDA, Dr. H. Hidayatullah, M.Si menyampaikan konsep Islam Wasathiyah dihadapan wisudawan Program Diploma 1 Pendidikan Kemuhammadiyahan (foto dok joe)

KENDALMU.COM | KENDAL. Rektor Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida) Jawa Timur, DR Hidayatullah, M.Si membeberkan konsep Islam Wasathiyah yang digagas oleh Ketua Umum PP Muhammadiyah periode 2005-2010 dan 2010-2015, Prof. K.H. Muhammad Sirajuddin Syamsuddin, M.A., Ph.D.

Penjelasan tujuh aspek yang masuk dalam konsep Islam Wasathiyah itu disampaikan usai mewisuda 175 mahasiswa Program Diploma 1 Pendidikan Kemuhammadiyahan kemarin Senin (5/4) di Hotel Sae Inn.

Hidayatullah menjelaskan satu persatu konsep Islam Wasathiyah, yakni Al-I’tidal, yang artinya adil, tidak memihak kepada siapapun. Sebagaimana dalam sholat, I’tidal itu posisinya lurus yang tidak condong ke manapun.

Aspek ke dua, kata Hidayatullah adalah At tawazun, menjaga keseimbangan, berada di jalan yang lurus dan menjaga keseimbangan antara yang di kanan dan yang di kiri.

“At Tawazun dalam kehidupan kita sering kena tarikan-tarikan ke kanan dan ke kiri, maka pastikan kita ini punya prinsip yang benar sehingga kita tetep mampu memposisikan diri berada di tengah-tengah yang tidak larut dalam tarikan-tarikan tersebut dalam persoalan apapun” tegas Hidayatullah.

Dalam persoalan ideologi agama atau ideologi politik, ekonomi atau lainnya, kata Hidayatullah tawazun, menjaga keseimbangan, dan ini implikasinya banyak sikap yang ditimbulkan oleh Muhammadiyah.

Yang ketiga, lanjutnya at-Tasamuh yang berarti rasa saling menghargai dan menghormati antara satu dengan yang lainnya.

“At Tasamuh itu tidak mudah memaksakan orang lain, dan tidak mudah menyalahkan orang lain, tetapi menghargai perbedaan “ ujarnya.

Di lingkungan Muhammadiyah, lanjut dia pasti ada perbedaan, tetapi bagaimana kita menghargai perbedaan itu untuk bersama-sama mengajak kembali kepada formula yang telah diputuskan oleh Muhammadiyah.

“Jadi dalam urusan ibadah di tengah Covid ini di Muhammadiyah banyak macamnya, ada yang mengikuti keputusan PP Muhammadiyah, panduan pelaksanaan ibadah pada masa pandemi Covid, tetapi  ada yang tidak mau” ungkap Wakil Ketua Majelis Dikdasmen PWM Jatim.

BACA JUGA :  Melihat Pelaksanaan PTS di SMK Muga Dengan Aplikasi Edmodo

“Jadi hal seperti itu bagi alumni D1 Kemuhammadiyahan sudah selesai” imbuhnya

Menurutnya, PP Muhammadiyah ketika memutuskan suatu masalah, apalagi menyangkut persoalan agama pasti sangat serius dan hati-hati.

Diingatkan, Majelis Tarjih Muhammadiyah dalam menghadapi persoalan agama melibatkan para ahli dan kita menghormati hasil keputusan itu.

“Tetapi sebagai pimpinan harusnya tidak boleh membuat kebijakan yang diluar keputusan persyarikatan di atasnya, tetapi jika mereka bukan pimpinan kita dimaklumi”

Sifat tasamuh menurutnya sangat penting bagi kita untuk memberikan pencerahan yang tidak pernah selesai dalam kehidupan keagamaan dan sosial kemasyarakatan.

Ke empat dari Islam Wasathiyah yakni As-Syura, musyawarah untuk sepakat, konsensus.

“Di Muhammadiyah pasti mengedepankan musyawarah. Di dalam musyawarah jangan sampai terpengaruh dengan dinamika politik yang berkembang dan masuk ke lembaga atau AUM” kata Hidayatullah.

Jika politik sudah masuk ke Amal Usaha Muhammadiyah, katanya permainan politiknya tidak sehat bisa berdampak pada masalah yang tidak segera selesai.

“Akhirnya terjadi konflik antara pimpinan dan rektor, BPH dengan rektor dan sebagainya, maka persoalan syura sangat penting” ungkapnya.

Ke lima Al Islah bi makna reformatif dan rekontruksi untuk menyelesaikan gesekan-gesekan, perpecahan di Muhammadiyah dan di luar Muhammadiyah.

“Kita punya kewajiban untuk mewujudkan karakteristik Islam wasathiyah, islah. Harus berani tampil mencoba untuk melakukan reformatif perubahan rekontruksi. Bagaimana bangunan yang sebelumnya baik sekarang agak goyah kita kembalikan menjadi semakin bagus dan kokoh” ujarnya.

Permasalahan di Muhammadiyah dinilai olehnya sebagai bagian dari dinamika yang kita hadapi, tetapi harus dicari solusinya.

“Muhammadiyah semakin diurus semakin banyak yang diketahui masalahnya. Itulah ciri Muhammadiyah yang berpandangan berkemajuan” katanya. Apabila kita tidak mengurusi Muhammadiyah, lanjutnya maka akan statis bahkan mengalami kemunduran.

BACA JUGA :  Tim SMK Muhammadiyah 2 Boja Sabet Juara 2 di Ajang KKSI Tingkat Nasional

“Kalau kita ingin memajukan Muhammadiyah, ayo diurus dengan serius dan ketika kita mengurus Muhammadiyah pasti banyak menemukan masalah untuk kita cari solusinya” pintanya.

Kemudian, aspek yang keenam yaitu Al-Qudwah, memiliki inisiatif yang mulia dan mampu memimpikannya.

“Jadi tidak sekedar usul, karena usul bukan Islam Wasathiyah, tetapi mampu sampai memperjuangkan, memimpikan kemulyaan yang dikemukakan”  katanya mengutip kisah KH Dahlan dalam memunculkan gagasan-gagasan yang luar biasa sekaligus tanggap, tidak sekedar wacana. Maka Muhammadiyah filosofinya ‘banyak kerja dari pada bicara’.

“Bangunlah inisiatif, inovasi-inovasi baru di tempat kita masing-masing, dan pastikan kita ada di dalam bagian dari pihak-pihak yang mewujudkan inovasi-inavosi itu” harapnya.

Bagian terakhir dari Islam Wasathiyah adalah muwathonah, bagian dari kehidupan kebangsaan kita.

“Muhamamdiyah menegaskan, konsep darul ahdi wa syahadah, negara Pancasila merupakan hasil konsensus nasional (dar al-‘ahdi) dan tempat pembuktian atau kesaksian (dar al-syahadah) untuk menjadi negeri yang aman dan damai (dar al-salam)” kata Hidayatullah.

Negara Pancasila, kata dia menjadi tantangan dan Muhamamdiyah memandang hal itu sudah selesai dan tidak perlu didebatkan lagi.

“Konsep darul ahdi wa syahadah kita juga harus ikut bersama-sama menterjemahkan dalam kehidupan kita di tempat kita masing-masing, keluarga, dan lembaga di mana kita berada” ujarnya.

Acara wisuda ke 10 berlangsung khidmad dan lancar. Turut hadir pula Wakil Sekretaris PDM Kendal, Moh Antono dan jajaran Majelis dan Lembaga PDM Kendal. (fur)